Bab el-Mandeb dan Konflik Yaman Uji Ketahanan Arab Saudi
ORBITINDONESIA.COM – Kekhawatiran Israel terhadap kelemahan Arab Saudi di konflik Yaman kini menguat, terutama setelah laporan media Israel menyorot kemampuan Riyadh menghadapi serangan pasukan Yaman dan Ansarullah. Bab el-Mandeb, selat strategis Laut Merah, menjadi kata kunci yang membuat isu ini melampaui sekadar perang perbatasan.
Laporan Channel 12 Israel menyebut ada “kekhawatiran yang sangat besar” di Israel atas performa Arab Saudi melawan Houthi atau Ansarullah. Kekhawatiran itu tidak hanya militer, tetapi juga politik, karena menyangkut stabilitas mitra regional yang selama ini dianggap penting.
Fars News Agency menulis bahwa Riyadh menghadapi situasi sulit merespons dinamika di lapangan. Perubahan posisi dan tempo konflik membuat lembaga keamanan Israel semakin memantau daya tahan Saudi.
Di saat yang sama, Globes melaporkan Israel mengkaji opsi bantuan bagi Arab Saudi. Pembahasan itu menandai pergeseran: Saudi bukan lagi hanya aktor besar Teluk, tetapi juga pihak yang dinilai rentan.
Channel 12 juga menyebut adanya upaya Riyadh meminta bantuan intelijen dan keamanan dari Israel. Saudi disebut kecewa pada dukungan Amerika Serikat, serta belum memperoleh dukungan yang diharapkan dari Pakistan dan Turki.
Kontak Riyadh–Tel Aviv dikabarkan mencakup pertukaran informasi tentang posisi dan pergerakan pasukan pemerintah Sanaa. Jika benar, hal ini menunjukkan konflik Yaman telah menjadi arena pertukaran kepentingan yang lebih luas.
Bab el-Mandeb adalah jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, sehingga dampaknya bersifat global. Jalur ini terkait langsung dengan akses ke Terusan Suez, yang selama ini menjadi rute utama perdagangan Asia–Eropa.
Secara ekonomi, gangguan di Laut Merah terbukti cepat memukul rantai pasok dan biaya logistik. Pada krisis Laut Merah 2023–2024, banyak pelayaran mengalihkan rute ke Tanjung Harapan, memperpanjang waktu tempuh dan menambah biaya bahan bakar.
Channel 14 Israel menggambarkan penguasaan Bab el-Mandeb oleh pasukan Yaman dan Ansarullah sebagai “pencapaian strategis besar.” Media itu menilai keberhasilan Ansarullah, dengan dukungan Iran, membawa konsekuensi strategis bagi kawasan.
Channel 14 menyebut Houthi telah menyelesaikan penguasaan Pulau Mayyun dan mencapai kota pesisir Dhabab. Klaim tersebut, bila akurat, berarti titik-titik kunci di mulut selat berada dalam radius tekanan kelompok bersenjata yang terbukti mampu menyerang sasaran maritim.
Dalam kalkulasi Israel, isu ini bukan semata soal Saudi kalah atau menang. Isu utamanya adalah siapa yang mampu mengancam atau melindungi arteri perdagangan dan jalur energi di Laut Merah.
Fars News Agency menyebut Israel selama bertahun-tahun berupaya memperkuat kehadiran militer di sekitar Bab el-Mandeb. Salah satu yang disorot adalah rencana pangkalan di Pelabuhan Berbera, Somaliland, yang menghadap langsung ke selat itu.
Rencana Berbera juga dikaitkan dengan pengakuan Israel terhadap Somaliland. Ini memperlihatkan bahwa pengaruh di Bab el-Mandeb tidak hanya dibangun lewat kapal perang, tetapi juga lewat pengaturan diplomasi dan akses pelabuhan.
Di sisi Saudi, pencarian bantuan intelijen dari Israel menunjukkan dua hal penting. Pertama, Saudi memerlukan “mata” dan “telinga” tambahan, karena serangan Yaman menuntut respons cepat dan presisi.
Kedua, ketergantungan pada dukungan eksternal menandakan batas kemampuan Saudi dalam perang asimetris. Konflik Yaman telah lama membuktikan bahwa kekuatan udara dan belanja senjata besar tidak otomatis menghasilkan kendali politik di darat.
Namun, bantuan Israel juga bukan tanpa risiko. Kerja sama terbuka dapat memicu resistensi domestik dan regional, sekaligus memberi amunisi propaganda bagi lawan Saudi.
Bagi Israel, memberi bantuan pun adalah pedang bermata dua. Jika bantuan itu gagal mengubah keadaan, reputasi kemampuan intelijen dan deterensi Israel ikut dipertaruhkan di mata kawasan.
Kekhawatiran Israel terhadap kelemahan Arab Saudi sebetulnya adalah cermin ketakutan yang lebih besar. Ketakutan itu adalah munculnya “kendali efektif” aktor non-negara atas titik sempit perdagangan dunia.
Dalam narasi ini, Bab el-Mandeb bukan sekadar selat, melainkan tombol tekanan geopolitik. Siapa yang dapat mengganggu arus kapal di sana, dapat memaksa negara lain membayar harga politik dan ekonomi.
Riyadh tampak berada dalam dilema strategis yang berulang. Saudi ingin menahan ancaman dari Yaman, tetapi setiap eskalasi berisiko memperluas konflik ke jalur maritim dan fasilitas energi.
Ketika Channel 12 menyinggung kekecewaan Saudi pada Amerika Serikat, itu memberi sinyal perubahan psikologi aliansi. “Payung” keamanan tradisional tidak lagi dirasakan cukup, sehingga opsi yang dulu tabu menjadi mungkin.
Namun, kedekatan Saudi–Israel yang didorong oleh kebutuhan keamanan bisa bersifat transaksional dan rapuh. Jika kepentingan di Laut Merah berubah, poros bantuan itu dapat menguap secepat ia terbentuk.
Yang juga perlu dibaca kritis adalah sumber dan framing informasi. Laporan Fars News Agency, Channel 12, Channel 14, dan Globes membawa kepentingan editorial masing-masing, sehingga publik perlu membedakan antara fakta lapangan, klaim, dan pesan psikologis.
Meski begitu, pola besarnya sulit diabaikan. Konflik Yaman telah bertransformasi dari perang lokal menjadi instrumen tawar-menawar regional, dengan selat strategis sebagai panggungnya.
Pertanyaan kuncinya bukan hanya apakah Arab Saudi mampu menahan serangan pasukan Yaman dan Ansarullah. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah siapa yang akan memegang kendali atas Bab el-Mandeb, dan dengan harga politik apa.
Ketika selat menjadi pusat perhatian, negara-negara cenderung memilih jalan pintas keamanan, termasuk aliansi yang dulu dianggap mustahil. Tetapi jalan pintas sering menyisakan utang konflik yang lebih panjang dari masa krisis itu sendiri.
Pada akhirnya, Bab el-Mandeb mengingatkan bahwa geopolitik modern bergerak lewat titik sempit, bukan garis depan yang luas. Jika dunia ingin stabil, maka yang perlu dijaga bukan hanya perbatasan negara, tetapi juga simpul-simpul laut yang menghidupi ekonomi global. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)