Spencer Pratt Gagal Jadi Wali Kota Los Angeles, Ini Maknanya

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pencalonan Spencer Pratt sebagai wali kota Los Angeles kandas di penghitungan akhir pemilihan pendahuluan 2 Juni. Associated Press memastikan ia tidak lolos ke putaran November, ketika Karen Bass akan berhadapan dengan Nithya Raman.

Pratt datang dengan paket yang nyaris mustahil: mantan bintang reality show, pengusaha kristal “penyembuh”, dan politisi baru yang disokong sorak selebritas. Ia juga sempat mendapat anggukan dukungan dari Presiden Donald Trump, di tengah peta politik Los Angeles yang sangat berat bagi Partai Republik.

Kampanyenya dibangun dari ketenaran “The Hills” dan video pendukung berbasis kecerdasan buatan. Namun bahan bakar utamanya adalah kemarahan publik atas tunawisma, kriminalitas, dan rasa “kota membusuk” di balik citra kuliner, pemandangan kartu pos, dan industri hiburan global.

“Cukup sudah,” menjadi mantra Pratt di jalur kampanye. Di sisi lain, proses penghitungan suara yang lambat di California kembali memantik frustrasi, sampai Pratt sendiri mengunggah satu kata: “Patience.”

Secara aritmetika, Pratt seperti berlari melawan gravitasi. Demokrat di California unggul hampir 2 banding 1 atas Republik, dan pemilih Republik di Los Angeles disebut di bawah 15% dari pemilih terdaftar.

Los Angeles juga bukan kota yang mudah “diambil alih” oleh figur anti-establishment dari kanan. Tidak ada kandidat Republik yang menang pilwali Los Angeles sejak 1997, dan sejarah itu menekan peluang siapa pun yang datang tanpa koalisi lintas kubu.

Bandingkan dengan Rick Caruso pada 2022, pebisnis miliarder yang menggelontorkan lebih dari 100 juta dolar untuk kampanye berbasis keamanan publik. Ia tetap kalah dari Bass hampir 10 poin, menunjukkan uang dan ketenaran tidak otomatis menembus struktur pemilih.

Yang menarik, Pratt tidak sepenuhnya gagal membaca suasana. Dennis Kamrany, warga Pacific Palisades yang menunggu pemulihan jaringan gas rumahnya lebih dari setahun pascakebakaran, menilai pengalaman politik bukan faktor utama.

“Saya lebih memilih petarung,” kata Kamrany, seraya bertanya, “Apa yang kita pertaruhkan?” Kutipan itu menandai psikologi pemilih yang lelah, ketika stabilitas terasa sama buruknya dengan risiko.

Tragedi Kebakaran Palisades memberi Pratt narasi “korban kepemimpinan gagal”. Ia tampil di video kampanye di depan trailer di reruntuhan propertinya dan berkata, “Mereka membiarkan rumah saya terbakar.”

Namun kontradiksi cepat muncul dan merusak kesan autentik. TMZ melaporkan Pratt sebenarnya tinggal di Hotel Bel-Air bersama keluarganya, sehingga amarahnya tampak seperti performa yang tidak sepenuhnya sejalan dengan realitas.

Di titik ini, kampanye Pratt terbaca sebagai gabungan kritik yang sah dan kemasan sensasi. Ia memusatkan isu tunawisma dan kriminalitas, tetapi publik juga mengingat rekam jejaknya mengejar publisitas sejak era tabloid.

Los Angeles memang sedang menanggung beban ganda. Kota ini menuju Olimpiade 2028, tetapi populasi kawasan menurun, sementara pajak, kemacetan, dan biaya hidup menekan kelas menengah.

Statistik resmi menyiratkan ada kemajuan soal tunawisma, tetapi perkemahan darurat dan deretan RV berkarat masih menjadi pemandangan harian. Jalan berlubang, trotoar kotor, dan rasa tidak aman memberi bahan bakar pada kandidat “apa pun selain yang sekarang.”

Industri hiburan yang dulu menjadi mesin kota juga tergerus. Pekerjaan Hollywood telah lama bergeser ke lokasi syuting yang lebih murah, dan bisnis restoran ikut terpukul.

Dalam lanskap seperti itu, pemilih bisa memaafkan ketidaklaziman kandidat. Susie Tho, seorang Demokrat kelahiran Los Angeles, mengaku tetap memilih Pratt karena kota terasa “mundur” dan ia merindukan LA masa kecilnya.

Namun batas toleransi publik tetap ada. Deanna Crane, 33 tahun, menyatakan ia menginginkan “siapa pun yang bernapas selain Spencer Pratt,” meski ia juga kecewa pada Bass soal penanganan kebakaran.

Fakta bahwa Bass tetap melaju ke putaran November menunjukkan dua hal. Pertama, kekecewaan tidak otomatis berubah menjadi dukungan pada figur ekstrem atau sensasional.

Kedua, oposisi yang lebih kredibel di mata pemilih LA justru datang dari kiri. Raman, anggota dewan kota yang progresif, menantang Bass dari spektrum kebijakan yang berbeda, bukan dari identitas selebritas.

Kegagalan Spencer Pratt bukan sekadar kisah selebritas yang salah kamar. Ini adalah cermin bahwa “politik kemarahan” membutuhkan lebih dari slogan, karena pemilih kota besar menuntut kapasitas mengelola anggaran 15 miliar dolar dan sekitar 50.000 pekerja municipal, termasuk kurang lebih 8.600 polisi.

Pratt menawarkan energi, tetapi energi tanpa kredibilitas mudah terlihat sebagai konten. Ketika batas antara kampanye dan panggung hiburan mengabur, pemilih bisa menikmati dramanya tanpa harus menyerahkan kunci kota.

Di sisi lain, kemunculan Pratt tetap penting sebagai gejala. Ia menumpang pada rasa putus asa warga, dari Palisades yang lambat pulih sampai lingkungan yang merasa kehilangan ketertiban, dan itu menandakan ada defisit kepercayaan pada institusi.

Respons kubu konservatif juga terbaca dalam komentar Steve Hilton yang menyebut “momen” bagi para outsider. Namun Los Angeles bukan sekadar medan ideologi, melainkan mesin birokrasi raksasa yang menuntut pengalaman, jejaring, dan disiplin kebijakan.

Dengan demikian, pertarungan sebenarnya bukan “selebritas versus politisi”. Pertarungan sesungguhnya adalah apakah kota bisa mengubah kemarahan menjadi perbaikan yang terukur, tanpa terjebak pada simbol yang viral tetapi rapuh.

Putaran November akan mempertemukan Karen Bass dan Nithya Raman, sementara Spencer Pratt kembali menjadi catatan kaki yang bising tetapi informatif. Los Angeles tetap menghadapi tunawisma, keamanan publik, pemulihan kebakaran, dan ekonomi kreatif yang bocor.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi berat: apakah pemilih memilih stabilitas yang diperbaiki, atau perubahan yang lebih progresif dan terarah. Dan lebih jauh, apakah kota bisa memulihkan rasa “rumah” tanpa harus menunggu tokoh sensasional berikutnya muncul dari layar.

(Orbit dari berbagai sumber, 12 Juni 2026)