Rokhmin Dahuri: Mencegah Karhutla di Atap Jabar

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., Guru Besar Emiritus IPB University/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004/Komisi IV DPR RI.

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., Guru Besar Emiritus IPB University/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004/Komisi IV DPR RI.

Opini

Oleh Rokhmin Dahuri

ORBITINDONESIA.COM - Rabu malam, 21 Oktober 2026, api kembali menyala di hutan Gunung Ciremai. Asap pekat membubung tinggi di atas Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Keesokan harinya, Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi menuju lokasi untuk memimpin pemadaman api. KDM minta warga Desa Seda dan Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, turun tangan memadamkan api, dengan insentif Rp250 ribu per orang per hari. Alasannya lugas: jika gunung terbakar, seluruh warga kehilangan "kehidupannya".

Karhutla Ciremai ini bukan yang pertama. Menurut catatan Tempo, sedikitnya empat kebakaran hutan telah terjadi di Ciremai sepanjang 2026. Api bahkan belum benar-benar usai ketika peristiwa terbaru ini muncul. Juga belum ada angka resmi luas area terbakar. Dan apa penyebabnya yang pasti.

Dari Juli ke Oktober: Rangkaian Api

Rangkaian kebakaran hutan di TNGC tahun ini dimulai pertengahan tahun. Kebakaran pertama tahun ini mulai Selasa, 21 Juli 2026 dan menghanguskan sekitar 14 hektare lahan. Tempo mencatat bahwa kebakaran lebih dulu terjadi di Blok Cirendang, Desa Padabeunghar.

Pada 7 September, api muncul lagi di Blok Cileutik dan Cimaung. Pada hari ketiga, terlihat lima blok hutan terdampak kebakaran dengan luas sekitar 40 hektar. Angka itu masih bisa bertambah luas.

Empat hari kemudian, titik api muncul lagi di Blok Jalan Maling, diduga dari sisa bara yang belum padam dan menyambar lahan kering di sekitarnya.

Kebakaran ketiga terjadi pada 9 Oktober di Blok Batu Saheng. Dua pekan kemudian, api anyar muncul. Juru bicara Masyarakat Peduli Api (MPA) Silihwangi Majakuning, Asep Sonjaya, menyebut api semula berada di perbatasan hutan Desa Seda, lalu merambat ke arah barat Blok Yanggo, Desa Cibuntu. Kebakaran pun meluas.

Angka kebakaran di TNGC tahun ini seperti mengulang catatan lama. Pada 2018, kebakaran selama 14 hari menghanguskan sekitar 1.310 hektar kawasan TNGC. Balai TNGC juga mencatat enam kebakaran terjadi pada tahun 2022 dengan luas 138,48 hektar.

Ada pun sepanjang tahun 2023, terdapat 35 kali kejadian Karhutla di TNGC. Total Luas hutan yang terbakar 187,97 hektar. Ini merupakan salah satu insiden terbesar dalam 5 tahun terakhir sejak 2018.

Memang hutan yang terbakar dibanding dengan luas TNGC 14.841,3 hektar, relatif kecil. Kebakaran terbesar terjadi pada tahun 2018, selama 14 hari, menghanguskan 1.310 hektar. Tapi tak berarti Karhutla 2026, dianggap kecil.

Kenapa? Karena kemarau tahun 2026 masih belum usai. Jika kemarau "El-Nino" yang kering ini masih panjang sesuai prediksi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) bisa jadi kebakaran besar seperti tahun 2018 akan terulang. Jika kebakaran TNGC ini tidak segera diatasi dengan serius, masyarakat empat wilayah (Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka), akan terdampak serius, terutama dalam hal ketersediaan air tawar.

Yang menarik, dari satu kebakaran ke kebakaran lain, polanya hampir sama. Api cenderung menyerang kawasan yang dekat permukiman dan lahan garapan; yang paling bersinggungan dengan manusia dan paling penting bagi tangkapan air.

Yang menjadi soal adalah, mengapa kebakaran hutan di TNGC dengan pola seperti itu terus berulang? Jawabnya, ada pada kesiapsiagaan dan disiplin kita (masyarakat sekitar hutan) dalam mencegah kebakaran itu. Bukankan pola munculnya kebakaran sudah lama terdeteksi dan kita -- sebisa mungkinkah dengan tekad kuat -- harus mencegahnya?

