Diah Permatasari Awet Muda: Perawatan Alami dan Kesehatan Mental

detikHOT

detikHOT

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Diah Permatasari awet muda di usia 55 tahun, dan ia menyebut perawatan alami serta kesehatan mental sebagai kuncinya. Di tengah banjir iklan skincare instan, narasi itu terdengar sederhana, tetapi justru menantang kebiasaan publik yang sering menyamakan cantik dengan produk.

Diah Permatasari bukan satu-satunya figur publik yang tampil segar di usia matang, namun penekanannya pada gaya hidup sehat memberi arah diskusi yang berbeda. Ia menggeser fokus dari “apa yang dipakai di wajah” menjadi “apa yang terjadi di kepala dan kebiasaan sehari-hari”.

Industri kecantikan tumbuh pesat dan menormalisasi standar awet muda sebagai target sosial. Dalam situasi itu, banyak orang terjebak pada logika cepat, yakni hasil instan, prosedur agresif, atau rutinitas berlapis tanpa memahami kebutuhan kulit dan tubuh.

Di sisi lain, isu kesehatan mental makin sering dibicarakan, tetapi masih jarang diposisikan sebagai fondasi kecantikan yang nyata. Padahal stres kronis dapat memengaruhi tidur, pola makan, dan peradangan, yang semuanya terlihat jelas pada kondisi kulit.

Konsep “perawatan alami” sering disalahpahami sebagai sekadar bahan dapur, padahal yang paling menentukan biasanya adalah konsistensi perilaku. Tidur cukup, hidrasi, aktivitas fisik, dan proteksi matahari cenderung memberi dampak yang lebih stabil dibanding tren yang berubah tiap bulan.

Secara ilmiah, paparan sinar ultraviolet dikenal sebagai salah satu faktor utama penuaan dini pada kulit. American Academy of Dermatology menekankan penggunaan tabir surya spektrum luas dan perilaku menghindari matahari berlebih sebagai langkah protektif yang paling masuk akal.

Kesehatan mental juga punya jalur biologis yang jelas menuju penampilan. American Psychological Association mencatat stres berkaitan dengan gangguan tidur dan perubahan perilaku kesehatan, yang dapat memperburuk kondisi kulit serta mempercepat tampilan lelah.

Di titik ini, pesan Diah Permatasari terasa relevan karena memotong kebisingan pasar. Ia tidak sedang menjual formula rahasia, melainkan mengingatkan bahwa tubuh bekerja sebagai sistem, dan wajah adalah layar yang paling cepat memantulkan kerusakan.

Namun ada risiko romantisasi “alami” jika dipakai untuk menolak sains atau menghakimi pilihan orang lain. Perawatan medis, dermatologi, dan kosmetik tetap valid bila aman, terukur, dan dilakukan dengan edukasi yang memadai.

Yang perlu dikritisi adalah budaya performatif yang membuat orang merasa bersalah bila menua. Ketika awet muda menjadi kewajiban sosial, kecantikan berubah dari ekspresi diri menjadi proyek kecemasan yang tak pernah selesai.

Pernyataan Diah Permatasari bisa dibaca sebagai kritik halus terhadap ekonomi perhatian yang memonetisasi rasa kurang percaya diri. Ia menunjukkan bahwa “glow” tidak selalu datang dari belanja, tetapi dari keputusan kecil yang diulang setiap hari.

Sudut pandang ini tajam karena mengembalikan agensi pada individu, bukan pada merek. Tetapi ia juga mengingatkan bahwa akses pada gaya hidup sehat tidak selalu setara, karena waktu, lingkungan, dan beban kerja sering menentukan.

Maka, pesan awet muda yang paling berguna bukan meniru wajah selebritas, melainkan meniru prinsipnya. Kesehatan mental, tidur, dan kebiasaan makan adalah investasi yang tidak fotogenik, tetapi hasilnya paling jujur.

Diah Permatasari awet muda di usia 55 tahun bukan semata soal gen atau rutinitas luar, melainkan soal cara merawat hidup dari dalam. Perawatan alami dan kesehatan mental terdengar klise, tetapi justru itu yang paling sering diabaikan karena tidak bisa dipercepat.

Pada akhirnya, pertanyaan yang layak diajukan bukan “produk apa yang dipakai”, melainkan “kebiasaan apa yang membuat kita lebih sehat dan lebih tenang”. Jika menua adalah keniscayaan, mungkin yang perlu kita kejar bukan wajah yang berhenti waktu, melainkan hidup yang lebih waras dijalani. (Orbit dari berbagai sumber, 6 Juni 2026)