Selat Hormuz Dibuka Lagi: Lalu Lintas Tanker, Minyak, dan Tarif Iran

ORBITINDONESIA.COM – Selat Hormuz kembali ramai oleh lalu lintas tanker minyak setelah kesepakatan AS-Iran membuka lagi jalur pelayaran komersial. Kpler mencatat sedikitnya 20 tanker melintas pada Kamis, level tertinggi sejak 2 Juni, meski masih jauh di bawah masa sebelum perang.

Menurut Kpler, total 25 kapal dari berbagai kelas melintasi Selat Hormuz pada Kamis, termasuk kargo dan kontainer selain tanker. Arus ini meningkat setelah Angkatan Laut AS mengakhiri blokade terhadap Iran, sementara Teheran mengizinkan kapal melintas tanpa membayar tol selama 60 hari.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pada Kamis bahwa Iran sejauh ini “memenuhi komitmennya.” Pernyataan itu memberi sinyal bahwa stabilitas jalur energi global kini bergantung pada kepatuhan kedua pihak, bukan sekadar patroli militer.

Lonjakan 20 tanker pada Kamis adalah angka tertinggi sejak 2 Juni, namun tetap di bawah level pra-perang ketika lebih dari 100 kapal per hari melintasi Hormuz. Kesenjangan ini menunjukkan pasar pelayaran belum sepenuhnya percaya bahwa risiko geopolitik telah mereda.

Matt Smith, Direktur Riset Komoditas Kpler, menyebut lalu lintas “relatif seimbang” dengan 13 penyeberangan dari Barat ke Timur dan 12 dari Timur ke Barat. Keseimbangan ini penting karena menandakan arus ekspor-impor energi mulai menemukan ritme normal, bukan sekadar konvoi satu arah yang defensif.

Kpler juga mencatat tiga supertanker dari Arab Saudi dan satu dari Uni Emirat Arab melintasi Hormuz pada Kamis. Kapal jenis VLCC ini mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak, sehingga satu pergerakan saja dapat memengaruhi ekspektasi pasokan dan premi risiko.

Di sisi Iran, supertanker yang sempat “gelap” saat perang kini menyalakan transponder saat meninggalkan kawasan. Dalam catatan Kpler kepada klien pada Jumat, lima supertanker Iran bermuatan minyak terpantau berangkat, menguatkan indikasi ekspor mulai dipulihkan.

Analis Kpler menilai arus dua arah menunjukkan perdagangan minyak mentah Iran “perlahan kembali mendekati pola operasi normal.” Namun pemulihan ini bukan sekadar soal logistik, melainkan juga soal legitimasi jalur dan aturan main yang diperebutkan.

Soal rute, 18 kapal yang melintas Kamis mengikuti jalur yang “ditetapkan Iran,” sementara hanya satu kapal memakai rute versi International Maritime Organization. Enam kapal lainnya tidak dapat dipastikan rutenya, yang menandakan masih ada area abu-abu dalam kepatuhan dan pengawasan.

Di sinilah kesepakatan AS-Iran memunculkan pertanyaan besar tentang tata kelola Selat Hormuz. Setelah masa bebas tol 60 hari berakhir, Iran akan berunding dengan Oman dan negara-negara Teluk tentang cara mengelola selat, dan itu membuka peluang tol diberlakukan di masa depan.

Kesepakatan ini terlihat seperti “normalisasi terbatas” yang dibeli dengan waktu, bukan perdamaian yang menghapus risiko. Ketika tol dibebaskan 60 hari, itu bukan hadiah, melainkan alat untuk mengembalikan volume lalu lintas dan menguji seberapa jauh pelaku pasar mau kembali.

Rute yang ditetapkan Iran dan diikuti mayoritas kapal menjadi pesan politik yang lebih keras daripada angka tanker itu sendiri. Jika dunia pelayaran menerima jalur versi Teheran sebagai kebiasaan, maka Iran memperoleh pengaruh de facto atas gerbang energi global tanpa harus menutupnya.

Di sisi lain, Washington tampak memilih stabilitas pasokan ketimbang eskalasi, setidaknya untuk saat ini. Pernyataan JD Vance bahwa Iran “menghormati komitmen” adalah bentuk pengakuan pragmatis bahwa keamanan energi kadang dinegosiasikan, bukan dipaksakan.

Namun, publik perlu membaca risiko tersembunyi di balik kembalinya transponder dan naiknya trafik. Jika tol benar-benar diberlakukan kelak, biayanya bisa mengalir ke premi asuransi, ongkos angkut, dan pada akhirnya harga energi yang dirasakan konsumen.

Kembalinya lalu lintas tanker di Selat Hormuz memberi napas bagi pasar minyak, tetapi juga mengungkap pertarungan baru: siapa yang mengatur, rute mana yang dianggap sah, dan berapa harga melintas. Angka 20 tanker pada Kamis adalah tanda pemulihan, sekaligus pengingat bahwa normal baru bisa berarti aturan baru.

Ketika masa bebas tol 60 hari berakhir, pertanyaan yang tersisa bukan hanya apakah kapal tetap berlayar, melainkan dengan syarat siapa dan untuk kepentingan siapa. Jika Selat Hormuz adalah nadi energi dunia, maka setiap perubahan tata kelolanya adalah perubahan pada denyut ekonomi global. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Juni 2026)