Glicovia UGM: Deteksi Prediabetes dengan Air Liur, Tanpa Tusuk Darah

VIVA Jogja

VIVA Jogja

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Glicovia UGM menawarkan deteksi prediabetes non-invasif berbasis air liur, saat jutaan orang Indonesia hidup tanpa sadar membawa risiko diabetes. Empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada merancang alat skrining yang memadukan sensor elektrokimia, AI, dan IoT agar pemeriksaan lebih nyaman dan mudah diakses.

Di Indonesia, diabetes masih menjadi krisis kesehatan yang berjalan pelan namun luas. International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas edisi ke-11 memperkirakan 20,4 juta penduduk usia 20–79 tahun hidup dengan diabetes pada 2024.

Masalah yang lebih tajam adalah banyak kasus tidak terdeteksi. Artikel menyebut sekitar 73,2 persen kasus diabetes di Indonesia diperkirakan belum terdiagnosis, sehingga banyak orang baru tahu setelah komplikasi datang.

Di sisi lain, fase prediabetes sering luput karena minim gejala. Perkiraan 29,8 juta penduduk berada pada fase ini, dan sebagian berpotensi beralih menjadi diabetes melitus tipe 2 bila tidak ada intervensi dini.

Inovasi Glicovia UGM menempatkan skrining sebagai pintu masuk pencegahan, bukan sekadar diagnosis. Ia memilih saliva sebagai sampel, sehingga hambatan psikologis “takut jarum” dan akses fasilitas laboratorium dapat dipangkas.

Secara teknis, perangkat ini membaca tiga parameter: glukosa saliva, fruktosamin saliva, dan pH. Ketiganya dianalisis memakai sensor elektrokimia yang terintegrasi dengan sistem Internet of Things untuk pengiriman data.

Data kemudian diproses dengan algoritma Support Vector Machine (SVM) untuk mengklasifikasikan tingkat risiko prediabetes. Hasilnya dirancang tampil real-time pada platform digital, sekaligus menyimpan riwayat untuk pemantauan berkelanjutan.

Namun, klaim “skrining non-invasif” harus diuji dengan standar yang sama kerasnya seperti tes darah. Korelasi biomarker saliva terhadap gula darah, variasi akibat makanan, obat, dehidrasi, hingga kebersihan mulut dapat memengaruhi akurasi.

Di titik ini, kebutuhan riset klinis menjadi penentu nasib inovasi, bukan sekadar kecanggihan perangkat. Publik perlu melihat data uji banding dengan pemeriksaan standar seperti HbA1c, glukosa puasa, atau OGTT, termasuk sensitivitas dan spesifisitasnya.

Integrasi AI dan IoT juga membawa konsekuensi tata kelola data kesehatan. Tanpa perlindungan privasi, persetujuan pengguna, dan keamanan siber yang kuat, alat skrining berisiko berubah menjadi pintu kebocoran data yang sensitif.

Glicovia UGM menarik karena menggeser logika layanan kesehatan dari “mengobati” menjadi “mencegah”. Ketika 73,2 persen kasus diabetes diperkirakan belum terdiagnosis, alat yang mempermudah skrining bisa menjadi game changer di tingkat komunitas.

Namun, inovasi kesehatan sering kandas pada jurang implementasi. Tanpa jalur validasi, sertifikasi, dan skema pembiayaan, alat canggih hanya akan menjadi prototipe yang berkeliling pameran.

Pernyataan ketua tim, Alya Ramadhani, menegaskan orientasi kenyamanan dan akses. “Kami ingin menghadirkan metode skrining yang tidak hanya akurat, tetapi juga lebih nyaman bagi masyarakat,” ujarnya, Minggu (6/9/2026).

Di sinilah sudut pandang kritisnya: kenyamanan tidak boleh mengalahkan ketelitian. Skrining yang terlalu mudah tetapi rawan false positive bisa memicu kecemasan massal, sementara false negative bisa membuat orang menunda perubahan gaya hidup.

Jika diuji kuat dan ditata kelola baik, pendekatan saliva bisa memperluas jangkauan skrining di sekolah, kantor, dan puskesmas. Ia juga bisa memperkaya data populasi untuk pencegahan, asalkan tidak berubah menjadi komoditas data yang diperdagangkan.

Glicovia UGM menunjukkan bahwa teknologi bisa hadir dengan cara yang lebih manusiawi, yakni tanpa jarum dan tanpa rasa takut. Ia juga mengingatkan bahwa prediabetes bukan vonis, melainkan peringatan dini yang masih bisa dibelokkan dengan tindakan cepat.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: apakah kita siap membangun ekosistem yang membuat skrining mudah, akurat, aman, dan terjangkau sekaligus. Jika tidak, jutaan orang akan tetap berjalan di tepi jurang diabetes, tanpa pernah tahu kapan mereka mulai tergelincir. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)