Teleskop Roman NASA: Penerus Hubble Siap Luncur, Buru 100.000 Eksoplanet
ORBITINDONESIA.COM – Teleskop Luar Angkasa Roman NASA, yang kerap disebut penerus Hubble, bersiap meninggalkan Goddard Space Flight Center menuju Kennedy Space Center untuk persiapan peluncuran final. Misi ini ditargetkan meluncur paling cepat September dengan roket SpaceX Falcon Heavy dari Launch Complex 39A.
NASA mengumumkan pada Senin, 1 Juni, bahwa Roman Space Telescope yang baru selesai akan diangkut menggunakan tongkang Pegasus milik NASA. Perjalanan ini menandai babak terakhir sebelum peluncuran sebuah observatorium andalan yang diharapkan mengubah cara astronom memahami alam semesta.
Di balik bahasa resmi lembaga antariksa, taruhannya konkret: Roman diproyeksikan menemukan sekitar 100.000 planet baru. Angka itu melampaui total temuan eksoplanet saat ini yang baru mendekati 6.300.
Yang diburu Roman bukan hanya “planet tambahan” untuk statistik, melainkan jenis planet yang selama ini sulit ditangkap. Banyak di antaranya diperkirakan berukuran kecil namun berada pada orbit besar, serta berada di wilayah Bima Sakti yang nyaris belum dipetakan oleh pemburu planet.
Roman akan memakai dua pendekatan sekaligus: pengamatan transit dan gravitational microlensing. Transit menandai redupnya cahaya bintang saat planet melintas, sementara microlensing memanfaatkan pembelokan cahaya oleh gravitasi untuk mengungkap planet yang hampir mustahil terlihat dengan cara lain.
Microlensing penting karena dapat menangkap planet yang jauh dari bintangnya, termasuk yang berada di orbit lebar. Dengan itu, Roman bisa mengisi “lubang pengetahuan” yang ditinggalkan survei planet generasi sebelumnya.
Elisa Quintana, peneliti eksoplanet di NASA Goddard, menegaskan bahwa perburuan eksoplanet selama ini terlalu bertumpu pada lingkungan sekitar Matahari. “Roman akan memperluas pencarian cukup jauh untuk mencakup habitat galaksi lain, yang bisa membantu kita mempelajari bagaimana pembentukan planet bervariasi di berbagai wilayah Bima Sakti,” ujarnya pada akhir Mei.
Skala survei Roman juga menjadi pembeda paling tajam dibanding pendahulunya, Kepler. Kepler mengamati sekitar 100.000 bintang dan menemukan ribuan eksoplanet pada 2009–2018, sedangkan Roman diproyeksikan mengamati sekitar 100 juta bintang dalam survei galactic bulge.
Jorge Martínez-Palomera dari NASA Goddard menyebut dataset Roman akan bersifat “fondasional” bagi pemahaman dunia lain dan posisi manusia di kosmos. Klaim ini terdengar besar, tetapi masuk akal karena ukuran sampel yang melonjak beberapa orde magnitudo.
Roman juga melengkapi Gaia milik ESA, yang pada 2013–2025 membuat sekitar tiga triliun pengamatan terhadap dua miliar bintang dalam cahaya tampak. Roman bekerja di inframerah, sehingga mampu menembus debu dan kepadatan wilayah galaksi yang selama ini menghalangi pandangan.
Konsekuensinya bukan sekadar “melihat lebih jauh”, melainkan melihat wilayah yang berbeda secara fisik. Dengan inframerah, pusat galaksi yang padat bisa dibaca sebagai laboratorium alam untuk menguji teori pembentukan planet dalam kondisi ekstrem.
Namun, perjalanan Roman menuju peluncuran tidak pernah lurus. Misi ini dulu bernama Wide Field Infrared Survey Telescope (WFIRST) sebelum berganti nama pada 2020, dan sempat terancam dibatalkan dalam usulan anggaran 2019 dan 2020 pada era Presiden Donald Trump.
Alasan penolakan saat itu berkisar pada biaya dan fokus NASA untuk menuntaskan James Webb Space Telescope. Kongres akhirnya menolak pembatalan dan melanjutkan pendanaan, sementara JWST sukses diluncurkan pada 25 Desember 2021.
Riwayat ini menunjukkan satu pelajaran: sains antariksa tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga oleh stabilitas keputusan politik. Roman lahir dari tarik-menarik prioritas, dan kini diuji oleh ekspektasi yang terlanjur tinggi.
Roman dipasarkan sebagai calon ikon baru seperti Hubble, tetapi ikon tidak lahir dari jargon “flagship” saja. Ikon lahir ketika data yang dihasilkan mengubah pertanyaan publik, dari “apakah ada planet lain” menjadi “planet seperti apa yang paling umum, dan mengapa.”
Target 100.000 eksoplanet terdengar seperti perlombaan angka, padahal nilai utamanya ada pada distribusi dan keragaman temuan. Jika Roman menemukan banyak planet kecil di orbit lebar, maka peta arsitektur tata surya di galaksi bisa bergeser dari model yang selama ini bias oleh metode deteksi.
Di sisi lain, euforia penerus Hubble berisiko menutup diskusi tentang biaya kesempatan. Setiap misi raksasa menyedot anggaran, dan pertanyaannya bukan hanya “bisa atau tidak”, melainkan “apakah ekosistem riset ikut sehat”, termasuk pendanaan analisis data dan akses peneliti muda.
Justru di sini Roman berpotensi menjadi contoh terbaik: ia tidak berdiri sendiri, melainkan memperkuat Kepler, melengkapi Gaia, dan berdialog dengan JWST. Jika koordinasi antarmisi berjalan rapi, Roman dapat mengubah katalog planet menjadi pemahaman sebab-akibat tentang bagaimana planet terbentuk di lingkungan galaksi yang berbeda.
Ketika Roman bergerak dari Maryland ke Florida di atas tongkang Pegasus, ia membawa lebih dari perangkat optik dan jadwal peluncuran. Ia membawa janji bahwa Bima Sakti bukan hanya latar, melainkan peta penuh “alamat” dunia-dunia baru.
Jika Roman sukses, 100.000 eksoplanet bukan sekadar angka, melainkan cermin yang memaksa kita menilai ulang keistimewaan Bumi. Pertanyaan yang tersisa sederhana namun mengguncang: setelah kita menemukan begitu banyak dunia, apa yang akan kita lakukan dengan pengetahuan itu?
(Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)