Buku The Digital Delusion Picu Pembatasan Screen Time Sekolah

ORBITINDONESIA.COM – Buku The Digital Delusion mendadak jadi senjata baru gerakan orang tua yang menuntut pembatasan screen time di sekolah. Jared Cooney Horvath mengaitkan turunnya nilai tes standar dengan kebijakan satu murid satu laptop, dan argumennya kini bergema sampai ruang sidang Senat AS.

Di rapat dewan sekolah, orang tua membagikan salinan buku itu seperti selebaran kampanye. Para administrator pun mengutipnya sebagai panduan untuk mengurangi teknologi, sementara aktor Hugh Grant ikut mempromosikan dan menulis testimoni di sampulnya.

Horvath, yang sebelumnya hanya konsultan pendidikan, menerbitkan bukunya secara mandiri pada Desember lalu. Ia menulis bahwa sekolah merugikan anak ketika pembelajaran dipindahkan ke layar, karena otak lebih kuat belajar lewat kertas dan diskusi.

Setelah buku itu beredar, Horvath bersaksi di Senat AS dan beberapa legislatif negara bagian saat wacana pembatasan teknologi sekolah menguat. Koalisi orang tua dari California hingga Maryland mengundangnya ke webinar, dan pemimpin serikat guru besar AFT, Randi Weingarten, menyebutnya “peneliti terkemuka” saat menyerukan pembatasan teknologi.

Horvath sendiri mengaku terkejut dengan dampaknya dan merasa ia hanya memberi bahasa bagi kegelisahan yang sudah lama ada. “Tidak mungkin buku saya berdampak sebesar ini,” katanya, lalu menambahkan orang hanya membutuhkan argumen yang siap pakai.

Terjemahan akurat inti argumen buku itu sederhana dan provokatif: tren penurunan skor tes standar anak Amerika terjadi bersamaan dengan melonjaknya program perangkat 1:1 di sekolah. Dengan sitasi riset akademik, Horvath menyatakan pembelajaran berbasis layar menawarkan distraksi multimedia yang justru menggerus pemahaman.

Ia menulis siswa yang memakai komputer setidaknya enam jam per hari mendapat skor 66 poin lebih rendah pada PISA dibanding siswa yang tidak memakai komputer sama sekali. Ia juga menyebut penggunaan komputer harian di sekolah berkorelasi dengan skor matematika dan sains yang lebih rendah pada TIMSS, lalu menyindir sekolah lebih untung membeli AC ketimbang laptop.

Di level kebijakan, buku ini menjadi “paket persuasi” bagi publik yang merasa kalah pengetahuan di hadapan jargon edtech. Jodi Carreon dari Schools Beyond Screens menyebut buku berlatar pendidikan dan neurosains itu mengurangi “imposter syndrome” orang tua saat berdebat di forum sekolah.

Contoh dampaknya muncul di Granville County Public Schools, North Carolina, yang menjalankan eksperimen “bebas teknologi” dua hari per minggu tanpa laptop. Di California, Julie Frumin membagikan buku itu kepada anggota dewan sekolah saat memperjuangkan opsi anaknya keluar dari penggunaan perangkat di distrik Conejo Valley.

Namun, di kubu pendukung teknologi, buku ini dipandang sebagai pemantik kepanikan baru yang menyasar sasaran keliru. Richard Culatta dari ISTE+ASCD mengatakan banyak pemimpin sekolah meneleponnya dengan panik, karena orang tua datang membawa klaim buku dan menuntut perubahan kebijakan segera.

Keberatan utama mereka adalah lompatan logika dari korelasi ke kausalitas, yakni menyimpulkan perangkat menyebabkan turunnya skor hanya karena keduanya terjadi bersamaan. Culatta menyebut faktor lain, termasuk kesehatan mental, bisa lebih menentukan, apalagi pascapandemi ketika banyak variabel pendidikan ikut berguncang.

