Denny JA: Pembunuhan Massal di Gaza sebagai Kerja Rutin - Inspirasi dari Film NAZA (2026)
PEMBUN*HAN MASSAL DI GAZA SEBAGAI KERJA RUTIN
- Inspirasi dari Film NAZA (2026)
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Seorang ibu di Gaza membangunkan anaknya menjelang subuh. Bukan untuk bersekolah. Suara pesawat terdengar dari kejauhan. Malam belum berakhir, tetapi ketakutan telah kembali.
Anak itu bertanya apakah rumah mereka akan selamat. Sang ibu memeluknya erat. Ia tidak mempunyai jawaban. Hanya dua tangan yang berusaha menjadi benteng terakhir.
Di tempat lain, seseorang menatap layar komputer. Terlihat koordinat, identitas sasaran, dan perkiraan korban. Tidak terdengar tangisan. Hanya keputusan yang menunggu persetujuan.
Satu keluarga berharap dapat menyambut matahari. Sementara itu, dalam sebuah sistem militer, nasib manusia dapat berubah menjadi perhitungan yang terlihat seperti pekerjaan administratif.
Adegan pembuka ini ilustratif. Namun, pertanyaannya nyata: bagaimana kehidupan manusia dapat diperlakukan sebagai angka, sementara kemungkinan kematiannya diproses seperti pekerjaan rutin?
-000-
Ada film yang selesai ketika layar bioskop menjadi gelap. Ada pula film yang justru dimulai setelah penonton pulang, membawa pertanyaan yang mengganggu tidurnya.
NAZA (2026) termasuk jenis kedua. Dokumenter ini tidak hanya memperlihatkan kehancuran Gaza, tetapi menyelidiki bagaimana keputusan yang menghasilkan kehancuran tersebut dibuat.
Saya menontonnya di Brisbane, Australia, Oktober 2026. Sebelumnya, berkali-kali saya mencari film tersebut melalui internet dan berbagai layanan streaming, tetapi belum berhasil menemukannya.
Saya datang ke Brisbane menghadiri konferensi energi internasional APOGCE. Di sela kegiatan, sebuah poster bioskop menarik perhatian. Ternyata NAZA sedang diputar secara terbatas.
Kesempatan itu segera saya ambil. Setelah berhari-hari mendengarkan pembicaraan mengenai kecerdasan buatan dalam industri energi, saya justru berhadapan dengan sisi tergelap teknologi.
Teknologi dapat membantu mencegah kecelakaan industri dan menyelamatkan pekerja. Namun, teknologi serupa juga dapat membantu menentukan sasaran serangan yang membahayakan kehidupan keluarga.
Kontras itulah yang terus mengganggu saya. Persoalan terbesar peradaban ternyata bukan sekadar seberapa cerdas mesin, melainkan seberapa manusiawi keputusan yang dihasilkannya.
-000-
Film berdurasi 80 menit ini disutradarai Yuval Abraham dan Rachel Szor, dua sineas Israel yang sebelumnya turut membuat dokumenter pemenang Oscar, No Other Land.
Abraham memiliki latar jurnalistik investigatif, sedangkan Szor dikenal melalui kekuatan visualnya. Keduanya pernah bekerja bersama sineas Palestina Basel Adra dan Hamdan Ballal.
Diproduksi The Guardian bersama JW Films, dengan James Wilson sebagai salah satu produser, film ini juga melibatkan Jonathan Glazer sebagai produser eksekutif.
Tidak ada pemeran fiksi. Film menghadirkan kesaksian anonim 24 anggota militer dan intelijen Israel mengenai operasi di Gaza, pengawasan digital, dan penentuan sasaran.
Pada 10 September 2026, NAZA diputar dalam kompetisi utama Festival Film Venesia. Sambutannya luar biasa, dengan tepuk tangan berdiri selama sekitar 25 menit.
Dua hari kemudian, film tersebut memperoleh Special Jury Prize. Namun, penghargaan internasional itu segera diikuti kontroversi politik yang sangat keras di Israel.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuntut penyelidikan terhadap para narasumber. Menteri Kebudayaan Miki Zohar bahkan menyerukan pencabutan kewarganegaraan para pembuat film tersebut.
