Cahaya Kuantum BSV Dorong Optik Nonlinear Tanpa Merusak Material

Phys.org

Phys.org

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Optik nonlinear, laser kuat, dan risiko kerusakan material selama ini seperti paket yang tak terpisahkan. Riset baru di jurnal Nature menunjukkan “jalan pintas”: memanfaatkan cahaya kuantum bright squeezed vacuum (BSV) untuk memicu interaksi ekstrem cahaya–materi tanpa menaikkan daya rata-rata.

Dalam optika modern, proses linear bekerja “rapi”: atom menyerap satu foton per kejadian, lalu responsnya naik sebanding dengan intensitas cahaya. Proses nonlinear berbeda, karena memerlukan beberapa foton tiba nyaris bersamaan untuk memunculkan efek seperti serapan multi-foton dan emisi pada kelipatan frekuensi laser.

Masalahnya sederhana tetapi kejam: untuk memaksa nonlinearitas, peneliti biasanya menaikkan intensitas pulsa laser sampai batas. Di titik tertentu, material yang disinari justru rusak atau hancur, sehingga ada “plafon” fisik yang membatasi seberapa jauh eksperimen bisa didorong.

Tim Jian Wu dari East China Normal University, Shanghai, melaporkan strategi yang menggeser permainan dari “lebih kuat” menjadi “lebih cerdas”. Mereka memakai sumber cahaya kuantum bernama bright squeezed vacuum (BSV), yang tidak mengirim foton dengan laju stabil seperti laser biasa.

Dalam keadaan BSV, jumlah foton dapat berayun ekstrem dari satu momen ke momen lain. Artinya, meski energi rata-rata pulsa tetap moderat, pada instan tertentu pulsa dapat memuntahkan “semburan” foton yang sangat besar, cukup untuk mendorong proses nonlinear yang biasanya menuntut laser jauh lebih intens.

Untuk menguji klaim ini, mereka memilih proses nonlinear kunci: ionisasi terowongan (tunneling ionization). Dalam skenario ini, medan cahaya yang kuat mendistorsi lingkungan listrik atom natrium sedemikian rupa, sehingga elektron seolah “menembus” penghalang yang semula mengikatnya.

Pengukuran energi dan momentum elektron yang terlepas menjadi sidik jari kekuatan medan dan karakter prosesnya. Hasilnya tajam: pulsa BSV dengan energi rata-rata hanya 300 nanojoule menghasilkan efek nonlinear yang setara dengan pulsa laser konvensional.

Peneliti menyebutnya peningkatan lebih dari 20 kali lipat, tanpa menaikkan daya rata-rata. Mereka juga menunjukkan intensitas pulsa dapat “diputar” naik-turun tanpa mengubah energinya sama sekali, karena yang diatur adalah karakter kuantum dan fluktuasi foton, bukan sekadar menambah bahan bakar.

Secara praktis, ini mengubah definisi “laser kuat” dalam eksperimen medan-kuat. Kekuatan tidak lagi identik dengan angka rata-rata pada meter energi, melainkan dengan probabilitas terjadinya puncak foton yang jarang tetapi menentukan.

Di sinilah riset ini terasa politis bagi laboratorium optik: ia menantang budaya “naikkan intensitas sampai mentok” yang selama puluhan tahun menjadi jalan utama. Jika nonlinearitas bisa dipicu oleh statistik foton, maka batas kerusakan material tidak lagi menjadi pagar yang sama kaku seperti sebelumnya.

Namun pertanyaan kritisnya juga jelas: seberapa stabil dan terukur puncak-puncak BSV itu untuk aplikasi rutin. Fluktuasi ekstrem adalah kekuatan sekaligus sumber ketidakpastian, sehingga standar kalibrasi, reprodusibilitas, dan kontrol noise akan menjadi pekerjaan rumah besar.

Meski begitu, implikasinya untuk fisika attosecond sangat menggoda. Bidang ini bergantung pada pulsa superpendek untuk memotret dinamika elektron, dan selama ini hampir sepenuhnya bertumpu pada sumber laser klasik.

Dengan membawa alat optik kuantum ke wilayah ini, kontrol medan-kuat berpotensi menjadi lebih presisi sekaligus lebih “ramah” terhadap sampel. Jika kerusakan kolateral dapat ditekan, eksperimen yang sebelumnya terlalu berisiko bisa menjadi rutinitas, dan itu berarti percepatan penemuan.

Terjemahan ringkas temuan inti dari artikel sumber: interaksi nonlinear sangat berguna tetapi dibatasi ambang kerusakan laser, dan tim Wu mengatasinya dengan cahaya kuantum BSV yang memiliki fluktuasi jumlah foton ekstrem. Dengan rata-rata energi 300 nanojoule, BSV menyamai efek laser biasa dengan peningkatan lebih dari 20 kali, serta memungkinkan pengaturan intensitas tanpa mengubah energi.

Riset ini mengingatkan bahwa kemajuan sains tidak selalu datang dari menambah daya, melainkan dari mengubah cara kita mendefinisikan “kekuatan”. Jika cahaya kuantum bisa membuat yang ekstrem menjadi lebih terkendali, pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah kita bisa mendorong batas, melainkan batas mana yang sebenarnya selama ini hanya asumsi. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)