Wabah Campak dan Vaksin MMR: Pelajaran Kelam Philadelphia 1991
ORBITINDONESIA.COM – Wabah campak dan vaksin MMR kembali jadi perdebatan, tetapi Paul Offit punya alasan pribadi untuk takut. Ia menyaksikan langsung Philadelphia 1991, ketika campak menewaskan sembilan anak dan memaksa negara melakukan vaksinasi paksa yang belum pernah terulang di AS.
Beberapa tahun lalu, pakar vaksin Paul Offit berkata banyak orang tua menolak imunisasi karena mereka tidak takut pada campak. Offit menegaskan ia takut, karena wabah campak Philadelphia 1991 mengubah kota itu menjadi ruang gawat darurat raksasa.
Campak mulai beredar pada 1989, setelah seorang remaja pulang dari Spanyol dan menghadiri konser indoor R.E.M. Penularan lalu meluas di Philadelphia dan menjalar ke berbagai wilayah AS pada 1989–1990.
Menjelang akhir 1990, wabah itu menjadi yang terbesar dalam satu dekade di Philadelphia dengan 258 anak terinfeksi, menurut buku Offit “Bad Faith” (2015). Titik baliknya datang pada Februari 1991, saat Caryn Still, 9 tahun, meninggal karena pneumonia campak.
Caryn bersekolah di Faith Tabernacle Congregation School, komunitas yang menolak segala bentuk perawatan medis. Pastor saat itu, Charles Reinert, menolak permintaan pejabat kesehatan untuk memvaksin anak-anak lain di sekolah.
Penolakan itu bukan sekadar sikap, melainkan penghalang fisik bagi dokter. Awalnya, para dokter bahkan tidak diizinkan menyentuh atau memeriksa anak, hanya boleh melihat dari ambang pintu.
Dalam delapan hari berikutnya, empat anak lagi meninggal akibat pneumonia campak, termasuk dua saudari kandung. Empat dari lima korban terkait Faith Tabernacle, sedangkan satu korban berasal dari First-Century Gospel Church yang punya keyakinan serupa.
Ketika pengobatan ditolak dan kematian terus terjadi, pejabat kesehatan meminta pengadilan turun tangan. Pengadilan memerintahkan dokter boleh memeriksa anak dari rumah ke rumah di Philadelphia.
Offit, saat itu dokter di Children’s Hospital of Philadelphia, ikut dalam tim “all hands on deck” yang masuk ke rumah-rumah warga. Ia menyebut pengalaman itu sureal, karena keluarga-keluarga tersebut bukan tanpa akses, melainkan menolak secara aktif.
Menurut Offit, yang paling mengganggu adalah kontras sosialnya. Keluarga-keluarga itu kelas menengah dan menengah atas, rumah rapi, anak-anak bersih dan terawat, tetapi memilih doa alih-alih medis modern sampai anak meninggal.
Perintah pengadilan berikutnya bahkan mengizinkan rawat inap meski orang tua menolak. Dalam rentang empat hari pada Februari, empat anak dibawa dari rumah dan dirawat di rumah sakit dengan perintah darurat.
Salah satu kasus dalam buku Offit menggambarkan betapa telatnya keputusan medis bisa terjadi. Komisaris kesehatan kota Robert Ross menemukan seorang anak yang dikatakan “baik-baik saja” ternyata pucat, lemas, tidak responsif, dan hiperventilasi.
Nenek anak itu mencoba menghalangi Ross menghubungi hakim untuk izin rawat inap. Anak tersebut akhirnya didiagnosis pneumonia dan diberi oksigen di St. Christopher’s Hospital for Children.
Dokter penyakit infeksi Sarah Long, yang menangani banyak kasus, menyebut campak sebagai penyakit yang menyiksa. Ia menggambarkan mata berair kental, batuk basah, demam 103–104 derajat selama beberapa hari, lalu ancaman komplikasi yang menakutkan.
Long mengingat banyak anak mengalami pneumonia bakteri di atas infeksi campak. Mereka tampak apatis seperti “boneka kain”, tidak bereaksi saat diambil darah, seolah tubuhnya kehilangan daya melawan.
Di luar komunitas gereja, penularan juga merajalela dan memicu kepanikan publik. Total 938 kasus dilaporkan antara Oktober 1990 hingga Juni 1991, dengan 438 terkait dua gereja tersebut.
Setidaknya dua sekolah membatalkan kunjungan lapangan ke Philadelphia, kata Offit, dan orang takut masuk kota untuk bekerja. Negara menghabiskan ratusan ribu dolar untuk program vaksinasi, termasuk memvaksin bayi usia enam bulan.
Puncak responsnya adalah langkah ekstrem yang nyaris tabu di Amerika. Wali Kota saat itu, Wilson Goode, meminta perintah pengadilan untuk memaksa keluarga di gereja-gereja tersebut memvaksin anak mereka.
Offit menekankan perbedaan “wajib” dan “paksa” dalam vaksinasi. Vaksinasi wajib biasanya mencabut hak istimewa bagi yang menolak, sedangkan vaksinasi paksa berarti tidak ada pilihan sama sekali.
Gereja menggugat dan banding, tetapi kabar kematian anak lain menyebar saat sidang banding berlangsung. Total enam anak dari dua gereja meninggal karena campak, ditambah tiga anak lain di Philadelphia yang tertular di luar klaster gereja.
Pengadilan akhirnya mengizinkan imunisasi berjalan pada Maret 1991, dan prosesnya berlangsung tanpa perlawanan lanjutan dari keluarga. Offit menilai sebagian keluarga mungkin lega karena keputusan “dipindahkan” dari tangan mereka, meski situasi seperti itu sulit dibayangkan terjadi sekarang.