Militer Israel membantah tuduhan dokumenter. Karena itu, kesaksian yang belum diverifikasi secara independen harus dibedakan dari fakta yang telah dibuktikan melalui pemeriksaan terbuka.
Namun, penolakan resmi juga tidak otomatis membatalkan kesaksian. Justru masyarakat beradab membutuhkan penyelidikan independen ketika tuduhan menyangkut kematian warga sipil dalam skala besar.
-000-
Film dibuka pada malam hari di atas gedung Tel Aviv. Lampu apartemen berkilauan. Kehidupan berlangsung tenang, sementara kamera perlahan mendekati narasumber yang disamarkan.
Wajah mereka tidak terlihat jelas. Suara mereka diubah. Namun, kesaksian mereka membawa penonton memasuki ruang tempat keputusan mengenai hidup dan mati diproses.
Mereka menjelaskan pengawasan digital, pengumpulan informasi, penggunaan algoritma, serta prosedur persetujuan serangan terhadap orang-orang yang dianggap memiliki hubungan dengan Hamas.
Sinematografi film ini justru kuat karena menahan diri. Tidak diperlukan ledakan terus-menerus. Kadang penjelasan yang disampaikan dengan tenang jauh lebih mengguncang daripada teriakan.
Di satu sisi layar, Tel Aviv berkilauan. Di sisi lain kesaksian, Gaza muncul sebagai wilayah tempat keputusan yang tampak administratif dapat menghancurkan kehidupan.
Ironinya terasa menusuk. Sebuah kota dapat menikmati malam yang damai, sementara sistem yang bekerja di dalamnya ikut menentukan apakah kota lain memiliki hari esok.
-000-
Bagian paling mengguncang muncul ketika seorang narasumber mengisahkan persetujuan serangan terhadap satu sasaran, meskipun perkiraan awal menunjukkan kemungkinan kematian 500 warga sipil.
Angka tersebut merupakan klaim tentang potensi korban, bukan jumlah kematian yang telah terbukti terjadi. Militer Israel secara tegas membantah bahwa persetujuan demikian pernah diberikan.
Namun, kesaksian tersebut membuka persoalan moral yang mendasar. Bagaimana kemungkinan hilangnya ratusan kehidupan dapat diperlakukan sebagai variabel dalam proses pengambilan keputusan?
Bayangkan lima ratus nama tertulis dalam lembaran panjang. Setiap nama mempunyai masa kecil, keluarga, kenangan, dan seseorang yang masih menyimpan harapan akan kepulangannya.
Komputer sanggup menjumlahkan semuanya dalam sekejap. Tetapi tidak ada algoritma yang mampu menghitung sepenuhnya kehancuran batin seorang ibu yang kehilangan anaknya.
Kesaksian lain menggambarkan pembagian pekerjaan. Seseorang mengumpulkan informasi. Orang berikutnya memeriksa sasaran. Pejabat lain memberikan persetujuan. Operator kemudian menjalankan perintah.
Setiap orang bertanggung jawab atas bagian tertentu. Tetapi ketika rumah hancur, akibatnya tidak terbagi menjadi bagian-bagian kecil sebagaimana tugas dalam organisasi.
Di sinilah NAZA mencapai kekuatan intelektualnya. Film ini bukan hanya mempertanyakan siapa yang menjatuhkan bom, tetapi bagaimana keseluruhan sistem memungkinkan keputusan tersebut terjadi.
Kejahatan paling berbahaya bukan hanya ketika manusia kehilangan nurani, melainkan ketika organisasi membuat kehilangan nurani terasa seperti profesionalisme.
-000-
Ada tiga keistimewaan NAZA yang membuatnya melampaui dokumenter perang biasa. Ketiganya menyentuh persoalan paling mendasar peradaban modern: manusia, teknologi, dan organisasi.
Pertama, kamera diarahkan kepada mereka yang terlibat dalam mekanisme kekerasan. Biasanya dokumenter perang memperlihatkan korban. NAZA justru menyelidiki orang-orang di balik keputusan.
Sebagian narasumber tidak berbicara dengan kemarahan meledak-ledak. Mereka menjelaskan prosedur, teknologi, dan kewenangan melalui bahasa profesional yang terdengar seperti pembicaraan mengenai pekerjaan biasa.