Jangan Biarkan Atap Jabar dan Menara Air Itu Rusak

Ciremai dengan puncaknya yang mencapai (3.078 mdpl) adalah gunung tertinggi di Jawa Barat. Karenanya sering disebut sebagai Atap Jabar. Gunung ini pun dijuluki "Menara Air" yang menyuplai air untuk jutaan penduduk di kawasan Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka. Kepala Balai TNGC, Toni Anwar, meyatakan bahwa Gunung Ciremai berperan besar menjamin ketersediaan air bersih bagi warga Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu. Toni mengingatkan bahwa jika kondisi hutan di Ciremai berubah, masyarakat di sekitarnya yang pertama terkena krisis air.

Di Gunung Ciremai terdapat 97 titik mata air yang tidak pernah kering. Kajian lain mencatat ada sekitar 156 mata air -- 147 di antaranya tak pernah kering dan mengalirkan air sepanjang tahun.

Alirannya menuju banyak tempat. Sungai-sungai dari kawasan Ciremai ini memasok kebutuhan air masyarakat di Kuningan, Majalengka, Kabupaten Cirebon, Indramayu, dan Kota Cirebon, serta sebagian Jawa Tengah. Kajian BRIN tentang mata air di lereng Ciremai juga mencatat bahwa air dari mata air di lereng gunung ini dimanfaatkan sebagai air baku bagi sebagian besar penduduk Kota Cirebon dan sekitarnya.

Fungsi Gunung Ciremai sebagai sumber air tawar tersebut tergantung pada kondisi hutannya. Jika hutannya utuh, sumber air tersebut terjamin. Jika hutannya rusak, salah satunya akibat kebakaran, sumber air tersebut bisa berkurang, bahkan hilang.

Tanah vulkanik di lereng Ciremai menyerap hujan, menyimpannya, lalu melepaskannya perlahan sebagai mata air. Ketika vegetasi dan serasah terbakar, tanah terbuka dan daya serap menurun -- maka saat hujan deras terjadi erosi. Banjir lumpur pun mengalir ke sungai dan pemukiman. Akibat lanjutnya, mata air dari gunung pun surut. Bahkan bisa habis.

Mengapa Kebakaran Ciremai Sulit Dihentikan?

Pertama, medan yang sulit. Kepala TNGC Toni Anwar menyebut medan terjal dan berbatu tajam sebagai kendala utama, ditambah arah angin yang bisa berubah sewaktu-waktu -- membuat petugas pemadam api terjebak. Kendaraan pemadam tidak bisa masuk, sehingga petugas berjalan kaki membawa peralatan. Ini menjadi kendala dalam pemadaman api.

Kedua, air. Ironisnya, di gunung penyimpan air, di lokasi kebakaran justru sulit mendapat air. Asep Sonjaya dari MPA menyebut tidak adanya embung penampung air dan jauhnya akses mata air dari lokasi kejadian sebagai penyebab kebakaran makin menyebar -- selain angin kencang dan akses petugas pemadam kebakaran yang sulit menjangkau titik api.

Ketiga, bahan bakar dan cuaca. Api cepat merambat karena angin kencang serta banyaknya ranting dan semak belukar kering. Kemarau panjang membuat lantai hutan seperti sumbu sekaligus bahan bakar.

Keempat, bara yang bersembunyi. Api di permukaan bisa padam, tetapi bara di bawah serasah dan akar bertahan, lalu menyala lagi.

Kelima, faktor manusia. Penyebab kebakaran terbaru belum diketahui dan sulit ditebak. Namun pengelola TNGC pernah menyatakan penyebab alami kecil kemungkinannya. Pemicu kebakaran yang kerap ditemukan adalah puntung rokok yang dibuang sembarangan atau "api bekas aktivitas manusia" yang tidak dimatikan tuntas. Gubernur pun meminta warga tidak membakar ilalang untuk kepentingan pertanian selama kemarau.

Keenam, sistem dan prioritas. Pencegahan sering kalah prioritas dibanding pemadaman. Personel jaga terbatas untuk kawasan belasan ribu hektar. Juga infrastruktur air di titik rawan belum memadai. Penanganan selalu terlambat satu langkah. Sistem pencegahan kebakaran belum terbentuk secara menyeluruh.

Keenam hal tersebut menjadi kendala dalam pemadaman api di TNGC. Mengingat vitalnya Jawa Barat -- khususnya Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka -- sebagai kawasan ekonomi dan pariwisata terpadu di propinsi terdepan pintu gerbang Indonesia, keutuhan dan kelestarian TNGC harus menjadi prioritas.

Jawa Barat dengan Gunung Ciremai-nya bukan sekadar provinsi an sich -- tapi juga cermin kemajuan dan etalase Indonesia. Ini terjadi karena Jawa Barat terintegrasi dengan ibu kota Jakarta tanpa jarak. Jakarta dan Jawa Barat adalah "central point" Indonesia.

*Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., Guru Besar Emiritus IPB University/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004/Komisi IV DPR RI. ***