Penyakit Tidak Menular Anak Naik, Wamenkes Dorong Hidup Sehat

SinPo.id

SinPo.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Penyakit tidak menular pada anak dan remaja kian mengkhawatirkan, dari diabetes hingga penyakit jantung. Wamenkes Dante Saksono Harbuwono menilai akar masalahnya adalah kurang aktivitas fisik, kurang tidur, serta tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak.

Pernyataan Dante memotret pergeseran risiko kesehatan yang dulu identik dengan usia dewasa, kini merangsek ke ruang kelas dan kamar tidur anak. Ketika tubuh belum selesai tumbuh, pola makan buruk dan gaya hidup sedentari menjadi “utang kesehatan” yang dibayar lebih cepat.

Di banyak keluarga, perhatian sering terkuras pada rapor dan les tambahan. Sementara itu, jam gerak anak menyusut, jam tidur berantakan, dan camilan manis menjadi pengganti energi instan.

Dante mengingatkan, kesehatan fisik dan mental adalah modal dasar untuk mengejar cita-cita. Ia menekankan, menjaga kesehatan tidak boleh menunggu “nanti” ketika gejala sudah muncul.

Secara global, WHO menyebut penyakit tidak menular menyumbang sekitar 74% kematian dunia, dan banyak faktor risikonya terbentuk sejak masa kanak-kanak. Artinya, pencegahan bukan sekadar kampanye, melainkan investasi yang menentukan beban rumah sakit dan biaya keluarga di masa depan.

Dante menyoroti kombinasi tiga pemicu yang saling menguatkan: kurang gerak, kurang tidur, dan konsumsi tinggi gula-garam-lemak. Jika tiga hal ini menjadi rutinitas, tubuh anak belajar “normal” pada pola yang sebenarnya merusak metabolisme.

Di titik ini, sekolah dan rumah menjadi medan paling menentukan. Ketika kantin menjual minuman manis dan gawai mengambil alih waktu bermain, anak kehilangan dua benteng alami: gerak dan jeda.

Dante juga mengaitkan isu ini dengan angka harapan hidup. Ia menyebut Indonesia sekitar 71 tahun, tertinggal dari Singapura 83 tahun, Jepang 84 tahun, dan Hong Kong 85 tahun.

Perbandingan itu bukan sekadar statistik, melainkan cermin kualitas pencegahan. Negara dengan harapan hidup tinggi umumnya kuat di layanan primer, literasi kesehatan, dan kontrol faktor risiko sejak dini.

Karena itu, Kementerian Kesehatan mendorong perubahan paradigma dari kuratif ke preventif dan promotif. Dante menegaskan langkah preventif harus dimulai sejak SD dan SMP, ketika kebiasaan masih mudah dibentuk.

Seruan “orang tua harus lebih peduli” benar, tetapi tidak cukup jika beban pencegahan hanya dipindahkan ke keluarga. Banyak orang tua bekerja panjang, ruang terbuka terbatas, dan makanan ultra-proses lebih murah serta lebih mudah diakses.

Bonding lewat olahraga bersama, seperti yang dianjurkan Dante, adalah strategi yang realistis dan murah. Namun ia perlu didukung ekosistem yang tidak memusuhi pilihan sehat, dari trotoar aman hingga jam belajar yang tidak menghabisi waktu tidur.

Di sisi lain, budaya mengejar prestasi akademik sering mengorbankan tubuh. Ketika anak dipaksa “produktif” tanpa cukup tidur dan aktivitas fisik, kita sedang menukar nilai ujian dengan risiko penyakit kronis.

Paradigma preventif juga menuntut keberanian regulasi, bukan hanya edukasi. Pembatasan pemasaran makanan tinggi gula untuk anak, standar kantin sekolah, dan pajak minuman berpemanis adalah contoh kebijakan yang kerap efektif di banyak negara.

Jika tidak, pesan hidup sehat akan kalah oleh iklan, tren, dan algoritma. Anak akhirnya menjadi konsumen patuh, bukan pemilik kendali atas tubuhnya sendiri.

Pesan Dante sederhana: kesehatan anak tidak boleh menjadi urusan nomor dua setelah akademik. Ketika keluarga membangun komunikasi, tidur cukup, dan aktivitas fisik rutin, pencegahan berubah dari slogan menjadi kebiasaan.

Namun pertanyaan besarnya tetap menggelitik: apakah kita berani mengubah sistem yang membuat gaya hidup tidak sehat menjadi pilihan paling mudah? Jika jawabannya ya, maka harapan hidup bukan hanya angka, melainkan janji bahwa anak-anak tumbuh dengan masa depan yang lebih panjang dan lebih bermakna. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Mei 2026)