Perang Gaza Pasca 7 Oktober Mengubah Geopolitik Timur Tengah

republika.co.id

republika.co.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Perang Gaza pasca 7 Oktober 2023 kembali menempatkan Palestina di pusat geopolitik Timur Tengah, saat normalisasi Israel-Arab yang sempat melaju kini tersendat oleh kemarahan publik. Serangan 7 Oktober dan balasan Israel yang disebut banyak pihak sebagai genosida membuat peta keamanan kawasan bergeser dari isu dagang ke isu legitimasi dan moral.

Sebelum 7 Oktober, Timur Tengah bergerak menuju normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab melalui Kesepakatan Abraham. Jalur ekonomi, teknologi, dan keamanan dipromosikan untuk menggantikan konflik Palestina sebagai poros politik kawasan.

Dalam kerangka itu, Arab Saudi kerap disebut sebagai target kunci berikutnya, disusul negara-negara berpenduduk Muslim besar di Asia. Gaza lalu menjadi rem keras yang memaksa banyak pemerintah menghitung ulang biaya politik dari hubungan terbuka dengan Israel.

Data Israel menyebut sekitar 1.200 orang tewas dan lebih dari 250 orang disandera pada 7 Oktober 2023. Namun riset lanjutan dan pengakuan pejabat Israel juga memunculkan kontroversi tentang korban yang terkait penerapan protokol Hannibal oleh militer Israel.

Di Gaza, operasi militer Israel menghancurkan sebagian besar wilayah dan menimbulkan korban sipil yang sangat besar. WAFA melaporkan korban jiwa mencapai 74.245 orang dan luka-luka 175.267 orang sejak agresi dimulai.

Bahkan setelah “gencatan senjata” 11 Oktober 2025, WAFA mencatat 1.462 orang tewas dan 5.151 luka-luka, serta ditemukannya kembali 836 jenazah warga sipil. Angka-angka ini memperlihatkan bahwa jeda tembak tidak otomatis berarti jeda penderitaan.

Dampak perang tidak berhenti di Gaza, karena krisis menjalar ke Lebanon, Iran, Yaman, Suriah, Laut Merah, dan Teluk Persia. Rantai eskalasi ini membuat risiko perang regional meningkat dan memaksa banyak negara menggeser prioritas dari perdagangan ke keamanan.

Opini nasihat ICJ pada 2025 mencatat tingkat kendali efektif Israel atas Gaza meningkat setelah 7 Oktober. Konsekuensinya, kewajiban Israel menurut hukum pendudukan juga dinilai ikut meningkat, sehingga ruang pembenaran “operasi militer biasa” makin dipersempit oleh norma hukum internasional.

Di saat perhatian global sempat terseret ke Ukraina dan kompetisi AS-China, Gaza tetap menjadi simpul penjelas perubahan konfigurasi keamanan Timur Tengah. Gaza menjadi panggung tempat moral, hukum, dan kepentingan strategis bertabrakan secara terbuka.

Perang Gaza pasca 7 Oktober mengungkap paradoks besar diplomasi kawasan: stabilitas yang dijanjikan normalisasi ternyata rapuh ketika penderitaan sipil disiarkan tanpa henti. Negara-negara Arab kini menghadapi dilema antara kepentingan negara dan tekanan opini publik yang melihat Israel sebagai pelaku genosida.

Normalisasi yang dulu dipasarkan sebagai “integrasi regional” berubah menjadi ujian legitimasi rezim. Hubungan yang tetap berjalan pun cenderung bergerak di bawah meja, karena biaya politik di ruang publik meningkat drastis.

Yang paling mengganggu adalah perubahan bahasa kekuasaan dari kompromi ke pemaksaan. Ketika angka korban membengkak dan bantuan kemanusiaan menjadi alat tawar, diplomasi tidak lagi terasa sebagai jalan keluar, melainkan sebagai penundaan tragedi.

Gaza juga memaksa dunia membaca ulang makna keamanan. Keamanan tidak bisa hanya dihitung dari perjanjian pertahanan, karena kemarahan kolektif dapat menjadi bahan bakar instabilitas lintas batas.

Jika sebelum 7 Oktober isu Palestina nyaris tergeser oleh agenda investasi dan teknologi, kini ia kembali sebagai inti pertanyaan politik. Pertanyaannya bukan lagi kapan normalisasi selesai, melainkan tatanan macam apa yang mungkin lahir setelah luka sosial yang begitu dalam.

Perang Gaza pasca 7 Oktober telah mengubah geopolitik Timur Tengah dengan cara yang sulit diputar balik. Normalisasi Israel-Arab masih mungkin bertahan secara teknis, tetapi kehilangan fondasi moral di mata banyak warga.

Sejarah sering bergerak bukan karena pidato pemimpin, melainkan karena gambar-gambar penderitaan yang mengubah persepsi massal. Jika Gaza telah menjadi cermin bagi dunia, pertanyaan akhirnya sederhana namun berat: tatanan baru akan dibangun di atas keadilan, atau di atas kebiasaan melupakan.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Oktober 2026)