24 Jump Street Digarap Sony, Jonah Hill dan Channing Tatum Kembali

The Hollywood Reporter

The Hollywood Reporter

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – 24 Jump Street resmi masuk tahap pengembangan di Sony Pictures, menandai kembalinya waralaba komedi polisi yang dibintangi Jonah Hill dan Channing Tatum. Keduanya, bersama Ice Cube, disebut sedang dalam pembicaraan untuk kembali, menurut konfirmasi The Hollywood Reporter.

Artikel sumber menyebut 24 Jump Street adalah sekuel terbaru dari 21 Jump Street (2012) dan 22 Jump Street (2014) yang sukses besar di box office. Kali ini, Rodney Rothman akan menyutradarai dari naskah yang ia tulis bersama Jonah Hill dan Meghan Malloy.

Phil Lord dan Chris Miller, sutradara dua film sebelumnya, kembali sebagai produser bersama Neal H. Moritz dan Tania Landau. Hill dan Matt Dines (Strong Baby Productions) serta Tatum dan Reid Carolin (Free Association) juga tercatat sebagai produser.

Detail cerita belum dibuka, tetapi judulnya langsung melompat ke 24 Jump Street dan melewati angka 23. Moritz sempat mengunggah halaman judul naskah dengan catatan, “Butuh waktu lama untuk membuatnya, jadi kami harus melewati satu.”

Keputusan menghidupkan lagi Jump Street berangkat dari logika industri: waralaba yang terbukti laku lebih aman daripada ide baru yang belum teruji. Data yang disebut dalam artikel menunjukkan 21 Jump Street melampaui 200 juta dolar AS secara global, sementara 22 Jump Street meraup 331 juta dolar AS di seluruh dunia.

Angka tersebut menempatkan Jump Street sebagai komedi arus utama yang jarang gagal, karena komedi layar lebar sering lebih sulit menembus pasar internasional. Sony tampak membaca nostalgia sekaligus “brand recognition” sebagai modal untuk menarik penonton lama dan generasi baru.

Rothman, yang memenangkan Oscar untuk Spider-Man: Into the Spider-Verse, memberi sinyal bahwa proyek ini ingin lebih rapi secara struktur dan ritme komedi. Ia juga pernah dikreditkan mengerjakan naskah 22 Jump Street, sehingga kontinuitas gaya humor meta dan parodi sekuel bisa tetap terjaga.

Namun tantangan terbesar bukan sekadar membuat penonton tertawa, melainkan menemukan alasan dramatis mengapa Schmidt dan Jenko harus kembali menyamar. Dua film sebelumnya sudah “menyelesaikan” lelucon utamanya: menyusup ke SMA lalu kampus, dan menertawakan formula sekuel itu sendiri.

Lompatan judul dari 22 ke 24 adalah strategi pemasaran yang memancing rasa penasaran sekaligus mengakui jeda produksi yang panjang. Di era media sosial, candaan internal seperti ini sering lebih efektif daripada sinopsis, karena memicu pembicaraan organik sebelum trailer muncul.

Artikel juga mengingatkan bahwa proyek film ketiga pernah lama dibicarakan, termasuk gagasan crossover dengan Men in Black, sebelum disebut “mati.” Fakta ini penting karena menunjukkan 24 Jump Street bukan sekadar kelanjutan alami, melainkan kebangkitan dari rencana yang sempat buntu di ruang rapat studio.

Di sisi lain, pernyataan Tatum pada 2024 menjadi petunjuk bahwa naskah “film ketiga” sebenarnya sudah pernah ada dan bahkan ia puji. Ia berkata ingin “melihat 23 Jump Street” dan ingin “bermain lagi” bersama Hill, yang menegaskan dorongan kreatif aktor ikut mendorong proyek ini bergerak.

Kembalinya Jump Street memperlihatkan paradoks Hollywood modern: kreativitas sering muncul justru lewat pengulangan, tetapi pengulangan yang sadar diri. Waralaba ini sejak awal hidup dari mengejek klise polisi-buddy dan mekanisme sekuel, sehingga “sekuel lagi” bisa menjadi bahan lelucon utamanya.

Namun ada risiko bahwa meta-humor berubah menjadi sekadar nostalgia yang diperas, apalagi ketika jeda sudah lebih dari satu dekade. Jika 24 Jump Street hanya mengulang pola penyamaran tanpa taruhan emosional baru, ia bisa terdengar seperti komentar lama yang dibacakan ulang.

Yang membuat proyek ini menarik adalah komposisi timnya: Hill ikut menulis, Rothman mengarahkan, Lord-Miller memproduksi. Kombinasi ini membuka peluang bahwa film baru tidak hanya menertawakan sekuel, tetapi juga menertawakan budaya reboot dan “IP economy” yang kini mendominasi studio.

Judul yang melompati 23 juga bisa dibaca sebagai sindiran terhadap obsesi industri pada penomoran dan kesinambungan merek. Dalam satu kalimat, film ini seolah berkata: penonton tidak datang untuk urutan, melainkan untuk chemistry Hill–Tatum dan energi komedi yang tak dibuat-buat.

24 Jump Street sedang disiapkan, tetapi publik belum diberi satu pun petunjuk soal cerita, selain sinyal bahwa para pemain inti hampir pasti kembali. Justru kekosongan detail itu membuat pertanyaan utama menguat: apakah film ini akan menemukan permainan baru, atau hanya mengulang permainan lama dengan nomor yang lebih besar.

Jika Jump Street ingin relevan, ia perlu menertawakan sesuatu yang lebih dekat dengan zaman sekarang, bukan hanya sistem sekolah atau kampus seperti dulu. Pada akhirnya, sekuel terbaik bukan yang paling keras memanggil masa lalu, melainkan yang paling jujur membaca masa kini. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Juni 2026)