Clapoti dan K-Beauty Diaspora: Ritual Perawatan Tubuh Lintas Budaya
ORBITINDONESIA.COM – Clapoti, brand wellness yang meramu K-beauty dan sensori Prancis, lahir dari perjalanan Marie Perruchet sebagai anak adopsi Korea yang dibesarkan di Prancis. Ia kembali ke Seoul bukan untuk pulang, melainkan untuk menemukan rumah masa kecil yang tak pernah ia miliki.
Kisah Perruchet memperlihatkan paradoks identitas diaspora Korea dalam industri kecantikan global. Ia lahir di Seoul, diadopsi saat 18 bulan, lalu tumbuh di Normandy tanpa bahasa, tradisi, dan ritual kecantikan Korea.
Di Prancis, ia jarang melihat wajah seperti dirinya di majalah kecantikan. Ia mengingat produk yang tak cocok untuk warna kulitnya dan pengakuan penata rambut yang tak tahu menangani tipe rambutnya.
Pengalaman itu bukan sekadar soal kosmetik, melainkan soal siapa yang dianggap “normal” dalam standar kecantikan. Ketika representasi absen, tubuh menjadi proyek koreksi, bukan ruang penerimaan.
Perpindahan lintas negara membentuk cara Perruchet membaca tubuh sebagai peta budaya. Di India, ia bersentuhan dengan refleksologi dan praktik yang menekankan sirkulasi serta ketegangan melalui kaki.
Di California, ia melihat budaya kecantikan yang lebih beragam secara etnis dan lebih pragmatis secara fungsi. Ia juga menyimpulkan bahwa lingkungan baru dapat mengubah cara seseorang merasakan tubuhnya sendiri.
Ia menemukan jjimjilbang pertama kali di Amerika Serikat, lalu membandingkannya dengan pengalaman di Korea. Yang mengejutkan bukan panas dan scrub, melainkan ruang sosial tanpa hierarki kecantikan ala media.
Di pemandian umum itu, tubuh tua, muda, beragam ukuran, hadir tanpa perlu “lulus kurasi” kamera. Perruchet menyebut di sanalah ia memahami jarak antara realitas dan citra media, sekaligus belajar menerima diri.
Jejak jurnalisme ikut membentuk cara ia membangun brand. Saat menjadi koresponden radio di Delhi dan Shanghai untuk BBC, ia belajar menangkap inti cerita cepat karena pendengar sering terdistraksi.
Kemampuan meramu narasi lalu bertemu budaya startup Silicon Valley pada 2008. Ia beralih dari peliputan ke pendampingan founder, bekerja dengan 500 Global, dan menulis buku “One Perfect Pitch” lewat McGraw-Hill.
Di masa pandemi COVID-19, ia melihat celah yang selama ini diabaikan industri: kaki. Spa dan pedikur sulit diakses, sementara rutinitas kecantikan tetap memusatkan perhatian pada wajah.
Dari situ lahir Clapoti pada 2022 dengan fokus perawatan kaki, mata, wajah, termasuk masker. Nama Clapoti diambil dari bahasa Prancis yang meniru bunyi “slush” air, ide yang muncul saat ia berada di spa Korea.
Alih-alih melisensi formula Korea yang sudah jadi, ia menguji puluhan sampel dan meminta formulasi kustom dari nol. Ia memakai bahan seperti green tea, hibiscus, perilla, dan ginger yang akrab dalam kuliner serta tradisi wellness Korea.
Perruchet menegaskan logika jurnalis: Anda tidak menyalin cerita rekan, maka jangan menyalin formula. Sikap ini menempatkan inovasi bukan pada klaim “heritage”, melainkan pada proses penciptaan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Model bisnis Clapoti dominan B2B, masuk ke retailer premium dan perfumeri di Prancis serta Eropa, juga natural grocers di AS. Ia menyiapkan peluncuran di department store Jepang, menandakan strategi ekspansi lintas pasar berdaya beli tinggi.
Clapoti menarik karena menolak jawaban tunggal atas pertanyaan “Korea atau Prancis”. Ketika Perruchet berkata “keduanya”, ia sedang menantang logika pemasaran yang suka mengunci identitas menjadi label sederhana.
Namun, di sinilah ketegangan muncul: identitas ganda bisa menjadi pembebasan sekaligus komoditas. “Loved in Paris and perfected by Korean heritage” terdengar puitis, tetapi juga bekerja sebagai mesin legitimasi untuk pasar Barat yang mengagungkan K-beauty.
Yang membedakan, Perruchet tidak menjual Korea sebagai ornamen eksotis semata. Ia menekankan “ritual over intensity” dan “small, repeated care”, sebuah kritik halus pada budaya instan yang sering dipasarkan sebagai solusi cepat.
Fokus pada kaki juga memuat pesan politis yang tenang. Ia menggeser pusat perhatian dari wajah yang terus dinilai publik ke bagian tubuh yang bekerja diam-diam, jarang dipuji, dan sering dilupakan.
Di sisi lain, narasi penerimaan diri dari ruang jjimjilbang menyingkap kelemahan industri kecantikan modern. Ketika standar dibentuk oleh media, tubuh menjadi proyek tanpa akhir, dan “perawatan” berubah menjadi hukuman yang dibungkus estetika.
Perruchet menawarkan definisi lain: care bukan memperbaiki diri, melainkan memberi perhatian. Definisi ini terasa sederhana, tetapi radikal di tengah pasar yang hidup dari rasa kurang dan rasa takut.
Kisah Marie Perruchet dan Clapoti menunjukkan bahwa K-beauty diaspora tidak selalu tentang tren, melainkan tentang memulihkan hubungan dengan tubuh melalui ritual. Ia membuktikan bahwa identitas bisa dirakit dari pengalaman, bukan diwariskan secara utuh.
Pertanyaannya, apakah industri kecantikan siap merayakan tubuh apa adanya, bukan hanya tubuh yang “laku dijual”? Jika perawatan adalah perhatian yang diberikan dengan bebas, mungkin yang paling kita butuhkan bukan produk baru, melainkan cara baru memandang diri. (Orbit dari berbagai sumber, 26 September 2026)