Kekudusan Menurut Gaudete et Exsultate: Doa, Atribut, dan Aksi Sosial

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Kekudusan menurut Gaudete et Exsultate kembali dipertanyakan dari ruang kelas seminari di Labuan Bajo. Diana, siswi kelas XI, menantang logika populer: apakah rajin doa dan memakai Rosario sudah cukup untuk disebut menuju kekudusan?

Pertanyaan itu lahir dari sosok teman Diana yang hampir setiap hari berdoa di kapela, ruang adorasi, dan gua Maria. Ia juga memakai Rosario di leher saat bekerja dan berolahraga, sampai dijuluki “Tabernakel berjalan”.

Di kelas, sebagian siswa spontan menjawab bahwa doa adalah jalan utama menjadi kudus. Sebagian lain menolak penyederhanaan itu, karena kekudusan juga tampak dari cara seseorang hidup dan memperlakukan orang lain.

Perdebatan ini bukan perkara remeh, karena menyentuh kebiasaan beragama yang sering jatuh pada simbol. Dalam banyak komunitas, atribut rohani kerap dijadikan ukuran cepat untuk menilai kualitas iman seseorang.

Surat Apostolik Gaudete et Exsultate (2018) menegaskan bahwa kekudusan bukan monopoli uskup, imam, atau biarawan-biarawati. Paus Fransiskus menyebut semua orang dipanggil menjadi kudus dalam keadaan hidup masing-masing.

Dokumen itu juga menolak anggapan bahwa kekudusan identik dengan meninggalkan pekerjaan harian demi memperbanyak praktik devosi. Intinya tegas: hidup kudus dihayati dalam kasih dan kesaksian melalui kegiatan sehari-hari, “di mana pun kita berada” (Gaudete et Exsultate, no. 14; edisi Indonesia sering dirujuk hlm. 12).

Di titik ini, doa tetap fundamental, karena doa membangun relasi dengan Allah dan membentuk batin. Praktik seperti membaca Kitab Suci, Ekaristi, adorasi, dan Rosario menjadi sumber daya rohani yang menguatkan kehendak.

Namun Gaudete et Exsultate menuntut buah yang dapat dilihat dalam hidup konkret, bukan hanya intensitas ritual. Doa yang berhenti pada “hubungan pribadi” tanpa perubahan perilaku berisiko menjadi pelarian yang rapi, tetapi steril.

Di ruang sosial, standar kekudusan justru diuji oleh hal-hal kecil: cara berbicara, cara mendengar, cara memperlakukan yang lemah, dan cara mengelola amarah. Kekudusan yang sejati tidak hanya khusyuk di kapela, tetapi juga sabar di rumah, jujur di pekerjaan, dan adil dalam pergaulan.

Kerangka ini sejalan dengan gagasan kecerdasan sosial yang dikutip Frans Nala dari Tony Buzan, bahwa kecerdasan menyangkut kemampuan berpikir dan bertindak terarah serta mengolah lingkungan secara efektif (Nala, 2012:112). Dalam bahasa iman, relasi dengan Allah semestinya meningkatkan kualitas relasi dengan sesama.

Karena itu, pemisahan tajam antara kehidupan spiritual dan kehidupan sosial adalah ilusi yang berbahaya. Jika seseorang merasa paling dekat dengan yang kudus, tetapi mudah merendahkan orang lain, maka ada yang retak di pusat spiritualitasnya.

Julukan “Tabernakel berjalan” terdengar saleh, tetapi juga menyimpan jebakan: iman bisa dipersempit menjadi aksesori. Rosario di leher dapat menjadi kesaksian, tetapi juga dapat berubah menjadi identitas yang dipamerkan tanpa pertobatan karakter.

Di sinilah pertanyaan Diana menjadi kritik sosial yang halus. Ia memaksa kita membedakan antara tanda dan makna, antara simbol kekudusan dan proses menjadi kudus.

Gereja sendiri punya tradisi panjang yang menilai kekudusan dari buahnya, bukan dari kemasannya. Ukuran paling keras adalah kasih yang konkret: mampu mengampuni, menolong, menghormati martabat orang lain, dan tidak menjadikan doa sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab sosial.

Di banyak ruang pendidikan iman, kita sering mengajar teknik doa, tetapi kurang menguji dampaknya pada empati dan keadilan. Padahal Gaudete et Exsultate mengingatkan bahwa kekudusan tumbuh dalam “kehidupan sehari-hari”, justru di tempat orang mudah gagal dan mudah belajar rendah hati.

Jika doa membuat seseorang makin lembut, makin jujur, dan makin peduli, maka ia sedang bergerak ke arah yang benar. Jika doa membuatnya makin merasa unggul, makin sinis, dan makin jauh dari penderitaan orang lain, maka yang terjadi adalah kesalehan yang membatu.

Pertanyaan “apakah doa dan atribut rohani cukup” akhirnya berujung pada satu jawaban yang tidak nyaman: tidak pernah cukup jika tidak melahirkan kasih. Kekudusan menurut Gaudete et Exsultate adalah integrasi, ketika altar di kapela bertemu meja makan di rumah dan lorong sekolah.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan seberapa sering seseorang berdoa, tetapi seberapa jauh doanya mengubah cara ia memperlakukan orang lain. Dan mungkin kekudusan paling jernih justru tampak ketika tidak ada yang melihat, saat seseorang memilih tetap baik, tetap adil, dan tetap manusiawi.

(Orbit dari berbagai sumber, 16 Oktober 2026)