Di situlah kengerian memperoleh bentuk baru. Kekejaman tidak selalu lahir dari kebencian yang berteriak. Terkadang ia tumbuh dalam ketenangan orang yang merasa menjalankan tugas.
Pendekatan tersebut sekaligus memiliki keterbatasan. Menurut pengamatan saya, pengalaman langsung warga Palestina memperoleh ruang lebih kecil. Kesaksian pelaku harus selalu dibaca bersama suara korban.
Kedua, NAZA memperlihatkan paradoks kecerdasan buatan. Mesin semakin mampu mengenali pola dan mempercepat keputusan, tetapi kecepatan tidak dengan sendirinya menghasilkan kebijaksanaan moral.
Mesin mungkin memperkirakan keberadaan seseorang berdasarkan data. Namun, mesin tidak memahami makna kehilangan bagi seorang anak yang mendadak tumbuh tanpa ayah dan ibunya.
Bahaya tidak hanya muncul ketika algoritma keliru. Bahaya juga lahir ketika manusia berhenti mempertanyakan rekomendasi mesin karena menganggap perhitungannya pasti objektif.
Ketiga, film ini membongkar kekuatan bahasa birokrasi. Judul NAZA berasal dari istilah militer Ibrani nezek agavi, yang merujuk pada kerusakan kolateral.
Istilah tersebut terdengar teknis dan netral. Namun, di baliknya terdapat manusia yang memiliki nama, keluarga, ingatan, dan masa depan yang mungkin tidak pernah terwujud.
Bagi seorang ibu, kematian anak bukan kerusakan tambahan. Bagi seorang anak, kehilangan ayah bukan konsekuensi sampingan, melainkan runtuhnya sebuah rumah batin.
Bahasa diperlukan untuk menjelaskan kenyataan. Tetapi bahasa juga dapat menyembunyikannya, terutama ketika penderitaan manusia diubah menjadi istilah yang kehilangan wajah dan air mata.
-000-
Menonton NAZA mengingatkan saya kepada Hannah Arendt, filsuf politik yang pada 1961 datang ke Yerusalem meliput persidangan Adolf Eichmann untuk majalah The New Yorker.
Eichmann merupakan pejabat Nazi yang memainkan peran penting dalam deportasi orang Yahudi menuju sistem penganiayaan dan pemusnahan selama Holocaust di bawah pemerintahan Hitler.
Dari pengamatannya lahir buku Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil, diterbitkan Viking Press pada 1963, yang memicu perdebatan intelektual panjang.
Arendt melihat seseorang yang menjelaskan tindakannya melalui bahasa kewajiban, perintah, dan kepatuhan. Ia mempertanyakan bagaimana manusia dapat berhenti memikirkan konsekuensi moral perbuatannya.
Lahirlah gagasan banality of evil, banalitas kejahatan. Kekejaman luar biasa dapat berlangsung ketika orang-orang yang terlibat gagal menggunakan kemampuan berpikir dan menilai secara moral.
Namun, banalitas tidak berarti kejahatan menjadi ringan. Eichmann dinyatakan bersalah pada Desember 1961 dan dieksekusi pada 1962 atas keterlibatannya dalam kejahatan Nazi.
Penafsiran Arendt kemudian dikritik. Sejarawan Bettina Stangneth menunjukkan bukti komitmen ideologis antisemitisme Eichmann yang lebih mendalam daripada kesan yang muncul dari persidangannya.
Pelajaran Arendt tetap penting. Kepatuhan tidak menggantikan nurani. Perintah atasan tidak menghapus tanggung jawab seseorang untuk mempertanyakan akibat moral tindakannya sendiri.
-000-
Pemikiran itu menemukan perluasan dalam buku Zygmunt Bauman, Modernity and the Holocaust, diterbitkan Cornell University Press pada 1989, yang menghubungkan kekejaman dengan organisasi modern.
Bauman menunjukkan bahwa Holocaust bukan sekadar ledakan kebiadaban masa lalu. Birokrasi, spesialisasi, dan teknologi modern juga dapat menjadi sarana kekerasan terorganisasi.
