Kepiting Tapal Kuda Ternyata Arachnida, Bukan Kepiting Laut

RRI.co.id

RRI.co.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kepiting tapal kuda dan arachnida kembali jadi perbincangan setelah studi genetika menempatkannya dekat laba-laba dan kalajengking. Temuan ini mengguncang anggapan lama bahwa kepiting tapal kuda adalah “kepiting” laut, padahal jejak evolusinya jauh lebih rumit.

Nama “kepiting” membuat publik mudah mengira hewan ini satu keluarga dengan krustasea seperti kepiting bakau atau rajungan. Namun secara ilmiah, kepiting tapal kuda berada dalam kelompok Chelicerata, payung besar yang juga menaungi arachnida.

Fosil kepiting tapal kuda tercatat muncul sekitar 450 juta tahun lalu. Ironisnya, dari sejarah sepanjang itu kini hanya empat spesies yang masih hidup.

Penelitian yang dipimpin Jesús Ballesteros dari University of Wisconsin-Madison menyusun pohon kekerabatan dari data genetik puluhan spesies. Studi yang terbit di Systematic Biology (2019) itu menunjukkan kepiting tapal kuda kerap “masuk” ke dalam arachnida pada sebagian besar analisis.

Angkanya tidak kecil, sekitar dua pertiga pohon genetik menempatkan Xiphosura—kelompok kepiting tapal kuda—di dalam garis keturunan arachnida. Ini berarti, secara genetik ia lebih dekat ke laba-laba daripada ke kepiting yang kita kenal di pasar ikan.

Namun sains jarang hitam-putih, dan data yang sama juga menyisakan celah perdebatan. Sekitar sepertiga analisis masih menaruhnya di luar arachnida, sehingga posisi pastinya belum final.

Rosa Fernández dari Centre for Genomic Regulation di Barcelona ikut mengingatkan bahwa metode analisis bisa mengubah kesimpulan. Peringatan ini penting, karena filogenetik modern sangat sensitif terhadap pemilihan model evolusi, kualitas sampel, dan bias data.

Jika kepiting tapal kuda benar-benar bagian dari arachnida, pertanyaan baru langsung muncul. Bagaimana satu garis keturunan “arachnid” justru bertahan di laut, ketika kerabat dekatnya berevolusi menguasai daratan?

Di titik ini, genetika memberi jawaban sekaligus memunculkan teka-teki. Ia memperjelas hubungan kekerabatan, tetapi memaksa kita menulis ulang narasi adaptasi, migrasi habitat, dan sejarah ekologi yang selama ini dianggap mapan.

Perdebatan kepiting tapal kuda dan arachnida menunjukkan satu pelajaran keras: bentuk tubuh bisa menipu, sementara nama populer bisa mengunci cara kita berpikir. Ketika label “kepiting” dibiarkan dominan, publik cenderung mengabaikan fakta bahwa evolusi sering membangun kemiripan dari jalur yang berbeda.

Studi genetika memang bukan kitab suci, tetapi ia menguji ulang asumsi yang terlalu lama diterima tanpa pembaruan data. Di era genomik, otoritas sains bukan pada siapa yang paling keras bersuara, melainkan pada siapa yang paling transparan terhadap ketidakpastian.

Yang juga patut dicatat, pembaruan taksonomi bukan sekadar urusan akademik. Cara kita mengelompokkan spesies memengaruhi prioritas riset, pendidikan publik, dan bahkan cara konservasi disusun untuk hewan purba yang populasinya tertekan di banyak wilayah.

Kepiting tapal kuda mengingatkan bahwa pohon kehidupan tidak selalu mengikuti intuisi mata manusia. Ia bertahan ratusan juta tahun, namun tetap mampu “mengubah” pemahaman kita hanya lewat pembacaan ulang gen.

Mungkin pelajaran terbesarnya sederhana dan menantang: semakin tua sebuah spesies, semakin besar peluang kita salah paham tentang asal-usulnya. Jika genetika saja masih menyisakan sepertiga keraguan, seberapa sering kita terlalu cepat merasa pasti tentang alam?

(Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)