DBD Mengancam Semua Usia, Anak 5-14 Tahun Masih Terbanyak

CNN Indonesia

CNN Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menegaskan diri sebagai krisis kesehatan yang tidak pilih-pilih umur. Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan kematian DBD masih paling banyak menimpa anak usia 5-14 tahun, tetapi ancaman kini nyata bagi orang dewasa.

Selama bertahun-tahun, DBD sering dipahami sebagai “penyakit anak” karena banyak kasus berat muncul pada usia sekolah. Narasi itu membuat keluarga waspada pada anak, tetapi kerap melonggarkan kewaspadaan pada remaja dan orang dewasa.

Padahal penularannya tidak berubah, yakni melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang hidup dekat manusia. Yang berubah adalah pola paparan, mobilitas, dan kerentanan yang makin merata di berbagai kelompok usia.

Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menegaskan gambaran yang paradoks. DBD disebut makin mengancam semua usia, tetapi kematian tetap paling banyak pada anak 5-14 tahun dalam tujuh tahun terakhir.

Menurut data Kementerian Kesehatan, kelompok usia 5-14 tahun menyumbang 41 persen dari total kematian akibat DBD pada 2025. Angka ini menandai bahwa kelompok usia sekolah masih menjadi episentrum fatalitas dengue.

Angka 41 persen bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahwa pencegahan di ruang yang paling sering dihuni anak belum cukup kuat. Sekolah, rumah, dan lingkungan padat penduduk tetap menjadi titik rawan perkembangbiakan Aedes.

Di saat yang sama, pernyataan bahwa DBD kini mengancam seluruh usia perlu dibaca sebagai pergeseran risiko, bukan penggantian korban utama. Orang dewasa bisa lebih sering terpapar karena mobilitas tinggi, jam kerja panjang, dan aktivitas luar ruang yang memperluas peluang gigitan.

DBD juga kerap terlambat dikenali pada orang dewasa karena gejalanya dianggap “demam biasa” atau kelelahan kerja. Keterlambatan ini memperbesar risiko perburukan, terutama bila akses pemeriksaan dan pemantauan trombosit tidak segera dilakukan.

Namun, mengapa anak tetap paling banyak meninggal. Salah satu jawabannya ada pada kombinasi daya tahan tubuh, keterlambatan penanganan, dan kepadatan paparan di lingkungan tempat anak beraktivitas.

Ketika satu rumah atau satu kelas menjadi “habitat” nyamuk, anak-anak menjadi kelompok yang paling lama berada di titik paparan. Mereka juga lebih sulit mengelola gejala awal, sehingga keputusan membawa ke fasilitas kesehatan sering menunggu kondisi memburuk.

Fakta ini memperlihatkan bahwa strategi pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan imbauan umum. Pengendalian sarang nyamuk, penguatan surveilans, dan edukasi tanda bahaya harus dipasang pada ruang hidup sehari-hari, bukan hanya saat kasus melonjak.

Masalah terbesar DBD di Indonesia bukan semata virus dengue, melainkan kebiasaan kita menormalisasi siklus tahunan. Kita bertindak ketika rumah sakit penuh, lalu kembali lupa ketika kurva menurun.

Ketika publik mendengar “DBD mengancam semua usia”, pesan itu seharusnya tidak membuat perhatian pada anak melemah. Pesan itu justru menuntut kewaspadaan ganda, yakni melindungi anak yang paling rentan sekaligus menutup celah risiko pada orang dewasa.

Data kematian yang dominan pada usia 5-14 tahun adalah kritik terhadap efektivitas perlindungan di level komunitas. Jika 41 persen kematian masih menimpa anak, maka rantai pencegahan dari rumah ke sekolah belum bekerja disiplin.

Kebijakan juga perlu lebih berani meninggalkan pendekatan seremonial seperti fogging yang sering dipahami sebagai solusi tunggal. Fogging hanya memukul nyamuk dewasa sesaat, sedangkan sumber masalahnya sering bertahan di genangan kecil yang tidak terlihat.

DBD adalah penyakit yang menuntut ketekunan, bukan kepanikan. Ia menguji konsistensi warga, ketegasan pemerintah daerah, dan ketelitian layanan kesehatan dalam mendeteksi dini kasus berisiko.

DBD hari ini tidak lagi nyaman ditempatkan sebagai “urusan anak-anak”, meski data menunjukkan anak usia 5-14 tahun masih paling banyak meninggal. Justru karena ancaman meluas, pencegahan harus lebih presisi dan lebih disiplin di rumah, sekolah, dan tempat kerja.

Jika 41 persen kematian pada 2025 terjadi pada usia sekolah, pertanyaannya sederhana dan menohok. Berapa banyak keputusan kecil yang kita tunda, dari menguras bak sampai membawa anak demam untuk diperiksa, sebelum statistik itu berubah.

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Juni 2026)