Yosemite Overcrowding 2026: Reservasi Dihapus, Taman Kian Sesak

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Di kaki Yosemite Falls, air putih menghantam tebing granit saat pasangan berebut ruang di antara kerumunan demi swafoto air terjun yang “sempurna”. Bangku kayu dengan satu kursi menjadi rebutan, dan seorang turis tersandung balita yang lalu menangis keras.

Akhir pekan ini, tontonan paling mencolok di Yosemite National Park bukan hanya lanskapnya, melainkan lautan manusia. Inilah wajah Yosemite overcrowding 2026 setelah sistem reservasi musim panas dihapus.

Yosemite, mahkota sistem taman nasional Amerika, mengalami kepadatan lebih parah dari biasanya pada 2026. Penghapusan reservasi musim panas terjadi setelah pemerintahan Trump mendorong taman-taman populer mencabut pembatasan demi “akses” dan ekonomi lokal.

Paruh pertama 2026 diwarnai kemacetan berjam-jam, antrean di gerbang masuk, dan barisan panjang hanya untuk membeli makanan. Sebagian pelancong bahkan membatalkan rencana dan keluar karena semua atraksi utama sudah penuh.

Dua senator AS dari California, Adam Schiff dan Alex Padilla, menyebut situasi ini jauh dari pengalaman “menggetarkan” yang identik dengan Yosemite. Dalam surat kritik mereka, pembatalan reservasi dinilai merusak mutu kunjungan dan citra taman.

Juli memang bulan tersibuk di taman nasional, dan di Yosemite tanda-tandanya mengarah ke kekacauan. Pada Jumat pagi, sebelum pukul 07.00, pengemudi sudah berputar dari satu lahan parkir ke lahan parkir lain di Yosemite Valley untuk mencari tempat.

Lakshmi Duddukuru, 41 tahun, menghabiskan 45 menit hanya untuk parkir pada kunjungan pertamanya. Di Mist Trail, arus pendaki bergerak seperti ular panjang, lambat, dan rapat.

Shuttle gratis yang seharusnya mengurangi kendaraan justru sering penuh dan tak bisa menampung penumpang di halte. Seorang sopir yang frustrasi sampai berteriak, “Kalau kalian tidak menyentuh orang lain, berarti belum cukup rapat.”

Secara historis, Yosemite Valley mengilhami lahirnya sistem taman nasional karena menjadi lahan federal pertama untuk penggunaan publik lewat undang-undang 1864 yang ditandatangani Abraham Lincoln. Air terjun dan monolit pahatan gletser seperti Half Dome dan El Capitan menjadikannya salah satu taman paling dicintai sekaligus paling ramai.

Yosemite mulai menguji reservasi musim panas pada 2020 untuk menahan ledakan pengunjung. Namun pada 2026, Yosemite, Arches, dan Glacier menghapus reservasi setelah perintah eksekutif yang meminta taman mencabut pembatasan.

Superintendent Ray McPadden menilai reservasi seharusnya “jalan terakhir”. Ia menyebut praktik sebelumnya membuat keluarga ditolak masuk karena tak memesan, sekaligus menghilangkan pemasukan biaya yang bisa dipakai memperbaiki jalur, perkemahan, dan toilet.

McPadden menganggap taman tidak terlalu sesak kecuali hari libur dan Sabtu. Ia memperkirakan kenaikan kunjungan 12% dibanding tahun lalu, menuju sekitar 4,7 juta pengunjung, atau tahun tersibuk kedua dalam sejarah Yosemite.

Serikat pekerja NFFE Local 465 menolak optimisme itu dan menyebut penghapusan reservasi melemahkan staf, apalagi saat kekurangan pegawai akibat pemotongan federal. Kemacetan memperpanjang waktu tempuh pegawai dan menyulitkan mereka menjalankan tugas lapangan.

Organisasi advokasi juga menyoroti sisi fiskal dan tata kelola. Mereka menyebut Yosemite tidak banyak diuntungkan dari pemasukan pada akhir pekan libur karena kebijakan hari gratis yang diubah.

