Pancasila Tidak Mati di Generasi Scroll: Cara Anak Muda Menghidupkan Nilai-Nilai Kebangsaan
Ketika banyak anak muda menghabiskan waktu berjam-jam menggulir layar media sosial, ada pula sebagian yang memilih memanfaatkan ruang digital untuk hal yang lebih bermakna untuk sesama. Mereka menghadirkan konten yang mengajak orang belajar, berpikir kritis, hingga lebih peka terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar.
Kehadiran para kreator muda ini mematahkan anggapan bahwa generasi digital semakin jauh dari nilai-nilai kebangsaan. Lewat cara yang dekat dengan kehidupan anak muda, mereka menunjukkan bahwa Pancasila tidak hanya hidup dalam buku pelajaran atau upacara bendera. Nilai-nilainya tetap tumbuh melalui konten yang mengedukasi, menginspirasi, dan menggerakkan jutaan orang dari balik layar ponsel. Hari ini, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi foto atau mengikuti tren yang sedang viral.
Bagi sebagian anak muda, platform digital telah berubah menjadi ruang untuk belajar, berdiskusi, bahkan mengajak orang lain melakukan perubahan. Di sinilah nilai-nilai Pancasila menemukan bentuknya yang baru, lebih dekat, lebih sederhana, dan hadir dalam keseharian.
Siapa saja mereka? Berikut beberapa sosok yang menunjukkan bahwa Pancasila masih hidup di generasi scroll.
1. Sherly Annavita: Mengajak Anak Muda Peduli pada Masa Depan Bangsa
Tidak sedikit anak muda yang merasa urusan bangsa adalah ranah para pejabat, politisi, atau mereka yang berada di lingkaran kekuasaan. Akibatnya, banyak yang memilih bersikap apatis dan hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan yang terjadi. Pandangan tersebut tampaknya tidak berlaku bagi Sherly Annavita Rahmi. Di usianya yang masih muda, ia dikenal aktif menyuarakan berbagai isu publik serta mengajak generasinya untuk lebih peduli terhadap pendidikan, kepemimpinan, dan masa depan bangsa. Bagi Sherly, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh para pemimpinnya, tetapi juga oleh seberapa besar generasi mudanya mau peduli dan terlibat.
Melalui berbagai forum diskusi, podcast, hingga media sosial, Sherly kerap mengajak anak muda untuk melihat persoalan bangsa dari sudut pandang yang lebih luas. Mulai dari pendidikan, kepemimpinan, hingga tantangan yang akan dihadapi Indonesia di masa depan. Topik-topik yang sering dianggap berat itu ia sampaikan dengan bahasa yang dekat dengan generasinya. Bagi Sherly, menjadi anak muda bukan hanya soal mengejar mimpi pribadi. Ada tanggung jawab yang lebih besar, yakni memastikan bangsa ini bergerak ke arah yang lebih baik. Karena itulah ia terus mendorong generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan ikut mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
2. Ferry Irwandi: Mengajak Warganet Lebih Kritis
Di media sosial, sebuah informasi bisa menyebar jauh lebih cepat daripada proses memverifikasinya. Tidak sedikit orang langsung percaya, membagikan, bahkan berdebat tanpa lebih dulu mencari tahu apakah informasi tersebut benar atau tidak.
Fenomena itulah yang kerap menjadi perhatian Ferry Irwandi. Melalui konten-kontennya, ia sering mengulas berbagai isu yang sedang ramai diperbincangkan publik, mulai dari persoalan sosial hingga fenomena yang memicu perdebatan di masyarakat. Dengan pendekatan yang mengandalkan data, riset, dan sudut pandang yang lebih luas, Ferry mengajak pengikutnya untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Di tengah banjir informasi yang datang setiap hari, kehadiran konten seperti ini menjadi pengingat bahwa berpikir kritis masih penting. Sebab menjadi masyarakat yang cerdas tidak hanya soal banyaknya informasi yang diterima, tetapi juga kemampuan untuk memahami dan memeriksa kebenarannya.
