Proposal Damai AS-Iran dan Selat Hormuz: Trump Bimbang

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Proposal damai AS-Iran soal perang Iran dan pembukaan Selat Hormuz menunggu keputusan Presiden Donald Trump, sementara warga di Timur Tengah menahan napas. Trump mengklaim akan membuat “penentuan akhir” di Situation Room, tetapi rapat berakhir tanpa pengumuman.

Orang-orang di Timur Tengah gelisah pada Sabtu, menunggu keputusan Trump tentang proposal untuk mengakhiri perang dengan Iran. Amerika Serikat menegaskan kembali tekadnya untuk keluar dengan kesepakatan yang dianggap Trump dapat diterima.

Pada Jumat, Trump menulis di media sosial bahwa ia bertemu para penasihat di Situation Room untuk membuat “penentuan akhir.” Namun pertemuan itu berakhir tanpa pernyataan resmi.

Selama negosiasi, posisi Trump berzigzag antara klaim kemajuan dan ancaman serangan baru. Pada Jumat malam, Iran menyatakan masih “tidak ada kesepakatan final” dengan Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan di televisi pemerintah bahwa “pertukaran pesan tentu masih berlangsung.” Tetapi ia menegaskan kesepakatan belum ada di tangan.

Di dalam Iran, sebagian warga yang berharap perang bisa mengakhiri pemerintahan otoriter Republik Islam mengaku kecewa. Mereka menjadi dingin terhadap gagasan kesepakatan apa pun.

“Kami tahu bahkan jika ada, kami tidak akan menerima manfaat apa pun,” kata Ali, 43 tahun, insinyur dari Provinsi Mazandaran. Ia hanya bersedia disebut nama depan karena takut pembalasan pemerintah.

“Itu terutama akan menjamin kelangsungan hidup Republik Islam,” tambahnya. Kalimat itu menangkap rasa putus asa yang menyebar di bawah permukaan propaganda kemenangan.

Rincian proposal belum dipublikasikan, tetapi beberapa pejabat yang diberi pengarahan menggambarkannya secara anonim. Sensitivitas diplomasi membuat detailnya beredar sebagai bocoran, bukan dokumen resmi.

Proposal itu tampaknya hanya menuntut sedikit konsesi segera dari Iran, meski Trump bersikeras ia meraih kemenangan telak. Di titik ini, narasi kemenangan lebih keras daripada isi kompromi.

Kesepakatan itu pada dasarnya mengakhiri kampanye militer AS-Israel terhadap Iran, sebagai imbalan Iran mencabut blokade Selat Hormuz. Jalur ini krusial bagi pengapalan minyak dan gas, dan penutupannya sejak awal perang mengguncang pasar energi.

Masalah paling berduri, termasuk masa depan program nuklir Iran, akan ditunda ke putaran perundingan berikutnya. Penundaan ini memberi ruang bernapas, tetapi juga menunda kepastian.

Trump menulis bahwa Iran harus sepenuhnya membuka kembali selat bagi lalu lintas kapal dan mengizinkan AS membantu membuang stok uranium yang diperkaya. AS dan Israel khawatir stok itu dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.

Di Washington, para “hawk” Iran, termasuk sejumlah tokoh senior Partai Republik, sudah mengecam kesepakatan yang dilaporkan sebagai bencana yang sedang disiapkan. Di saat yang sama, perang juga tidak populer di publik AS karena harga bensin melonjak.

Pada Sabtu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengecilkan kedekatan waktu kesepakatan, meski komentar presiden sehari sebelumnya memberi kesan sebaliknya. Di forum keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura, ia menekankan “kesabaran” Trump demi memastikan kesepakatan “hebat.”

Hegseth juga menepis laporan bahwa militer AS menghabiskan banyak amunisi selama konflik. Ia menyatakan AS siap untuk putaran perang berikutnya bila diperlukan.

“Kami lebih dari mampu,” kata Hegseth. “Stok kami lebih dari memadai untuk itu, baik di sana maupun di seluruh dunia.”

Di Teheran, sekelompok kecil garis keras juga menolak kesepakatan, karena dianggap terlalu lunak. Ini menunjukkan oposisi datang dari dua kutub, bukan satu arah.

Pada Sabtu, Mohsen Rezaei, mantan kepala militer Iran dan penasihat Mojtaba Khamenei, menuduh Trump membuat “tuntutan berlebihan” dan “mengkhianati diplomasi.” Tuduhan itu mengisyaratkan bahwa konsesi, sekecil apa pun, tetap berisiko bagi politik internal Iran.

Trump memulai kampanye AS-Israel pada akhir Februari dengan pidato yang menyiratkan perang dimaksudkan untuk menggulingkan Republik Islam. Tiga bulan kemudian, para pemimpin Iran justru merasa menang karena bertahan dari upaya penumbangan.

