Kasus Screwworm Baru di Texas: Ancaman Serius Industri Sapi AS
ORBITINDONESIA.COM – Kasus screwworm (cacing sekrup) kembali muncul di Texas dan bahkan menyeberang ke New Mexico, menandai betapa sulitnya menghentikan hama yang bisa melumpuhkan industri sapi Amerika Serikat. USDA mengonfirmasi tiga kasus tambahan, termasuk satu yang berada di luar klaster utama, saat pemerintah dan peternak berpacu melawan waktu.
Screwworm bukan cacing, melainkan larva lalat yang memakan daging hidup, bukan bangkai. Lalat bertelur di luka terbuka pada sapi, tetapi satwa liar, hewan peliharaan, dan sesekali manusia juga bisa terinfestasi.
Selama puluhan tahun, AS mengandalkan program “lalat jantan steril” yang dijatuhkan dari pesawat untuk kawin dengan betina liar. Karena betina hanya kawin sekali, pertemuan dengan jantan steril membuat siklus populasi terputus dan screwworm lama tertahan di ujung selatan Panama.
Kini, kebangkitan hama itu menguji ulang model pengendalian lama di tengah mobilitas ternak, padatnya perdagangan lintas batas, dan perubahan iklim mikro yang memengaruhi kelembapan. Dalam narasi resmi, ini soal karantina dan teknik, tetapi di lapangan ini juga soal kepercayaan peternak pada kecepatan negara.
USDA menyebut total ada lima kasus terkonfirmasi, yakni tiga anak sapi dan seekor kambing di Texas, serta seekor anjing dari Lea County, New Mexico. Kasus anjing itu semula dilaporkan sebagai Texas, lalu direvisi menjadi kasus pertama New Mexico.
Detail ini penting karena menunjukkan dua hal sekaligus, yaitu risiko salah klasifikasi awal dan potensi persebaran di luar titik yang diperkirakan. Anjing tersebut tidak bepergian ke Meksiko atau Texas, sehingga otoritas menyelidiki area sekitar properti tempat hewan itu tinggal.
Jika lalat terinfeksi ditemukan, inspeksi hewan di sekitar lokasi akan ditingkatkan, kata Dokter Hewan Negara Bagian New Mexico, Samantha Holeck, dalam konferensi pers virtual. Ini menandakan strategi yang mengandalkan pelacakan lokal dan peningkatan pengawasan, bukan sekadar respons reaktif pada ternak yang sudah sakit.
Kasus awal pekan lalu ditemukan pada dua anak sapi yang berjarak beberapa mil di selatan Texas. Pada Senin, kasus baru diumumkan pada anak sapi di La Salle County, barat daya San Antonio, dan pada kambing di Gillespie County, barat Austin.
Di setiap temuan, pejabat menetapkan zona karantina 12 mil atau sekitar 20 kilometer. Karantina ini bertujuan memperlambat laju parasit, tetapi juga menambah biaya logistik, menghambat pergerakan ternak, dan memicu efek domino pada rantai pasok.
Edward Burgess, entomolog Universitas Florida, mengingatkan bahwa lonjakan temuan tidak otomatis berarti penyebaran melaju cepat. “Ketika kasus pertama terlihat, semua orang jadi sangat waspada dan mengawasi lebih intens,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ketika orang mencari sesuatu, kemungkinan menemukannya meningkat.
Namun, tetap ada alasan kuat untuk cemas, karena screwworm menggali masuk ke luka dan memperparahnya. Hama itu memperbesar risiko infeksi bakteri mematikan, dan hewan bisa mati dalam beberapa minggu bila tidak ditangani.
Pemerintah menyebut ada sekitar selusin obat yang disetujui untuk mengobati ternak. Artinya, masalahnya bukan semata ketiadaan terapi, melainkan kecepatan deteksi, kedisiplinan perawatan, dan kapasitas pengawasan di wilayah yang luas.