3. Jerome Polin: Mengubah Rumus Menjadi Tontonan yang Mengasyikan
Banyak pelajar menganggap matematika sebagai pelajaran yang rumit dan membingungkan. Namun anggapan itu perlahan berubah berkat kehadiran Jerome Polin, salah satu influencer yang konsisten menghadirkan konten edukatif bagi generasi muda.
Berawal dari pengalamannya sebagai mahasiswa Indonesia di Jepang, Jerome mulai membagikan berbagai konten seputar matematika, pendidikan, dan kehidupan kampus dengan cara yang ringan dan mudah dipahami. Ia tidak hanya menunjukkan cara menyelesaikan soal, tetapi juga membuktikan bahwa belajar dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Lewat konten-konten yang dipadukan dengan humor dan keseharian, Jerome berhasil mengubah deretan rumus yang kerap dianggap membosankan menjadi tontonan yang menarik. Di tengah derasnya arus hiburan media sosial, ia tetap konsisten menghadirkan konten yang mendorong anak muda untuk mencintai proses belajar. Apa yang dilakukan Jerome menunjukkan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa tidak hanya bisa dilakukan diruang kelas tapi juga melalui media sosial.
4. Alfatih Timur: Menghidupkan Semangat Gotong Royong di Era Digital
Gotong royong telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dahulu, nilai itu terlihat ketika warga bersama-sama membangun jembatan, memperbaiki rumah tetangga, atau membantu korban musibah di lingkungan sekitar. Namun di tangan Alfatih Timur, semangat yang sama menemukan bentuk baru di era digital. Melalui platform Kitabisa yang didirikannya pada 2013, Alfatih menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk saling membantu tanpa dibatasi jarak dan waktu. Dari bantuan biaya pengobatan, pendidikan, hingga penanganan bencana, jutaan orang dapat bergotong royong hanya melalui sentuhan jari di layar ponsel. Apa yang dilakukan Alfatih menunjukkan bahwa nilai gotong royong yang menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia tidak hilang di tengah perkembangan teknologi. Sebaliknya, nilai tersebut justru menemukan cara baru untuk menjangkau lebih banyak orang. Ketika media sosial sering dianggap membuat masyarakat semakin individualis, Alfatih membuktikan bahwa teknologi juga dapat digunakan untuk memperkuat kepedulian dan solidaritas sosial.
5. Vina Muliana: Membagikan Ilmu yang Tak Selalu Didapat di Bangku Sekolah
Lulus sekolah atau kuliah ternyata tidak selalu membuat seseorang siap menghadapi dunia kerja. Banyak anak muda yang masih bingung saat harus membuat CV pertama, menghadapi wawancara kerja, atau memahami seperti apa dunia profesional yang sesungguhnya. Keresahan itulah yang banyak diangkat Vina Muliana melalui media sosialnya. Berbekal pengalamannya bekerja di dunia korporasi, ia rutin membagikan berbagai informasi seputar karier, pengembangan diri, hingga keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Dengan gaya penyampaian yang sederhana dan mudah dipahami, kontennya menjadi rujukan bagi banyak anak muda yang sedang mempersiapkan langkah setelah lulus sekolah atau kuliah. Melalui konten-konten edukatif yang dibagikannya, Vina membantu lebih banyak anak muda memperoleh akses terhadap pengetahuan yang dapat membuka peluang dan meningkatkan kualitas diri. Sebuah kontribusi sederhana yang ikut mendukung lahirnya SDM Indonesia yang lebih berkualitas dan siap menghadapi dunia kerja.
Pancasila hari ini tidak hanya hadir dalam bentuk yang sama, dari buku pelajaran, atau upacara kenegaraan. Ia juga hidup di ruang digital, melalui anak-anak muda yang memilih menggunakan pengaruhnya untuk mengedukasi, mengajak berpikir kritis, menyuarakan kepedulian, dan membantu sesama. Lewat cara yang dekat dengan zamannya, mereka menunjukkan bahwa nilai-nilai kebangsaan tidak pernah kehilangan relevansinya. Justru di tengah derasnya arus informasi dan budaya scrolling, semangat untuk belajar, peduli, bergotong royong, dan mengambil peran bagi masyarakat tetap menemukan ruang untuk tumbuh.