Hiu Goblin Terekam Hidup: Misteri Laut Dalam Tonga Trench

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Hiu goblin terekam hidup di laut dalam setelah lebih dari 100 tahun hanya terlihat saat tertangkap nelayan dan dibawa ke permukaan. Dua rekaman kamera, dari Pasifik tengah dan Tonga Trench, mengubah cara ilmuwan membaca habitat hiu purba ini.

Selama satu abad lebih, hiu goblin menjadi simbol keterbatasan sains dalam menjangkau samudra gelap. Spesies ini hidup ribuan kaki di bawah permukaan dalam kegelapan total, sehingga bukti yang ada selama ini datang dari bangkai atau tangkapan sampingan.

Alan Jamieson, ahli biologi kelautan dan direktur pendiri Minderoo-UWA Deep-Sea Research Center, mengaku sempat menyerah untuk melihatnya hidup di habitat asli. Situasi berubah ketika tim menurunkan kamera umpan jarak jauh di Tonga Trench, titik terdalam kedua di Bumi.

Dalam siaran pers yang menyertai studi pekan ini, Jamieson menyebut penampakan itu “menakjubkan”, dan makin mengejutkan karena kolega di Hawai’i juga melihat hiu goblin. Dua lokasi, dua waktu, dan satu pesan: laut dalam masih menyimpan kejutan yang merombak peta pengetahuan.

Studi yang terbit di Journal of Fish Biology mendokumentasikan dua observasi hiu goblin melalui kamera. Penampakan pertama terjadi pada 2019, tetapi baru disadari setelah peneliti Aaron Judah menelusuri ulang rekaman ekspedisi Ocean Exploration Trust di kapal M/V Nautilus.

M/V Nautilus dikenal sebagai kapal eksplorasi bawah laut milik Robert Ballard, penemu bangkai Titanic. Dalam arsip video dari wilayah Pasifik yang sangat terpencil dekat Jarvis Island dan Palmyra Atoll, Judah menemukan momen “kena jackpot”: hiu goblin melintas dalam kondisi tampak sehat.

Penampakan kedua terjadi pada 2024 di lereng Tonga Trench menggunakan kamera umpan jarak jauh. Judah menyatakan ia terkejut oleh kedalaman temuan itu, karena observasi dari Tonga Trench “hampir 700 meter lebih dalam” dari yang sebelumnya diketahui sebagai kedalaman hidup spesies ini.

Temuan 2019 memperluas jangkauan geografis hiu goblin secara signifikan ke Pasifik tengah. Temuan 2024 memperluas batas kedalaman hiu ordo lamniform hingga 108 meter, menurut studi tersebut.

Ini bukan sekadar kabar “spesies langka tertangkap kamera”, melainkan koreksi peta habitat. Dalam ilmu konservasi, peta adalah dasar kebijakan, dan tanpa data lokasi serta kedalaman, sebuah spesies bisa tak terlihat dalam perencanaan pengelolaan regional.

Hiu goblin sendiri punya alasan kuat mengapa publik mudah terpikat. Panjang rata-ratanya sekitar 12 kaki, tubuhnya merah muda dan tampak “lembek”, dengan moncong besar yang menutupi deretan gigi tajam.

Spesies ini disebut “living fossil” karena menjadi satu-satunya anggota keluarga Mitsukurinidae yang masih hidup. U.S. Fish and Wildlife Service menyebut garis keturunannya menjejak hingga sekitar 125 juta tahun.

Namun romantisasi “fosil hidup” bisa menipu, karena memberi kesan ia kebal terhadap perubahan. Justru sebaliknya, spesies laut dalam rentan terhadap tekanan yang sulit dipantau, seperti penangkapan sampingan, eksploitasi sumber daya, dan perubahan ekosistem pada kedalaman yang jarang diawasi.

Penampakan hiu goblin terekam hidup menegaskan satu hal yang sering dilupakan: sains masih bergantung pada kerja “sejarah alam” yang telaten. Judah menekankan pentingnya natural history work, karena penemuan semacam ini menunjukkan “masih banyak yang harus dijelajahi” di rumah samudra dalam kita.

Di era data besar dan pemodelan, ada kecenderungan menganggap peta sebaran spesies sudah mapan. Padahal, dua rekaman saja bisa menggeser asumsi tentang jangkauan dan kedalaman, lalu memengaruhi daftar biodiversitas suatu negara dan prioritas pengelolaan.

Pernyataan Judah juga mengandung konsekuensi kebijakan yang konkret. Dengan jangkauan geografis yang baru diperluas, hiu goblin dapat dimasukkan dalam manajemen regional dan daftar biodiversitas nasional, sementara sebelumnya “kita bahkan tidak tahu ia ada di sana”.

Di titik ini, teknologi kamera umpan jarak jauh bukan sekadar alat dokumentasi, melainkan instrumen demokratisasi pengetahuan. Ia mengurangi ketergantungan pada tangkapan nelayan yang sering berujung pada kematian hewan, sekaligus memberi konteks perilaku dan kondisi tubuh di habitat asli.

Meski begitu, euforia penemuan tidak boleh menutupi pertanyaan yang lebih keras. Jika hiu goblin bisa luput dari pengamatan selama lebih dari satu abad, berapa banyak spesies lain yang terdampak aktivitas manusia tanpa pernah sempat “terlihat” oleh sains?

Hiu goblin terekam hidup di Pasifik dan Tonga Trench bukan hanya cerita eksotis dari kegelapan laut. Ia adalah pengingat bahwa pengetahuan kita tentang samudra masih berupa pulau-pulau kecil di tengah lautan ketidaktahuan.

Ketika peta habitat berubah, tanggung jawab manusia ikut berubah, dari riset hingga kebijakan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah masih ada misteri di laut dalam, melainkan apakah kita akan belajar cukup cepat sebelum misteri itu hilang tanpa pernah sempat dipahami.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)