Peter Bergman, ekonom pendidikan yang meneliti edtech, menilai korelasi sulit ditafsirkan dan jarang ada satu cerita rapi yang menjelaskan tren nasional besar. Kritikus juga menilai Horvath mencampuradukkan berbagai jenis edtech dan kurang menimbang bukti bahwa penggunaan moderat bisa berdampak positif.

OECD memang menemukan penggunaan komputer berlebihan berkorelasi dengan skor lebih rendah pada 2022, tetapi penggunaan perangkat untuk belajar 1–5 jam per hari justru lebih baik daripada tidak memakai sama sekali. Horvath menyebut data itu pengecualian karena diambil saat disrupsi pandemi, dan ia menekankan skor matematika keseluruhan juga turun tajam.

Jacob Pleasants dari Civics of Technology Project melihat dilema: banyak argumen Horvath “meragukan”, tetapi saran praktisnya sering masuk akal. Ia menyebut audit produk edtech, kehati-hatian mengadopsi AI, dan evaluasi manfaat dibanding metode tradisional adalah agenda yang layak didukung.

Horvath mengakui ada edtech yang terbukti membantu, seperti perangkat lunak tutor adaptif yang menyesuaikan kebutuhan siswa. Namun ia menegaskan untuk banyak produk, riset belum cukup menunjukkan peningkatan dibanding buku cetak, tulisan tangan, dan pengajaran langsung.

Perdebatan ini menunjukkan masalah inti bukan sekadar “pro” atau “anti” teknologi, melainkan krisis kepercayaan pada keputusan belanja dan desain pembelajaran. Saat sekolah membeli perangkat dan lisensi besar-besaran selama Covid-19, banyak yang tidak sempat menguji efektivitasnya, sehingga publik mudah menerima narasi bahwa layar adalah biang kerok.

Horvath berhasil karena menawarkan cerita tunggal yang mudah diulang di rapat dewan sekolah, lengkap dengan angka dan rujukan. Dalam politik kebijakan publik, cerita yang ringkas sering mengalahkan evaluasi yang rumit, terutama ketika orang tua melihat anaknya lelah, terdistraksi, dan makin jauh dari kebiasaan membaca mendalam.

Namun, menyalahkan edtech secara total juga berisiko mengulang kesalahan yang sama, hanya dengan arah berlawanan. Jika sekolah mengganti “semua harus digital” menjadi “semua harus kertas” tanpa desain pedagogi yang jelas, yang berubah hanya medianya, bukan mutu pengajaran.

Yang lebih produktif adalah menempatkan teknologi sebagai alat terbatas, bukan ideologi. Sekolah perlu menetapkan kapan layar memberi nilai tambah yang terukur, kapan kertas lebih unggul, dan kapan diskusi tatap muka tak tergantikan, lalu berani memotong aplikasi yang hanya menambah beban.

Di titik ini, kritik “korelasi vs kausalitas” tidak membatalkan kegelisahan orang tua, tetapi mengingatkan agar kebijakan tidak dibangun dari kepanikan moral. Menurunnya skor bisa terkait banyak variabel, tetapi layar yang berlebihan tetap layak diperlakukan sebagai risiko yang harus dikendalikan.

Horvath berencana pindah ke Italia, negara yang ia nilai lebih seimbang dalam penggunaan layar dan lebih menekankan tulisan tangan, sambil menyiapkan buku baru tentang cara manusia belajar. Ia tidak mengklaim menciptakan model sekolah baru, hanya “mendorong kita kembali” ke sesuatu yang menurutnya sudah terbukti bekerja.

Pertanyaannya kini: apakah sekolah akan merespons dengan evaluasi berbasis bukti, atau dengan perang identitas antara kubu digital dan kubu analog. Jika pendidikan memang tentang belajar, maka keberanian terbesar mungkin bukan memilih layar atau kertas, melainkan memilih apa yang paling jujur membantu anak memahami dunia. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)