Saham SpaceX Meroket Usai IPO, Musk Triliuner Pertama

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Saham SpaceX melonjak lagi pada Senin, menandai hari penuh pertama perdagangan setelah IPO SpaceX yang memecahkan rekor. Kenaikan ini mempertegas euforia pasar yang sudah terlihat pada debut Jumat, sekaligus menguji apakah valuasi raksasa antariksa dan AI itu memang layak.

Dalam terjemahan akurat artikel sumber, harga saham SpaceX naik 19,6 persen pada Senin setelah naik 19,2 persen pada Jumat saat debut pasar. Perusahaan juga mengumumkan total dana IPO mencapai 85,7 miliar dolar AS setelah penjamin emisi mengeksekusi opsi membeli saham tambahan pada harga IPO.

Angka 85,7 miliar dolar AS itu melampaui perolehan awal 74,4 miliar dolar AS yang sudah memecahkan rekor IPO terbesar sepanjang sejarah. Rekor lama dipegang Saudi Aramco yang menghimpun lebih dari 29 miliar dolar AS pada 2019.

IPO SpaceX mengangkat Elon Musk, 54 tahun, sebagai triliuner pertama di dunia dan meredakan kegelisahan Wall Street soal penerimaan investor atas valuasi tinggi. IPO ini juga dipandang sebagai barometer bagi perusahaan AI besar lain, seperti Anthropic dan OpenAI, yang disebut-sebut ingin melantai tahun ini.

Setelah lonjakan terbaru, nilai pasar SpaceX diperkirakan sekitar 2,5 triliun dolar AS, menurut artikel sumber. Jika angka ini bertahan, SpaceX bukan sekadar perusahaan antariksa, melainkan pusat gravitasi baru pasar modal global.

Namun, fondasi fundamentalnya tidak sesederhana grafik hijau di layar. SpaceX mengungkap laporan keuangan penuh untuk pertama kali jelang debut, dan mencatat rugi lebih dari 4,9 miliar dolar AS tahun lalu setelah laba 791 juta dolar AS pada 2024.

Kerugian itu dikaitkan dengan kenaikan belanja AI, sementara pendapatan mencapai 18,7 miliar dolar AS, naik 33 persen dari tahun sebelumnya. Artinya, pasar sedang membayar mahal untuk cerita pertumbuhan dan dominasi masa depan, bukan untuk laba saat ini.

Di sisi bisnis, Musk dan SpaceX memang telah mengubah industri melalui roket yang sebagian dapat digunakan ulang dan layanan internet satelit Starlink. Pada Februari, SpaceX membeli perusahaan AI Musk, xAI, yang juga memiliki platform media sosial X, sebagai langkah besar konsolidasi kerajaan bisnisnya.

Merger itu memberi “tali napas” finansial bagi xAI yang telah membakar miliaran dolar untuk mengejar para pesaing. Di titik ini, SpaceX bukan hanya produsen roket, tetapi juga kendaraan pembiayaan untuk ambisi AI Musk.

Artikel sumber juga menyinggung reputasi SpaceX sebagai “misteri finansial” dan kadang berfungsi seperti celengan bagi Musk sejak berdiri pada 2002. Dengan menjadi perusahaan publik, ruang gelap itu menyempit karena pasar menuntut transparansi, disiplin, dan akuntabilitas.

Musk menambah bahan bakar euforia lewat unggahan di X pada Minggu, dengan klaim SpaceX bisa mencapai pendapatan 1 triliun dolar AS pada 2030. Ia bahkan menulis akan “terkejut” jika pendapatan tidak lebih besar dari 1 triliun dolar AS pada 2031, tanpa memaparkan metodologi proyeksi.

Masalahnya, catatan Musk soal target yang kerap meleset membuat pasar perlu memasang rem skeptisisme. Proyeksi pendapatan setinggi itu menuntut eksekusi nyaris tanpa cela, dari peluncuran, produksi, regulasi, hingga monetisasi skala global.

Matt Kennedy dari Renaissance Capital menilai lonjakan Senin juga harus dibaca dalam konteks reli pasar global setelah ada kesepakatan awal untuk mengakhiri perang di Iran. Ia memperkirakan saham SpaceX akan volatil tahun ini dan bahkan bisa turun di bawah harga IPO pada suatu titik.

Kennedy menyebut saham ini “priced to near perfection,” yang berarti ruang kesalahan sangat kecil. Dalam bahasa investor ritel, satu gangguan operasional, satu hambatan regulasi, atau satu koreksi sentimen bisa mengubah pesta menjadi kepanikan.

IPO SpaceX adalah pertaruhan besar publik pada dua hal sekaligus, yakni infrastruktur antariksa dan ekonomi AI. Ketika keduanya digabung dalam satu narasi Musk, pasar seperti membeli masa depan dalam bentuk satu ticker saham.

Namun, konsolidasi SpaceX dengan xAI dan X juga mengaburkan batas antara inovasi dan ketergantungan silang antarperusahaan. Jika SpaceX menjadi mesin kas untuk menutup pembakaran dana AI, investor publik perlu bertanya siapa yang sebenarnya dibiayai oleh siapa.

Euforia IPO SpaceX juga memunculkan efek demonstrasi bagi Anthropic dan OpenAI yang dikabarkan mengejar valuasi mendekati 1 triliun dolar AS. Jika barometer ini kelak pecah, koreksinya dapat menular ke seluruh ekosistem teknologi, dari venture capital hingga pasar tenaga kerja AI.

Di sisi lain, SpaceX memiliki kontrak dengan NASA dan lembaga federal lain, yang memberi legitimasi sekaligus risiko politik. Ketika perusahaan publik bergantung pada proyek strategis negara, dinamika kebijakan dapat menjadi variabel yang sama pentingnya dengan teknologi.

Lonjakan saham SpaceX setelah IPO SpaceX adalah kisah tentang keyakinan pasar pada masa depan yang belum tiba. Angka 85,7 miliar dolar AS yang dihimpun dan valuasi sekitar 2,5 triliun dolar AS menunjukkan investor bersedia membayar premi untuk dominasi yang dijanjikan.

Tetapi kerugian 4,9 miliar dolar AS dan peringatan soal volatilitas mengingatkan bahwa pasar publik tidak memaafkan banyak kesalahan. Pada akhirnya, pertanyaan kuncinya sederhana, apakah SpaceX akan membuktikan bahwa “priced to near perfection” adalah pujian, atau justru peringatan. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juni 2026)