Buku Self-Care untuk Grief: 25 Tools Navigasi Kehilangan

Yahoo Finance

Yahoo Finance

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Keyword “self-care untuk grief” kembali ramai karena Brave Healer Productions merilis buku baru tentang duka, transisi, dan kehilangan yang sering tak diakui. The Wellness Universe Guide to Complete Self-Care: 25 Tools for Navigating Loss, Grief & Transition dipimpin Anna Pereira dan dibuka foreword oleh Gloria Gaynor, ikon “I Will Survive.”

Di banyak budaya, grief kerap dipersempit menjadi urusan kematian, padahal kehilangan juga muncul saat relasi runtuh, karier tersendat, kesehatan menurun, atau identitas berubah. Buku ini menyorot “unresolved grief” yang bekerja diam-diam, lalu muncul sebagai lelah berkepanjangan, sinisme, atau rasa hampa yang sulit dijelaskan.

Anna Pereira menyelipkan doa yang terdengar sederhana namun tajam: semoga pembaca mampu mengenali kehilangan yang “diam-diam membentuk hidup.” Kalimat itu menempatkan duka bukan sebagai drama sesaat, melainkan jejak panjang yang bisa mengarahkan keputusan kita tanpa sadar.

Struktur buku ini berbasis kontribusi lebih dari dua lusin penulis, dengan tema dari penuaan dan sakit, adopsi dan perceraian, hingga kematian orang tua dan saudara. Ada juga bab tentang “quiet quitting,” sebuah istilah populer di dunia kerja yang mengisyaratkan kehilangan makna, bukan sekadar kehilangan pekerjaan.

Pilihan topik tersebut menunjukkan pergeseran pasar wellness: dari “motivasi positif” menuju pemetaan pengalaman hidup yang lebih kompleks dan kelam. Dalam industri penerbitan self-help, pendekatan antologi seperti ini juga efektif karena menawarkan banyak pintu masuk, sehingga pembaca bisa merasa “terwakili” lebih cepat.

Foreword Gloria Gaynor menambah bobot emosional sekaligus daya jual, karena ia mengaitkan ketenaran lagu bertahan hidup dengan luka masa kecil tanpa figur ayah. Di sini, selebritas tidak sekadar tempelan promosi, tetapi menjadi contoh bahwa resilience sering lahir dari kekosongan yang lama disembunyikan.

Namun, buku “25 tools” juga membawa risiko: grief mudah berubah menjadi daftar cek, seolah duka bisa diselesaikan dengan langkah-langkah cepat. Kutipan pujian dari Maria Alves menegaskan sisi positifnya, yakni kisah nyata dan alat praktis yang bisa menjadi “companion,” tetapi companion tetap bukan pengganti dukungan klinis ketika dibutuhkan.

Dalam praktik kesehatan mental, istilah seperti grief rumit, depresi, atau trauma memiliki batas klinis yang tidak selalu bisa dijembatani oleh panduan umum. Karena itu, kekuatan buku ini ada pada normalisasi dan bahasa, sementara keterbatasannya ada pada potensi simplifikasi jika pembaca menganggapnya sebagai terapi tunggal.

Nilai paling penting dari buku ini adalah keberaniannya menyebut kehilangan yang tidak “sah” secara sosial, seperti kehilangan mimpi, masa depan yang diharapkan, atau identitas lama. Ini penting karena banyak orang tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang berkabung atas hidup yang tidak jadi terjadi.

Di sisi lain, kita perlu kritis pada industri wellness yang kadang menjual harapan sebagai produk, lalu membuat pembaca merasa gagal bila belum “sembuh.” Pernyataan Kathleen Hala bahwa loss tidak harus mendefinisikan kita terdengar menguatkan, tetapi bisa terasa menekan bila dibaca sebagai target, bukan proses.

Yang membuat rilis ini menarik adalah titik temu antara spiritualitas, komunitas, dan bahasa praktis yang mudah dicerna. Jika dibaca dengan sadar, “tools” dapat menjadi pemantik dialog, bukan instruksi kaku, terutama bagi mereka yang baru berani mengakui dukanya sendiri.

Buku self-care untuk grief ini mengingatkan bahwa duka bukan gangguan yang harus disingkirkan, melainkan pesan tentang apa yang pernah kita cintai dan hilang. Ia bisa menjadi peta awal untuk menamai luka, lalu memilih bantuan yang tepat, dari komunitas hingga profesional.

Pertanyaan akhirnya sederhana namun menohok: kehilangan apa yang selama ini Anda anggap “bukan apa-apa,” padahal diam-diam mengatur arah hidup Anda. Jika duka adalah bagian dari menjadi manusia, mungkin keberanian terbesar adalah berhenti menyangkalnya dan mulai mendengarkannya. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)