Selat Hormuz Memanas: Lalu Lintas Kapal Naik, Iran Klaim Kendali

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Selat Hormuz kembali jadi kata kunci dunia, ketika 36 kapal komoditas terdeteksi melintas pada Senin 22 Juni 2026. Angka ini menjadi level tertinggi sejak perang Iran melawan AS dan Israel pecah pada Februari, sekaligus sinyal rapuhnya jeda konflik.

Selat Hormuz adalah jalur sempit yang menanggung beban besar, karena sebelum perang dilewati sekitar seperlima ekspor minyak dan gas dunia. Ketika Iran menutupnya pada 1 Maret sebagai balasan serangan gabungan AS dan Israel, pasar energi global langsung membaca satu pesan: risiko kini punya harga.

Kesepakatan nota kesepahaman (MoU) Washington dan Teheran pada 14 Juni membuka sedikit celah normalisasi. Namun, normalisasi ini tidak pernah benar-benar netral, karena ia berjalan di bawah bayang-bayang senjata, sanksi, dan kalkulasi politik kawasan.

Data perusahaan pelacak maritim Kpler, dikutip AFP pada 23 Juni 2026, mencatat 36 pelayaran dalam sehari di Selat Hormuz. Itu baru sekitar sepertiga dari lalu lintas masa damai yang rata-rata 120 pelayaran per hari, sehingga pemulihan masih jauh dari utuh.

Menjelang MoU 14 Juni, kurang dari 10 kapal komoditas melewati selat itu tiap hari. Sejak 15 Juni, rata-rata naik menjadi 21 kapal, dan bahkan menyentuh 27 kapal dalam lima hari terakhir, menunjukkan pelaku industri mulai menguji risiko.

Komoditas yang bergerak bukan hanya minyak, tetapi juga gas alam cair dan barang curah kering seperti pupuk. Artinya, gangguan di Hormuz tidak sekadar mengerek harga BBM, tetapi juga bisa merembet ke biaya pangan dan rantai pasok pertanian.

Meski begitu, lonjakan 36 kapal juga bisa dibaca sebagai efek backlog, karena sebagian kapal baru terdeteksi belakangan oleh pelacak maritim. Dalam situasi konflik, data pelayaran sering tertinggal oleh praktik pemadaman transponder, perubahan rute, dan manuver keamanan.

Di tengah kenaikan arus kapal, Iran mengirim sinyal politik yang lebih keras. Kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan, “Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan akan dikelola oleh Republik Islam Iran, sesuai dengan hukum internasional,” seperti dilaporkan media pemerintah Teheran pada 23 Juni 2026.

Pernyataan itu menempatkan isu “pengelolaan” sebagai medan baru, bukan sekadar soal buka-tutup selat. Jika pengelolaan dimaknai sebagai kontrol sepihak, maka setiap kapal yang melintas akan membawa biaya premi asuransi yang lebih tinggi dan kalkulasi keamanan yang lebih rumit.

Kontradiksi terbesar muncul ketika Iran pada 20 Juni mengumumkan kembali penutupan Selat Hormuz sebagai respons serangan Israel terhadap Lebanon, meski ada gencatan senjata. Ini menciptakan pola yang berbahaya, karena sebuah konflik di front lain bisa memicu penyanderaan ekonomi global di Hormuz.

Karena itu, kenaikan lalu lintas kapal tidak otomatis berarti situasi membaik. Ia bisa berarti pasar sedang berjudi, atau negara-negara pengimpor sedang menimbun pasokan, sementara risiko penutupan ulang tetap menggantung.

Pertanyaan kuncinya bukan apakah Selat Hormuz bisa dibuka, melainkan siapa yang berhak mendefinisikan “normal” setelah perang. Ketika Iran menyebut pengelolaan sesuai hukum internasional, dunia akan menuntut definisi operasional yang transparan, bukan sekadar slogan diplomatik.

Di sisi lain, AS dan Israel punya kepentingan menjaga kebebasan navigasi, tetapi rekam jejak tekanan militer membuat klaim moral keduanya mudah dipersoalkan. Dalam kondisi ini, Selat Hormuz berubah dari jalur ekonomi menjadi panggung legitimasi, tempat setiap kapal adalah argumen politik yang mengapung.

Lonjakan 36 kapal memang memberi napas bagi pasar, tetapi juga memperlihatkan betapa cepatnya dunia kembali bergantung pada jalur sempit yang mudah dicekik. Ketergantungan ini menelanjangi kelemahan strategi energi global, yang terlalu percaya pada stabilitas geopolitik yang tidak pernah benar-benar stabil.

Jika pembicaraan dua bulan ke depan gagal menjawab isu pengelolaan, maka “pemulihan” hanya akan menjadi statistik harian yang mudah runtuh. Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya harga minyak, tetapi juga kredibilitas tatanan maritim internasional dalam menghadapi negara yang merasa terdesak.

Selat Hormuz hari ini bergerak lagi, tetapi ia bergerak di atas retakan yang belum ditambal. Ketika 36 kapal melintas dalam sehari, dunia melihat harapan kecil, namun juga melihat betapa rapuhnya harapan itu.

Barangkali pelajaran terpentingnya sederhana, tetapi menohok: jalur perdagangan global tidak pernah benar-benar “teknis,” karena ia selalu bisa dijadikan alat tawar-menawar. Pertanyaannya, sampai kapan dunia membiarkan satu selat sempit menjadi tombol darurat bagi krisis yang lebih luas.

(Orbit dari berbagai sumber, 30 Juni 2026)