Minggu-minggu perang dan hampir dua bulan tekanan serta negosiasi tampaknya tidak mengubah sikap publik mereka tentang isu kunci seperti program nuklir. Keteguhan ini menjadi pesan bagi lawan, sekaligus peringatan bagi warga yang berharap perubahan.

Pemboman AS dan Israel memicu kesulitan luas dan menewaskan ribuan orang di Iran, menurut media pemerintah Iran. Di antara yang tewas adalah pemimpin tertinggi lama, Ayatollah Ali Khamenei, serta puluhan pejabat dan komandan puncak.

Sejumlah orang mengira serangan akan meruntuhkan rezim teokratis. Namun pengganti yang muncul, termasuk putra Khamenei, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dan tokoh senior Garda Revolusi, terlihat sama kerasnya.

“Sebelum perang, ada kekhawatiran setelah serangan terbatas, mereka akan meninggalkan pekerjaan setengah jadi dan pergi, meninggalkan rakyat dengan rezim agama yang terluka,” kata Mojtaba, seorang dokter dari Mashhad. “Itulah persis yang tampaknya sedang terjadi.”

Jika inti proposal adalah “Hormuz dibuka, serangan dihentikan,” maka kesepakatan ini lebih mirip gencatan operasional ketimbang penyelesaian politik. Stabilitas pasar energi menjadi mata uang utama, sementara isu nuklir dipindahkan ke meja lain.

Selat Hormuz adalah titik sempit vital yang mempengaruhi harga minyak global, sehingga penutupannya memberi tekanan langsung pada ekonomi dunia. Ketika harga bensin di AS ikut naik, biaya politik perang bagi Trump meningkat di dalam negeri.

Di sinilah perhitungan Trump menjadi kontradiktif: ia ingin tampil menang, tetapi juga ingin perang berhenti cepat. Klaim “kemenangan telak” menjadi selimut narasi untuk menutupi minimnya konsesi segera dari Iran.

Penundaan pembahasan nuklir adalah pedang bermata dua. Ia memberi ruang de-eskalasi, tetapi menciptakan “bom waktu diplomatik” karena isu paling sensitif justru belum disentuh tuntas.

Permintaan agar AS “membantu membuang” stok uranium diperkaya terdengar tegas, tetapi sulit dijual di Teheran. Di Iran, kedaulatan simbolik sering lebih menentukan daripada kalkulasi teknis.

Penolakan dari dua kubu garis keras memperlihatkan rapuhnya ruang kompromi. Di AS, para hawk melihat kesepakatan sebagai hadiah bagi Teheran, sedangkan di Iran, garis keras melihatnya sebagai pintu masuk dominasi Barat.

Hegseth yang menegaskan stok amunisi “lebih dari memadai” juga mengirim sinyal ganda. Ia meredakan kesan AS kelelahan, tetapi sekaligus memperbesar ancaman perang baru bila negosiasi buntu.

Di atas semua itu, dampak perang di Iran menciptakan paradoks moral dan politik. Ribuan tewas, termasuk pemimpin tertinggi, tetapi struktur kekuasaan tidak runtuh, malah mengeras di tangan penerus yang sama garisnya.

Kesaksian Ali dan Mojtaba memperlihatkan sisi yang jarang masuk pernyataan resmi: rakyat merasa ditinggalkan. Bagi mereka, kesepakatan yang “menyelamatkan rezim” tanpa mengubah represi terasa seperti pengkhianatan kedua.

Kesepakatan yang menukar pembukaan Selat Hormuz dengan penghentian serangan bisa menurunkan ketegangan, tetapi tidak menyentuh akar masalah. Ia merapikan permukaan, sambil membiarkan bara nuklir dan otoritarianisme tetap menyala.

Trump tampak ingin memenangi dua panggung sekaligus: panggung geopolitik dan panggung domestik. Namun zigzag pernyataan justru menggerus kredibilitas, karena musuh membaca ragu-ragu sebagai peluang, dan sekutu membaca ragu-ragu sebagai risiko.

Di Iran, perang yang disebut bertujuan menggulingkan Republik Islam berakhir dengan hasil paling ironis: rezim bertahan, rakyat menanggung luka, dan elite baru tetap keras. Jika ini “akhir” perang, ia adalah akhir yang meninggalkan pekerjaan setengah jadi—bukan hanya bagi militer, tetapi bagi harapan warga.

Proposal damai AS-Iran yang berpusat pada Selat Hormuz mungkin menenangkan pasar energi dan mengurangi korban baru, tetapi belum tentu membawa perdamaian yang adil. Pertanyaan besarnya bukan hanya apakah Trump menandatangani kesepakatan, melainkan siapa yang benar-benar diselamatkan oleh kesepakatan itu.

Ketika isu nuklir ditunda dan perubahan politik di Iran tak tersentuh, dunia hanya membeli waktu, bukan solusi. Pada akhirnya, sejarah akan menilai apakah “kesabaran” dan “kemenangan” yang diklaim para pemimpin hanyalah cara lain untuk menormalisasi penderitaan rakyat. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)