Sensus Ekonomi 2026 Bogor: Petugas BPS Ditolak, Data Dipertaruhkan

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Sensus Ekonomi 2026 di Kota Bogor kembali mengandalkan metode door-to-door, dan di situlah drama dimulai. Petugas BPS Kota Bogor mendapati pintu yang tertutup rapat, tatapan curiga, hingga pertanyaan tajam soal keamanan data pribadi.

Sensus Ekonomi 2026 menuntut pendataan aktivitas usaha warga, dari warung rumahan sampai pekerja lepas yang tak punya papan nama. Di lapangan, petugas BPS Kota Bogor harus memetakan ekonomi yang kian cair, berpindah platform, dan sering tak tercatat.

Warga seperti Sri mengaku ragu membuka informasi karena maraknya penipuan berkedok pendataan. Florence, yang lebih melek digital, tetap meminta bukti identitas dan penjelasan tujuan sebelum menjawab pertanyaan.

Keraguan itu wajar karena kebocoran data dan telepon spam membuat orang belajar waspada. Namun kewaspadaan yang berujung penolakan juga membuat negara kehilangan potret ekonomi yang akurat.

Metode door-to-door masih dipakai karena banyak unit usaha kecil tidak tercakup dalam basis data formal. Di kota seperti Bogor, ekonomi rumah tangga sering menyaru sebagai aktivitas harian, sehingga hanya terlihat jika didatangi langsung.

Masalahnya, ruang privat warga kini lebih ketat dijaga daripada sebelumnya. Kepercayaan publik terhadap institusi menjadi variabel utama, bukan sekadar kelengkapan formulir dan jumlah enumerator.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia berulang kali diguncang isu kebocoran data yang memicu ketakutan kolektif. Di konteks itu, pertanyaan petugas sensus tentang omzet, jenis usaha, atau jumlah pekerja terdengar seperti risiko, bukan layanan.

Padahal data sensus ekonomi adalah fondasi kebijakan, mulai dari penyaluran program UMKM hingga perencanaan pajak dan infrastruktur pasar. Ketika data meleset, bantuan bisa salah sasaran, dan pemerintah cenderung “menebak” kebutuhan warga.

Di tingkat mikro, petugas menghadapi dilema etis sekaligus operasional. Mereka harus tegas mengejar target, tetapi juga harus cukup empatik untuk tidak memaksa orang yang merasa terancam.

Respons Sri memperlihatkan pola umum: warga ingin kepastian bahwa yang datang benar petugas resmi dan jawabannya tidak disalahgunakan. Respons Florence menunjukkan hal lain: warga bersedia membantu, tetapi menuntut transparansi prosedur dan perlindungan data.

Di sinilah komunikasi publik menjadi sama pentingnya dengan instrumen statistik. Identitas petugas, kanal verifikasi, dan penjelasan singkat yang mudah dipahami sering lebih menentukan daripada selembar surat tugas.

Sensus Ekonomi 2026 di Bogor bukan sekadar cerita petugas yang kelelahan berjalan dari gang ke gang. Ini cermin rapuhnya kontrak sosial: negara meminta data, warga meminta rasa aman.

Jika negara ingin warga jujur, negara harus lebih dulu meyakinkan bahwa data diperlakukan sebagai amanah, bukan komoditas. Tanpa standar perlindungan data yang terasa nyata di tingkat pintu rumah, ajakan partisipasi terdengar seperti slogan.

Namun warga juga perlu melihat biaya dari penolakan yang masif. Ketika ekonomi informal tidak tercatat, ia mudah diabaikan, dan ketidakadilan kebijakan bisa lahir dari kekosongan angka.

Solusinya bukan menggurui warga agar patuh, melainkan memperbaiki ekosistem kepercayaan. Verifikasi digital yang sederhana, sosialisasi RT/RW yang konsisten, dan narasi manfaat yang konkret dapat mengubah curiga menjadi kerja sama.

Pertemuan singkat di depan pagar rumah Sri dan dialog kritis ala Florence menunjukkan satu hal: data adalah urusan relasi, bukan hanya statistik. Sensus Ekonomi 2026 akan berhasil jika warga merasa dihormati, bukan diburu.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana tetapi menentukan: apakah kita ingin kebijakan lahir dari angka yang jujur, atau dari asumsi yang nyaman. Kepercayaan tidak bisa diminta, ia harus dibangun dari pintu ke pintu, dengan tanggung jawab yang terlihat.

(Orbit dari berbagai sumber, 2 Juli 2026)