Cynthia Erivo dan Ariana Grande: Badai Wicked, Rasisme, dan Backlash

Variety

Variety

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Cynthia Erivo menyebut hidup di dalam mesin “Wicked” seperti bertahan “dengan seutas benang”, saat ia dan Ariana Grande berusaha saling menjaga di bawah sorotan global. Setelah “Wicked: For Good” mengantar waralaba dua film itu menjadi raksasa box office bernilai sekitar US$1,2 miliar, Erivo justru mengaku kemanusiaannya terasa “dibajak” oleh cara publik menafsirkan tubuh, ras, dan perannya.

Ketika Cynthia Erivo menggambarkan hidup di dalam “mesin” Wicked, sulit untuk tidak membayangkan seseorang tersapu angin puting beliung. “Kami berpegangan dengan seutas benang,” kata Erivo tentang empat tahun terakhir, “dan kami benar-benar berusaha saling menjaga.”

“Kami” merujuk pada Erivo dan lawan mainnya, Ariana Grande, Glinda bagi Elphaba yang diperankan Erivo. Saat wawancara di London pada April, Erivo sudah enam bulan melewati rilis “Wicked: For Good”, sekuel yang mengunci waralaba itu sebagai juggernaut senilai US$1,2 miliar, sementara ia tampil di panggung lewat pertunjukan satu orang “Dracula”.

Erivo, perempuan kulit hitam queer, masih memproses pengalaman yang ternyata jauh lebih berat dari yang terlihat. “Menarik melihat persepsi orang dibanding realitasnya,” ujarnya sinis, seraya menyinggung “psikolog rumahan” yang merasa tahu siapa mereka dan apa yang mereka alami.

Pemilihan Erivo dan Grande sebagai Elphaba dan Glinda memantik internet sejak awal. Mereka sengaja merawat relasi, tampil bersama dalam banyak wawancara, dan memakai kostum karpet merah yang selaras dengan warna karakter, hijau atau hitam untuk Erivo dan pink untuk Grande.

Namun harmoni itu justru dibedah tanpa henti di ruang digital. “Orang tidak percaya kami benar-benar berteman,” kata Erivo, meski ia menegaskan mereka masih berkirim pesan hampir setiap hari.

Di balik kuku akrilik panjang dan ketenangan elegan, Erivo tampak menjaga lapisan terdalam dirinya. Ia menyebut pekerjaan akting memang menuntut menjadi orang lain, tetapi publik kerap mengira ia “menjadi dirinya sendiri” meski tubuhnya dicat hijau.

Backlash terhadap Wicked terlihat seperti pola klasik budaya internet, yakni euforia yang berubah menjadi kelelahan kolektif. Promosi yang dimulai sembilan bulan sebelum rilis, termasuk tampil di Oscar 2024, membuat film dan bintangnya terasa “terlalu hadir” bahkan sebelum penonton sempat bernapas.

Erivo bukan bintang instan, dan itu penting dalam membaca benturan ini. Ia tumbuh di London Selatan, masuk RADA setelah didorong mentor, lalu menang Tony lewat “The Color Purple” (2016), disusul Daytime Emmy dan Grammy, serta nominasi Oscar pertama untuk “Harriet” (2019).

Nominasi Oscar keduanya datang untuk Elphaba pada 2025, sementara Wicked mendapat total 10 nominasi termasuk Ariana Grande untuk pemeran pendukung. Film itu hanya menang dua piala, desain kostum dan desain produksi, yang bisa dibaca sebagai sinyal bahwa “cinta industri” tidak selalu sebanding dengan “cinta publik”.

Sequel “Wicked: For Good” memperlihatkan sisi rapuh mesin promosi global. Tur 13 hari melintasi São Paulo, Paris, London, Singapura, dan New York terganggu ketika Grande tertahan masalah pesawat dan absen di peluncuran Brasil.

Puncaknya terjadi di Singapura saat seorang pria melompati pembatas dan memegang Grande. Erivo mengingatnya dengan tegas, “Tidak ada yang bergerak,” lalu ia mendorong pria itu karena “dia tidak mau melepas” Grande, sementara semua orang ketakutan.

Insiden itu memunculkan dua reaksi yang saling bertolak belakang. Banyak yang memuji Erivo sebagai penyelamat, tetapi sebagian mengecilkannya sebagai reaksi berlebihan, lalu lahirlah meme yang menjulukinya “bodyguard” Grande.

