Hak Asuh Ruben Onsu: Quality Time Anak Jadi Sengketa
ORBITINDONESIA.COM – Hak asuh Ruben Onsu kembali jadi sorotan setelah pertemuan singkat dengan anak di bandara dinilai belum memenuhi kesepakatan pascaperceraian dengan Sarwendah. Kuasa hukum Ruben menegaskan yang dicari bukan momen simbolik, melainkan quality time anak yang nyata dan rutin.
Perselisihan pascaperceraian Ruben Onsu dan Sarwendah kini mengerucut pada realisasi waktu pertemuan anak. Momen bertemu di bandara sebelum Ruben berangkat umrah memang terjadi, tetapi dianggap hanya sebatas formalitas.
Kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, menyebut kliennya meminta waktu berkumpul dua sampai tiga hari dalam seminggu. Ia menekankan pertemuan beberapa menit di ruang publik tidak setara dengan relasi pengasuhan yang utuh.
Menurut pihak Ruben, kesepakatan pascacerai memuat jadwal yang fleksibel dan semestinya dapat dibicarakan tanpa alasan yang mempersulit. Karena itu, tuntutan mereka bukan penambahan hak baru, melainkan penagihan janji yang sudah disepakati.
Pertemuan di bandara memunculkan paradoks klasik sengketa hak asuh: terlihat ada akses, tetapi akses itu tidak substantif. Dalam praktiknya, relasi orang tua-anak tidak dibangun oleh “salam dan foto”, melainkan oleh rutinitas yang memberi ruang percakapan, perhatian, dan kelekatan emosional.
Minola menyebutkan Ruben menginginkan “quality time yang sesungguhnya” dengan Thalia dan Thania selama dua hingga tiga hari per minggu. Kutipan itu menggeser perdebatan dari kuantitas menit menjadi kualitas keterlibatan, yang sering luput dalam sengketa pascacerai.
Di banyak perkara keluarga, konflik sering bukan soal putusan atau kesepakatan di atas kertas, melainkan eksekusinya di lapangan. Hak akses yang “fleksibel” justru rawan jadi ruang tarik-menarik, karena fleksibilitas bisa berubah menjadi penundaan tanpa batas.
Dalam kacamata kepentingan terbaik anak, keteraturan lebih menenangkan daripada kejutan pertemuan sesekali. Anak memerlukan pola yang dapat diprediksi agar merasa aman, terutama ketika struktur keluarga berubah pascaperceraian.
Kasus Ruben dan Sarwendah juga menunjukkan bagaimana ruang publik mengaburkan persoalan privat. Ketika pertemuan terjadi di bandara dan menjadi konsumsi publik, yang tersisa sering hanya narasi “sudah bertemu”, bukan evaluasi apakah kebutuhan emosional anak terpenuhi.
Pihak Ruben menyatakan tetap menghargai pertemuan sebelum umrah, tetapi menolak menjadikannya standar baru. Penolakan itu penting, karena standar yang diturunkan akan memengaruhi ekspektasi anak dan legitimasi sosial terhadap minimnya keterlibatan orang tua.
Kalimat Minola, “Ruben itu ayah kandung, lho. Bukan orang asing,” terdengar tajam karena menyentuh inti masalah: pengasuhan bukan sekadar status hukum, melainkan kehadiran yang konsisten. Jika ayah hanya mendapat ruang singkat, anak berisiko memaknai ayah sebagai figur episodik, bukan bagian stabil dari hidupnya.
Namun publik juga perlu hati-hati agar tidak menyederhanakan sengketa menjadi siapa yang “baik” dan siapa yang “menghalangi”. Sengketa hak asuh sering kompleks, karena ada jadwal sekolah, aktivitas anak, dinamika rumah, dan beban emosional yang tidak selalu tampak dari luar.
Yang patut dikritisi adalah kecenderungan menjadikan fleksibilitas sebagai dalih untuk tidak membuat mekanisme yang jelas. Jika benar kesepakatan mengarah pada dua hingga tiga hari per minggu, maka yang dibutuhkan adalah kalender yang terukur, titik temu yang aman, dan protokol komunikasi yang disiplin.
Pertemuan yang direncanakan pada 11 Juli menjadi ujian apakah kedua pihak memusatkan perhatian pada kebutuhan anak, bukan ego orang dewasa. Dalam banyak kasus, mediasi yang berhasil bukan yang memenangkan salah satu pihak, melainkan yang membangun rutinitas yang bisa dipatuhi tanpa drama.
Sengketa hak asuh Ruben Onsu dan Sarwendah memperlihatkan bahwa “bertemu” tidak selalu berarti “mengasuh”. Anak membutuhkan kehadiran yang cukup lama untuk merasa didengar, bukan sekadar disapa.
Jika pertemuan 11 Juli benar-benar berorientasi pada quality time anak, maka yang lahir seharusnya bukan kompromi kosmetik, melainkan jadwal yang konkret dan manusiawi. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: apakah orang dewasa siap menurunkan tensi, agar anak tidak tumbuh di antara janji yang terus ditagih?
(Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)