Satu orang mengurus administrasi. Orang lain mengatur transportasi. Pejabat berikutnya melaksanakan keputusan. Setiap bagian bekerja tanpa harus menyaksikan penderitaan manusia secara keseluruhan.
Pembagian pekerjaan yang meningkatkan efisiensi juga dapat menciptakan jarak moral. Seseorang merasa hanya menjalankan tugas, padahal seluruh rangkaian menghasilkan kehancuran.
Bauman tidak menganggap modernitas pasti melahirkan kejahatan. Ia memperingatkan bahwa organisasi modern membutuhkan pengawasan moral agar efisiensi tidak berubah menjadi mesin penghancur kemanusiaan.
Dua buku tersebut menerangi NAZA dari arah berbeda. Arendt menjelaskan kegagalan penilaian moral individu. Bauman memperlihatkan bagaimana organisasi memperbesar akibat kegagalan tersebut.
Tentu, Holocaust dan perang Gaza memiliki sejarah, konteks, serta persoalan hukum berbeda. Kesamaan mekanisme organisasi tidak berarti kedua peristiwa dapat disamakan begitu saja.
Namun, keduanya menghadirkan pertanyaan universal: bagaimana manusia dapat ikut menghasilkan penderitaan luar biasa ketika tanggung jawab pribadinya tersembunyi di balik prosedur?
-000-
Di sinilah saya menemukan persoalan yang semakin mendesak: teknologi mempercepat kemampuan manusia mengambil keputusan, tetapi tidak otomatis mempercepat kedewasaan moralnya.
Dahulu, birokrasi dapat memperlambat keputusan sekaligus mengaburkan tanggung jawab. Kini, kecerdasan buatan memungkinkan keputusan dibuat semakin cepat, sementara akuntabilitas justru semakin sulit ditelusuri.
Saya menyebut keadaan ini sebagai jurang tanggung jawab moral: jarak antara kecepatan sebuah sistem menghasilkan keputusan dan kemampuan manusia mempertanggungjawabkan akibatnya.
Semakin besar jurang tersebut, semakin berbahaya teknologi yang kita banggakan. Mesin dapat mempercepat tindakan sebelum manusia sungguh-sungguh mempertimbangkan siapa yang akan menanggung akibatnya.
Dalam pengalaman saya mengamati organisasi besar, persoalan tanggung jawab juga muncul dalam bentuk berbeda. Keputusan melewati begitu banyak meja hingga pemilik tanggung jawab akhirnya kabur.
Tentu, keputusan korporasi tidak dapat disamakan dengan operasi militer yang mempertaruhkan nyawa. Tetapi keduanya mengingatkan pentingnya kejelasan kewenangan dan tanggung jawab manusia.
Organisasi tidak cukup memiliki prosedur tertib. Ia membutuhkan orang-orang yang mampu mempertanyakan tujuan, menimbang akibat, dan mengajukan keberatan meskipun keputusan telah memperoleh persetujuan.
Karena itu, saya mengusulkan satu prinsip yang harus semakin penting pada zaman kecerdasan buatan: Hak Moral untuk Mengatakan Tidak.
Artinya, setiap orang yang terlibat dalam keputusan berisiko tinggi harus memiliki ruang nyata untuk menghentikan, mempertanyakan, atau meminta pemeriksaan ulang atas keputusan tersebut.
Hak ini memerlukan perlindungan institusional. Keberatan yang disampaikan dengan itikad baik harus dapat diperiksa secara independen, tanpa otomatis dianggap sebagai pembangkangan terhadap organisasi.
Namun, hak menolak juga harus disertai kewajiban moral untuk menolak tindakan yang nyata-nyata melanggar hukum. Nurani membutuhkan keberanian sekaligus mekanisme pertanggungjawaban.
Ukuran kemajuan organisasi karenanya tidak cukup berupa kecepatan dan produktivitas. Ia juga harus dinilai dari kemampuan mencegah keputusan yang secara moral tidak dapat dibenarkan.
Peradaban membutuhkan mesin yang mampu mengatakan ya dengan cepat, tetapi lebih membutuhkan manusia yang berani mengatakan tidak pada saat yang tepat.
-000-
Tentu, ada argumen keamanan yang perlu diperhatikan. Israel menyatakan operasi militernya bertujuan menghadapi Hamas setelah serangan 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang.