Alasannya sederhana, kata Offit, gerakan anti-vaksin dan “kebebasan medis” kini jauh lebih terorganisasi. Informasi, termasuk disinformasi, menyebar cepat lewat media sosial dan membentuk gelembung keyakinan yang sulit ditembus.
Data Pew Research Center 2025 terhadap lebih dari 5.000 orang dewasa menunjukkan yang menilai risiko vaksin MMR lebih besar daripada manfaatnya naik 4% sejak 2016. Perubahan sikap itu juga terbelah oleh afiliasi politik, dengan kepercayaan Demokrat pada keamanan MMR naik 6%, sementara kepercayaan Republik turun 13%.
Polarisasi ini tercermin pada sekolah-sekolah dengan cakupan vaksin rendah. Di Lancaster, Pennsylvania, banyak sekolah melampaui ambang kekebalan kelompok 95%, tetapi lebih dari selusin sekolah berada di bawah 80%, bahkan ada yang 25% dan 32% menurut data yang diakses Post-Gazette.
Long menilai mandat vaksin harus ditegakkan saat wabah campak Pennsylvania kembali menyala. Ia memprediksi akan ada aturan sekolah yang mengharuskan anak tanpa vaksin MMR tinggal di rumah jika terjadi wabah di sekolah mereka.
Baginya, ini bukan soal statistik, melainkan konsekuensi nyata. “Anak-anak akan mati karena Anda tidak diimunisasi,” katanya, seraya menegaskan sekolah harus menjadi tempat aman.
Dalam konteks kepercayaan publik, Long menuding Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. ikut memperparah kebingungan soal keamanan vaksin. Ia mengkritik keras pernyataan Kennedy kepada Gubernur Josh Shapiro bahwa “campak alami” seharusnya kembali karena dianggap lebih aman daripada MMR.
Long menyebut gagasan itu absurd, dan data sejarah mendukungnya. Sebelum vaksin tersedia pada 1963, campak menyebabkan 400–500 kematian per tahun di AS dan 48.000 rawat inap, menurut Infectious Diseases Society of America, lalu turun mendekati nol setelah vaksinasi.
Mantan pejabat CDC Demetre Daskalakis menambahkan bahwa respons federal terhadap campak berubah drastis dalam enam tahun terakhir. Ia mengklaim pada wabah Texas 2025 yang menewaskan tiga orang, Kennedy tidak pernah hadir dalam pengarahan respons campak selama delapan bulan karena menolak pertemuan tersebut.
Daskalakis menggambarkan situasi itu seperti pembajakan kokpit kesehatan publik. Namun juru bicara Departemen Kesehatan AS membantah, menyatakan Kennedy menerima pengarahan rutin, berbicara dengan gubernur negara bagian terdampak, serta menyalurkan lebih dari 8,5 juta dolar dan mengerahkan personel CDC untuk membantu penanggulangan.
Sementara itu, keyakinan Faith Tabernacle Congregation tidak berubah sejak 1991. Komunitas itu kembali disorot pada 2017 dan April lalu, ketika anak anggota jemaat meninggal karena pneumonia dan orang tua tidak mencari perawatan medis.
Jaksa Berks County John T. Adams yang menangani kasus 2017 mengatakan ia tidak yakin jemaat akan memvaksin tanpa paksaan. Ia menekankan kebebasan orang dewasa tidak boleh mengorbankan anak, karena anak adalah pihak rentan yang bergantung pada keputusan orang lain.
Wabah campak dan vaksin MMR menunjukkan paradoks kebebasan yang jarang diakui. Kebebasan memilih menjadi problem ketika keputusan itu memindahkan risiko dari orang tua ke anak, lalu dari satu rumah ke seluruh kota.
Philadelphia 1991 membuktikan negara bisa memaksa vaksinasi ketika kematian anak dan kepanikan publik mencapai titik didih. Namun pelajaran yang lebih penting adalah pencegahan tidak boleh menunggu sampai trauma kolektif memaksa kita bertindak.
Di era polarisasi, angka cakupan vaksin bukan sekadar indikator kesehatan, melainkan indikator kohesi sosial. Ketika vaksin diperlakukan sebagai identitas politik, ambang 95% berubah dari target ilmiah menjadi medan perang budaya.
Di sisi lain, negara juga harus berhati-hati agar respons tidak jatuh menjadi pemaksaan yang membungkam dialog. Tetapi dialog tanpa batas waktu, ketika virus bergerak cepat, hanya menguntungkan patogen.
Offit berkata satu-satunya yang benar-benar “mendidik” sebagian orang adalah virus itu sendiri. Pernyataan ini terdengar sinis, tetapi sejarah berulang menunjukkan rasa takut sering datang setelah korban jatuh, bukan sebelum.
Wabah campak dan vaksin MMR mengajarkan bahwa kepercayaan publik adalah infrastruktur kesehatan yang rapuh. Saat kepercayaan runtuh, rumah sakit penuh, sekolah panik, dan pengadilan didorong mengambil keputusan yang biasanya dihindari.
Philadelphia 1991 adalah catatan bahwa “kebebasan” bisa berubah menjadi tragedi ketika anak tidak punya suara. Pertanyaannya kini sederhana, apakah kita akan menunggu ketakutan berikutnya untuk kembali percaya pada sains, atau memilih melindungi sebelum duka memaksa kita patuh.
(Orbit dari berbagai sumber, 1 September 2026)