Prabowo, Pancasila Pemersatu Bangsa di Dunia Terpecah

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Prabowo Subianto menegaskan Pancasila sebagai pemersatu bangsa saat dunia dilanda konflik dan rivalitas geopolitik. Dalam upacara Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, ia menyebut Pancasila sebagai “konsensus agung” yang menjaga Indonesia tetap utuh.

Pernyataan Presiden Prabowo muncul ketika tema Hari Lahir Pancasila 2026 menempatkan Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan fondasi perdamaian dunia. Tema itu terasa relevan karena publik menyaksikan perang, perang dagang, dan ketidakpastian ekonomi global kian menekan banyak negara.

Di dalam negeri, Pancasila kerap hadir sebagai ritual, bukan praktik kebijakan yang terukur. Karena itu, penekanan Prabowo bahwa Pancasila bukan sekadar slogan menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin memindahkan Pancasila dari podium ke ruang keputusan.

Prabowo menyebut Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan budaya yang berbeda, lalu disatukan oleh satu kesepakatan kebangsaan. Klaim ini sejalan dengan fakta demografis umum: Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dan salah satu masyarakat paling majemuk di dunia.

Namun, “pemersatu” tidak otomatis bekerja tanpa institusi yang adil dan kebijakan yang konsisten. Ketika ketimpangan, polarisasi politik, dan banjir disinformasi meningkat, Pancasila bisa kehilangan daya ikat jika hanya dipakai sebagai simbol yang tidak menyentuh pengalaman warga.

Di panggung global, Prabowo menautkan Pancasila dengan “fondasi perdamaian dunia” di tengah pertikaian geopolitik. Ini selaras dengan tradisi politik luar negeri Indonesia yang menekankan kemandirian dan diplomasi, tetapi efektivitasnya bergantung pada konsistensi sikap dan kapasitas ekonomi.

Bagian paling konkret dari pidato Prabowo adalah ketika ia menyinggung Pancasila sebagai pedoman membangun sistem ekonomi nasional. Kalimat ini membuka ruang tafsir: apakah pemerintah akan menguatkan ekonomi kerakyatan, memperketat oligopoli, atau menata ulang perlindungan sosial agar persatuan tidak hanya menjadi narasi.

Jika Pancasila diposisikan sebagai pedoman ekonomi, maka ukuran keberhasilannya harus bisa diuji. Indikatornya dapat berupa penurunan kemiskinan, perbaikan akses layanan dasar, serta kesempatan kerja yang lebih merata, bukan sekadar peningkatan angka makro yang tidak dirasakan luas.

Pancasila sebagai pemersatu bangsa adalah tesis yang kuat, tetapi juga mudah menjadi tameng retorik. Persatuan sering dipakai untuk membungkam kritik, padahal kritik yang sehat justru bisa menjadi mekanisme koreksi agar konsensus tetap hidup.

Jika pemerintah ingin Pancasila “tidak sekadar slogan”, maka ia harus berani menurunkan nilai-nilai itu menjadi keputusan yang kadang tidak populer. Misalnya, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, melindungi minoritas, dan memastikan kebijakan ekonomi tidak hanya menguntungkan kelompok yang dekat dengan kekuasaan.

Di sisi lain, masyarakat juga tidak bisa menyerahkan Pancasila sepenuhnya kepada negara. Pancasila akan menjadi pemersatu yang nyata ketika ia hadir dalam praktik sehari-hari, mulai dari toleransi di ruang publik sampai keberanian menolak politik identitas yang memecah.

Pidato Prabowo pada Hari Lahir Pancasila 2026 menegaskan satu pesan: di dunia yang makin terpecah, Indonesia ingin tetap berdiri di atas konsensus yang menyatukan. Tetapi ujian sesungguhnya bukan pada seberapa sering Pancasila disebut, melainkan seberapa adil ia diwujudkan.

Jika Pancasila benar menjadi pegangan, maka ia harus terlihat dalam ekonomi yang manusiawi, politik yang beradab, dan hukum yang tegas namun setara. Pertanyaannya kini sederhana dan menuntut jawaban nyata: apakah Pancasila akan tinggal sebagai kata-kata indah, atau menjadi kompas yang benar-benar mengubah arah kebijakan?

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)