Serangan tersebut juga mengakibatkan ratusan orang disandera. Perlindungan warga negara merupakan kewajiban setiap pemerintah, termasuk Israel, dan tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele.
Namun, kewajiban melindungi warga negara tidak menghapus hukum humaniter internasional. Warga sipil tetap harus dilindungi, bahkan ketika operasi militer ditujukan terhadap kelompok bersenjata.
Hukum perang mensyaratkan pembedaan sasaran, tindakan pencegahan, serta proporsionalitas. Kerugian sipil yang diperkirakan berlebihan dibandingkan keuntungan militer konkret dan langsung harus dihindari.
Keberadaan sasaran militer tidak otomatis membenarkan setiap serangan. Hukum menuntut penilaian berdasarkan keadaan dan informasi yang tersedia ketika keputusan tersebut dibuat.
Hingga Oktober 2026, laporan Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 74.000 warga Palestina meninggal sejak Oktober 2023, termasuk lebih dari 21.000 anak menurut data yang dilaporkan.
Angka keseluruhan itu tidak memisahkan kombatan dan warga sipil secara lengkap. Namun, skala penderitaannya menuntut perhatian moral dan pemeriksaan hukum yang serius.
Prinsip ini universal. Kehidupan warga sipil Israel dan Palestina memiliki martabat yang sama. Kejahatan terhadap satu kelompok tidak dapat membenarkan kejahatan terhadap kelompok lain.
-000-
Sepulang dari bioskop di Brisbane, yang paling mengganggu pikiran saya bukan semata jumlah korban atau kecanggihan teknologi, melainkan ketenangan bahasa para narasumber.
Saya teringat berbagai diskusi konferensi energi yang baru saya ikuti. Para ahli berbicara penuh optimisme mengenai otomatisasi, kecerdasan buatan, produktivitas, dan organisasi masa depan.
Semua itu menjanjikan kemajuan. Tetapi NAZA menghadirkan pertanyaan yang tidak boleh dilupakan: kemajuan menuju apa, untuk siapa, dan dengan tanggung jawab sebesar apa?
Bagi saya, kemajuan sejati bukan ketika mesin mampu mengambil keputusan tanpa manusia, melainkan ketika manusia tetap sanggup mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang dibantu mesin.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mempertahankan keamanannya. Kebesarannya juga diuji melalui keberanian mengakui dan memeriksa kesalahan yang dilakukan atas nama keamanan.
Anak-anak Gaza tidak meminta algoritma paling canggih. Mereka menginginkan pagi ketika rumah masih berdiri, ibu masih memeluk mereka, dan sekolah kembali menjadi tempat belajar.
Pada akhirnya, ukuran peradaban bukan hanya kecanggihan teknologi yang berhasil diciptakannya, melainkan keberanian manusianya untuk menolak penggunaan teknologi yang menghancurkan kehidupan.
Sebab peradaban tidak mulai runtuh ketika manusia menciptakan mesin yang mampu membunuh, melainkan ketika nuraninya menganggap pembunuhan sebagai pekerjaan rutin yang harus diselesaikan.*
Brisbane, Australia, 17 Oktober 2026
⸻
REFERENSI
1. Arendt, Hannah. Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. Viking Press, 1963.
2. Bauman, Zygmunt. Modernity and the Holocaust. Cornell University Press, 1989.
3. Stangneth, Bettina. Eichmann Before Jerusalem: The Unexamined Life of a Mass Murderer. Alfred A. Knopf, 2014.
4. La Biennale di Venezia. NAZA, Official Selection, 83rd Venice International Film Festival, 2026.
5. The Guardian. NAZA, dokumenter karya Yuval Abraham dan Rachel Szor, 2026.
6. Financial Times. How NAZA Lays Bare Israel’s Killing of Civilians in Gaza, Oktober 2026.
7. The Washington Post. What to Know About NAZA, a Documentary That Looks at Israeli War Technology, Oktober 2026.
8. Reuters. List of Winners at the 2026 Venice Film Festival, 12 September 2026.
9. Kementerian Kesehatan Gaza. Laporan korban, 7 Oktober 2026.
10. Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa, 1977, Pasal 51 dan 57.
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World