Di sini analisis ras dan gender menjadi tak terelakkan, karena lelucon itu menempel pada tubuh. “Yang ditertawakan itu fisik saya, bentuk saya, fakta bahwa saya botak,” kata Erivo, dan dari situ muncul asumsi bahwa ia “lebih besar” sehingga perannya harus mengontrol atau melindungi.

Erivo mengaitkannya dengan cara masyarakat memandang perempuan kulit hitam secara “insidious”, atau merayap dan sistemik. Ia menduga reaksi tidak akan sama bila posisi ras dan tubuh dibalik, karena stereotip “kuat, keras, penjaga” sering ditempelkan pada perempuan kulit hitam.

Dampaknya merembet ke musim penghargaan, ketika Erivo memilih mundur secara emosional dari kampanye Oscar. “Kemanusiaan saya dibastardisasi,” ujarnya, karena tindakan naluriah diubah menjadi narasi yang tidak ia pilih, lalu ia merasa tidak ingin “melalui itu lagi”.

Ia juga menyinggung faktor struktural, yakni jendela kampanye Oscar yang semakin panjang pasca-COVID dan sering mundur hingga pertengahan Maret. Durasi yang panjang meningkatkan peluang energi publik berubah menjadi sinisme, dan memperbesar ruang bagi narasi buruk untuk mengendap.

Di tengah badai itu, Erivo kembali ke panggung lewat “Dracula” sebagai bentuk “menjejak tanah” lagi. Ia memerankan 23 karakter dan melafalkan sekitar 20.000 kata dalam dua jam, sebuah intensitas yang berbeda tetapi lebih terkendali dibanding badai media sosial.

Namun bahkan disiplin panggung pun menunjukkan batas tubuh, ketika ia membatalkan dua pertunjukan sehari setelah wawancara. Spekulasi publik muncul, termasuk dugaan terkait London Marathon yang ia selesaikan dalam 3 jam 35 menit, tetapi alasan pembatalan tidak dijelaskan perwakilannya.

Kisah Cynthia Erivo menyorot paradoks budaya selebritas modern, yakni kedekatan yang dibangun lewat promosi justru menghasilkan ilusi kepemilikan publik. Saat publik merasa “mengenal”, batas pribadi mengecil, dan tindakan manusiawi bisa dipelintir menjadi konten lucu yang menguntungkan algoritma.

Label “bodyguard” bukan sekadar candaan, karena ia bekerja sebagai mekanisme sosial yang menempatkan perempuan kulit hitam pada peran fungsional. Ia bukan lagi aktor dengan agensi, melainkan “alat” pelindung, dan itu sejalan dengan sejarah panjang stereotip kekuatan fisik yang meniadakan kerentanan.

Backlash juga memperlihatkan bagaimana overexposure merusak empati, karena repetisi membuat publik mencari “cerita baru” meski harus mengorbankan martabat subjek. Dalam logika ini, badai bukan kecelakaan, melainkan produk sampingan yang hampir pasti dari mesin promosi berbiaya tinggi.

Menariknya, Erivo tetap menemukan sisi terang, seperti debat “sex sweater” Elphaba yang ia sebut bagian paling menyenangkan dari media sosial. Ia juga menekankan makna representasi ketika ia dan Jonathan Bailey, dua aktor gay, memainkan pasangan heteroseksual tanpa dipersoalkan, dan itu menunjukkan ruang baru bagi akting queer di arus utama.

Di luar layar, Bailey mendirikan The Shameless Fund pada 2024 untuk mendukung komunitas LGBTQ global, dan Erivo ikut terlibat karena ingin orang lain merasakan “kenyamanan menjadi diri sendiri”. Di titik ini, badai Wicked justru mengantar pada pertanyaan yang lebih besar tentang siapa yang berhak aman, dihormati, dan dipercaya di ruang publik.

Cynthia Erivo tidak menolak kesuksesan Wicked, tetapi ia menolak cara kesuksesan itu menuntut penghapusan dirinya sebagai manusia. Ia memberi pelajaran bahwa industri hiburan bisa menghasilkan karya besar sekaligus menciptakan ekosistem yang memelihara prasangka, terutama terhadap perempuan kulit hitam.

Jika badai media sosial selalu datang setelah puncak popularitas, maka ukuran kedewasaan publik adalah apakah kita memilih menertawakan tubuh seseorang atau mendengar kata-katanya. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana, apakah kita ingin menjadi penonton yang ikut membangun seni, atau kerumunan yang ikut menggerusnya. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juni 2026)