Pangeran George Masuk Eton College, Tradisi Elite Kerajaan Inggris

ORBITINDONESIA.COM – Pangeran George dipastikan akan bersekolah di Eton College mulai September, mengikuti jejak ayahnya, Pangeran William, di sekolah elite Inggris yang identik dengan jaringan kekuasaan. Keputusan ini dikonfirmasi Istana Kensington kepada CNN, dan segera memantik kembali perdebatan tentang pendidikan, privilese, serta reproduksi kelas dalam monarki modern.

Dalam artikel sumber berbahasa Inggris, disebutkan Pangeran George menghadiri Trooping the Colour di London pada 13 Juni, sebelum kabar sekolahnya mengemuka. Istana Kensington menyatakan kepada CNN pada Selasa bahwa George akan masuk Eton College pada September.

Eton berada di Berkshire, mendidik anak laki-laki usia 13 sampai 18 tahun, dan menerima sekitar 270 siswa per tahun ajaran. Sekolah ini adalah salah satu sekolah berbayar paling prestisius di Inggris, dengan alumni selebritas dan 20 dari 58 perdana menteri Inggris.

Nama-nama yang disebut termasuk Boris Johnson (menjabat 2019–2022) dan David Cameron (2010–2016), serta aktor Eddie Redmayne dan Tom Hiddleston. Biaya sekolah tahun 2025/26 tercatat £63.298,80 atau sekitar $84.900, dan sistemnya wajib asrama penuh.

Karena asrama penuh, George akan belajar sekaligus tinggal di lingkungan sekolah, sekitar 3,5 mil dari rumah keluarga di Forest Lodge, Windsor Great Park. George kini berusia 12 tahun, akan berulang tahun ke-13 pada Juli, dan menjadi urutan kedua takhta setelah ayahnya.

William bersekolah di Eton sejak 1995, sementara Pangeran Harry sejak 1998. Dengan demikian, pilihan Eton bukan sekadar opsi pendidikan, melainkan kelanjutan jalur yang sudah dipetakan keluarga kerajaan.

Keputusan Pangeran George masuk Eton College menegaskan bahwa pendidikan elite masih menjadi infrastruktur sosial paling efektif untuk merawat kontinuitas kekuasaan. Ketika sebuah sekolah melahirkan 20 dari 58 perdana menteri, ia bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga pabrik jejaring dan legitimasi.

Angka biaya £63.298,80 per tahun ajaran berbicara lebih keras daripada slogan meritokrasi. Biaya itu secara praktis memisahkan “akses” dari “bakat”, karena pintu masuk utama tetap kemampuan finansial dan koneksi keluarga.

Model asrama penuh memperkuat proses pembentukan identitas kelas, karena siswa hidup dalam ekosistem yang seragam, tertutup, dan intens. Dalam konteks George, jarak 3,5 mil dari rumah tetap berarti jarak sosial yang lebih besar, yakni masuk ke ruang pembelajaran yang membentuk calon pemimpin sejak usia remaja.

Secara historis, Eton adalah simbol “jalur cepat” menuju institusi negara, bisnis, dan media. Nama Boris Johnson dan David Cameron yang disebut dalam artikel sumber menjadi penanda bahwa Eton bukan hanya memproduksi lulusan, tetapi juga gaya kepemimpinan dan jaringan politik tertentu.

Di sisi lain, keluarga kerajaan berada dalam tekanan untuk tampak modern, inklusif, dan relevan bagi publik yang semakin sensitif pada ketimpangan. Memilih Eton dapat dibaca sebagai langkah aman: stabil, teruji, dan minim risiko reputasi internal, meski berpotensi memicu kritik eksternal.

Pilihan Eton untuk Pangeran George terasa seperti pernyataan halus bahwa monarki Inggris tetap percaya pada “kurikulum tradisi” untuk bertahan. Tradisi ini bukan hanya soal kualitas akademik, melainkan tentang memastikan pewaris takhta tumbuh dalam bahasa, etiket, dan jaringan yang sama dengan elite negara.

Namun, di era biaya hidup menekan warga dan mobilitas sosial tersendat, simbol menjadi substansi politik. Ketika publik melihat angka £63 ribu per tahun, yang terbaca bukan sekadar pendidikan terbaik, melainkan jarak pengalaman hidup antara penguasa dan yang dikuasai.

Argumen bahwa George “hanya mengikuti ayahnya” juga tidak netral, karena jejak keluarga adalah mekanisme reproduksi privilese. Jika Eton adalah tempat “membentuk pemimpin”, pertanyaan publik yang wajar adalah: pemimpin untuk siapa, dan dengan kepekaan sosial seperti apa.

Meski demikian, ada sisi pragmatis yang sulit dibantah, yakni keamanan, privasi, dan kontrol lingkungan bagi calon raja masa depan. Dalam logika kerajaan, Eton menawarkan ruang yang relatif terkendali untuk membesarkan pewaris takhta tanpa guncangan berlebihan.

Pangeran George masuk Eton College adalah kabar pendidikan, tetapi gaungnya adalah kabar tentang struktur sosial Inggris. Di satu sisi, ia menegaskan kesinambungan monarki; di sisi lain, ia mengingatkan bahwa akses terhadap “pabrik elite” tetap terbatas.

Pada akhirnya, pertanyaan kuncinya bukan apakah George pantas mendapat pendidikan terbaik, melainkan apakah institusi negara bersedia memperluas definisi “terbaik” agar tidak identik dengan eksklusivitas. Jika masa depan monarki ingin benar-benar modern, mungkin yang perlu diuji bukan hanya kurikulum sekolah, tetapi juga keberanian untuk keluar dari lingkaran yang sama. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juni 2026)