Dalam perombakan National Park Service, Trump mengakhiri hari masuk gratis tertentu seperti ulang tahun Martin Luther King Jr. Sebaliknya, ia memberi masuk gratis bagi warga AS pada ulang tahunnya yang bertepatan dengan Flag Day, serta 3, 4, dan 5 Juli.

Kepadatan mendorong pengunjung keluar jalur, sementara pengawasan dinilai tak sekuat dulu. Lalu lintas bumper-to-bumper juga berisiko menunda ambulans dan kendaraan darurat.

Mark Rose dari National Parks Conservation Association menyebut kepadatan ini “bencana lingkungan” sekaligus isu keselamatan. Frasa itu menegaskan bahwa masalahnya bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan risiko struktural pada ekosistem dan respons darurat.

Namun banyak wisatawan tampak tidak terlalu terganggu. Keindahan sungai yang bening dan sequoia raksasa membuat rasa lelah menunggu seperti “harga wajar” musim panas.

Duddukuru menilai taman tetap “luar biasa” meski menunggu 45 menit untuk shuttle. Penantian itu terasa terbayar ketika keluarganya melihat beruang.

Sasha Rubeiz, 23 tahun, mengakui satu jalur sempit terasa berbahaya karena terlalu ramai. Tetapi ia mengatakan kunjungan pertamanya tetap “tidak nyata,” karena ia lebih banyak menatap puncak pinus dan langit biru daripada melihat langkah kaki.

McPadden menyebut sedang menyiapkan pagar dan batu besar untuk mencegah parkir ilegal. Ia juga ingin memasang papan digital yang menunjukkan lahan parkir mana yang sudah penuh agar pengemudi tak terus berputar.

Ia tidak memastikan apakah reservasi akan kembali tahun depan. Ia berkata ingin mengikuti “fakta” yang menurutnya “sangat, sangat positif” di taman.

Kontroversi reservasi Yosemite pada dasarnya adalah pertarungan antara akses instan dan pengalaman yang layak. Tanpa pengendalian, “akses” berubah menjadi akses ke kemacetan, antrean, dan keputusan spontan untuk menyerah lalu pulang.

Argumen bahwa reservasi itu tidak adil bagi keluarga yang tidak merencanakan jauh-jauh hari memang relevan. Tetapi ketidakadilan baru muncul ketika keluarga yang sudah datang justru terjebak berjam-jam, gagal parkir, dan ditolak di titik-titik yang penuh.

Data proyeksi 4,7 juta pengunjung memberi sinyal bahwa Yosemite sedang mendekati batas fungsionalnya, bukan hanya batas estetika. Pada titik itu, kebijakan “tanpa pembatasan” menjadi eksperimen sosial yang menekan staf, habitat, dan keselamatan.

Di sisi lain, pengunjung seperti Brett Birkbeck, polisi 49 tahun, tetap datang dan menyebut Yosemite sebagai tombol “reset” tahunan. Ia makan hot dog dan minum anggur merah dari gelas plastik sambil memasang tenda, seolah keramaian tak mampu mengusir ritual pemulihannya.

Justru di situlah paradoksnya, karena Yosemite dijual sebagai pelarian dari dunia, tetapi kini memantulkan dunia itu sendiri. Ketika alam menjadi latar swafoto massal, kebijakan publik semestinya memastikan keheningan dan keselamatan tidak ikut hilang.

Yosemite 2026 menunjukkan bahwa keindahan alam tidak otomatis tahan terhadap lonjakan manusia, apalagi ketika instrumen pengelolaan dicabut. Reservasi mungkin tidak sempurna, tetapi ketiadaannya memperlihatkan biaya tersembunyi berupa kemacetan, stres staf, dan potensi kerusakan ekologi.

Pertanyaan besarnya bukan sekadar apakah reservasi akan kembali, melainkan model akses apa yang paling jujur terhadap kapasitas taman. Jika tujuan taman nasional adalah melindungi sekaligus memberi pengalaman publik, berapa banyak “publik” yang masih bisa ditampung tanpa mengorbankan perlindungan itu?

(Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)