Para ilmuwan juga mengkhawatirkan dampaknya pada jutaan rusa ekor putih di Texas. Jika satwa liar menjadi reservoir, maka pengendalian pada ternak saja tidak cukup, karena siklus reinfeksi dapat berulang dari alam ke peternakan.
USDA telah menjatuhkan lalat steril di selatan Texas sejak Februari, setelah screwworm terdeteksi di Meksiko pada akhir 2024. Pemerintah juga berupaya meningkatkan produksi lalat steril di fasilitas luar AS serta membangun pabrik lalat senilai 750 juta dolar AS di Texas.
Di sisi ekonomi, kemunculan kembali screwworm belum banyak mengubah harga daging sapi, yang memang sudah mendekati rekor karena populasi sapi AS menurun. USDA menekankan parasit ini menyerang ternak hidup, tetapi tidak menginfestasi daging atau buah.
Meski begitu, dampak perdagangan sudah terasa, karena Kanada menghentikan sementara impor sapi, kuda, dan ternak lain dari Texas pada Jumat. Parasit menyukai area lembap dengan suhu setidaknya 25 derajat Celsius, sehingga wilayah utara cenderung menghadapi risiko lebih tinggi pada musim panas.
Dalam jangka panjang, solusi “jantan steril” disebut masih berjarak beberapa bulan untuk mencapai skala yang menentukan. Targetnya adalah memiliki cukup lalat steril untuk mencegah hama kembali pada 2027 setelah musim dingin membunuh sebagian besar populasi, kata Menteri Pertanian AS Brooke Rollins.
Kisah screwworm adalah pelajaran tentang kebijakan publik yang selalu datang terlambat ketika alam bergerak lebih cepat daripada birokrasi. Ketika ancaman sudah masuk ke peternakan, negara tidak lagi punya kemewahan untuk hanya mengandalkan prosedur standar dan ritme anggaran.
Gubernur Texas Greg Abbott menegaskan kondisi ini sangat bisa diobati jika ditangani segera. Pernyataan itu benar secara klinis, tetapi menutupi fakta bahwa “segera” bergantung pada sistem pelaporan, kesadaran peternak, dan akses layanan veteriner di wilayah pedesaan.
Di sisi lain, Komisaris Pertanian Texas Sid Miller menilai respons federal terlalu lambat dan berisiko melumpuhkan industri sapi. Ia mendorong penggunaan umpan beracun yang, menurutnya, dapat menghapus masalah dalam beberapa bulan.
Namun USDA dan pakar lain menyebut umpan itu belum terbukti efektif dan bisa meracuni lalat lain, hewan, bahkan manusia. Kalimat Miller, “What the hell is a good fly?”, memotret logika politik yang mengutamakan hasil cepat, meski dengan risiko ekologis dan kesehatan publik.
Di titik ini, debat bukan sekadar soal metode, melainkan soal siapa yang menanggung risiko ketika eksperimen kebijakan dilakukan di ruang terbuka. Jika umpan beracun salah sasaran, biaya sosialnya bisa melampaui kerugian peternakan, dan kepercayaan publik pada lembaga pun runtuh.
Karena itu, pendekatan paling rasional adalah kombinasi disiplin karantina, perawatan cepat, dan perluasan program lalat steril yang berbasis bukti. Kecepatan tetap penting, tetapi kecepatan tanpa bukti sering berubah menjadi bencana yang lebih mahal.
Kemunculan kembali screwworm di Texas dan New Mexico menunjukkan bahwa kemenangan lama atas hama tidak pernah benar-benar final. Ketika satwa liar, ternak, dan mobilitas manusia beririsan, satu larva bisa menjadi isu nasional.
Pertanyaannya kini bukan hanya bagaimana menghentikan screwworm, tetapi bagaimana membangun sistem respons yang lebih lincah daripada siklus hidup seekor lalat. Jika negara memilih jalan pintas yang berisiko, siapa yang akan membayar ketika “solusi cepat” berubah menjadi masalah baru?
(Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)