Kenaikan Suku Bunga BI dan Rupiah: Instrumen Dibuat Menarik Lagi
ORBITINDONESIA.COM – Kenaikan suku bunga BI kembali jadi kata kunci ketika rupiah tertekan dan arus modal global makin selektif. "Jadi, ini harus kita dorong dengan naikkan suku bunga, karena kita harus membuat instrumen rupiah kita itu menjadi menarik lagi," kata Destry.
Pernyataan Destry menegaskan logika klasik bank sentral saat nilai tukar rapuh dan imbal hasil domestik kalah bersaing. Di tengah era suku bunga global tinggi, investor cenderung memilih aset yang memberi kompensasi risiko paling jelas.
Indonesia berada di persimpangan: menjaga stabilitas rupiah sekaligus menahan beban bunga agar ekonomi tidak melambat. Dalam situasi ini, suku bunga menjadi sinyal kebijakan, bukan sekadar angka teknis.
Kenaikan suku bunga membuat imbal hasil instrumen rupiah meningkat, sehingga carry trade kembali menggoda ketika volatilitas bisa dikelola. Mekanismenya sederhana: bunga lebih tinggi memperlebar selisih dengan aset dolar, lalu mendorong aliran portofolio masuk.
Namun efeknya tidak otomatis, karena pasar juga menghitung risiko kurs, likuiditas, dan kredibilitas kebijakan. Jika pelaku pasar menilai tekanan rupiah bersifat struktural, bunga tinggi hanya menjadi penahan sementara.
Data global memperlihatkan mengapa bank sentral negara berkembang lebih defensif dalam dua tahun terakhir. Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 5,25%–5,50% sejak 2023, sehingga dolar tetap atraktif dan menekan mata uang lain (Federal Reserve, 2024–2025).
Di dalam negeri, BI Rate berada di 6,25% sejak April 2024 setelah kenaikan 25 bps untuk menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi (Bank Indonesia, 2024). Narasi “membuat instrumen rupiah menarik” berarti BI ingin premi imbal hasil rupiah cukup besar untuk menutup persepsi risiko.
Masalahnya, suku bunga tinggi membawa biaya yang nyata pada kredit dan konsumsi. Sektor perbankan cenderung menyesuaikan suku bunga pinjaman, sehingga dunia usaha menghadapi cost of fund lebih mahal dan ekspansi bisa tertunda.
Di titik ini, kebijakan suku bunga seperti menarik rem tangan sambil tetap memaksa mesin berputar. Stabilitas nilai tukar memang menekan imported inflation, tetapi permintaan domestik bisa melemah jika rem ditarik terlalu lama.
Karena itu, “menariknya instrumen rupiah” seharusnya tidak hanya bergantung pada bunga. Pasar juga mencari kepastian fiskal, kedalaman pasar obligasi, transparansi kebijakan, serta konsistensi komunikasi bank sentral.
Pernyataan Destry terdengar tegas, tetapi menyimpan pertanyaan yang lebih besar: seberapa jauh negara harus membayar stabilitas dengan bunga tinggi. Jika rupiah dijaga terutama lewat imbal hasil, maka ekonomi domestik berisiko menjadi korban dari strategi pertahanan jangka pendek.
Di sisi lain, membiarkan rupiah melemah tanpa respons juga bukan pilihan ringan. Pelemahan yang tajam dapat mengerek harga impor, memukul kepercayaan, dan memicu spiral ekspektasi yang lebih mahal untuk dipulihkan.
Sudut pandang kritisnya adalah ini: suku bunga tinggi efektif sebagai sinyal disiplin, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya cerita. Indonesia butuh paket yang lebih lengkap, dari pendalaman pasar keuangan, perbaikan iklim investasi, sampai strategi ekspor bernilai tambah agar rupiah kuat karena fundamental, bukan karena “dibeli” lewat bunga.
Kenaikan suku bunga BI, seperti yang disiratkan Destry, adalah upaya membuat instrumen rupiah kembali dilirik ketika persaingan global memanas. Kebijakan ini bisa meredakan tekanan jangka pendek, tetapi selalu menyisakan tagihan bagi pertumbuhan dan biaya kredit.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya “berapa persen bunga yang cukup,” melainkan “ekonomi seperti apa yang membuat rupiah kuat tanpa perlu terus-menerus ditopang.” Stabilitas yang paling tahan lama lahir ketika pasar percaya pada arah kebijakan dan kualitas fundamentalnya. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Mei 2026)