Coral Bleaching Bisa Pulih: Studi Sentuhan Karang Sehat

BBC Wildlife Magazine

BBC Wildlife Magazine

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Coral bleaching makin sering terjadi saat suhu laut global naik, dan itu mendorong karang memutih lalu berisiko mati. Studi baru di Science Advances menyebut “sentuhan” singkat karang sehat dapat mempercepat pemulihan karang yang memutih.

Karang adalah hewan kecil yang hidup berdampingan dengan mikroalga berwarna bernama zooxanthellae di dalam jaringannya. Alga ini memasok energi lewat fotosintesis, sehingga karang bertahan dan terumbu tetap produktif.

Saat air terlalu hangat, karang “mengusir” alga itu dan tubuhnya tampak putih, inilah proses pemutihan atau bleaching. Pemutihan tidak langsung membunuh, tetapi jika alga tak kembali cepat, karang bisa kelaparan dan mati.

Penulis studi menyebut dunia sudah mengalami empat peristiwa pemutihan global pada 1998, 2010, 2015–2016, dan 2023–2025. Mereka juga mengutip prediksi bahwa pemutihan massal bisa terjadi setiap tahun pada 2080, menandakan terumbu mendekati titik balik kolaps.

Peneliti yang dipimpin Danny Collins dari Stanford Doerr School of Sustainability menguji pertanyaan sederhana: bisakah pemulihan dipercepat setelah karang memutih. Mereka terinspirasi dari fakta bahwa kontak fisik antar karang bisa menyebarkan bakteri berbahaya, sehingga mungkin juga ada efek yang menguntungkan.

Di laboratorium, karang sehat disentuhkan dengan karang yang memutih, dan hasilnya mengejutkan. Jaringan keduanya menyatu membentuk “jembatan”, lalu karang sehat mengirim alga simbion bermanfaat dalam jumlah besar ke karang yang memutih.

Alga yang berpindah itu kemudian berkembang biak di tubuh karang yang memutih. Collins menyimpulkan, “Kontak singkat dengan karang sehat dapat membalikkan efek pemutihan karang.”

Kecepatan pemulihannya menjadi sorotan utama bagi isu coral bleaching. Studi melaporkan lima hari kontak sudah cukup untuk “menyalakan” pemulihan, setelah itu karang sehat dapat diangkat dan karang yang memutih dapat pulih sendiri.

Data pemantauan menunjukkan seluruh karang memutih yang bersentuhan langsung dengan karang sehat (n = 5) pulih sepenuhnya dalam delapan minggu. Bahkan ada satu fragmen yang pulih hanya dalam empat minggu.

Menariknya, karang tidak perlu terus-menerus menempel. Studi menyebut satu minggu kontak, dan dalam beberapa kasus hanya tiga hari, sudah memberi cukup simbion untuk memulai pemulihan yang berkelanjutan.

Studi juga mencatat waktu penggandaan populasi simbion sekitar empat hari setelah satu minggu kontak. Angka ini diklaim hingga satu orde magnitudo lebih cepat dibanding banyak waktu pemulihan karang di lapangan.

Namun ada batas penting yang mengerem euforia. Collins menegaskan pendekatan ini mensyaratkan kontak antar karang dari klon yang sama, sehingga penerapannya di terumbu alami bisa terbatas.

Dengan kata lain, temuan ini lebih dulu menjawab “apakah mungkin” sebelum menjawab “bagaimana caranya” untuk skala besar. Penelitian lanjutan diperlukan agar transfer simbion yang cepat ini bisa diterjemahkan dari kondisi lab ke terumbu yang luas dan beragam.

Temuan “sentuhan penyembuhan” ini terasa seperti kabar baik di tengah narasi suram pemanasan laut. Tetapi harapan ilmiah bisa berubah jadi ilusi publik bila dibaca sebagai pengganti pengurangan emisi dan perlindungan ekosistem.

Karang memutih sering dianggap “hilang”, padahal studi ini menegaskan mereka belum mati dan punya peluang pulih bila simbion kembali tepat waktu. Perspektif ini penting karena menggeser kebijakan dari sekadar penyelamatan karang sehat menjadi pemulihan karang yang sudah terdampak.

Meski begitu, syarat “klon yang sama” mengingatkan kita pada risiko solusi yang terlalu teknis dan sulit diskalakan. Intervensi restorasi bisa mahal, rawan bias lokasi, dan berpotensi menguntungkan kawasan wisata tertentu sambil meninggalkan terumbu lain.

Nilai paling tajam dari studi ini justru pada konsepnya: pemulihan bisa dipercepat jika simbion diperkenalkan kembali secara efektif. Ini membuka ruang inovasi, misalnya bank simbion, teknik inokulasi, atau strategi transplantasi yang meminimalkan kerusakan tambahan.

Namun, akar masalah tetap kenaikan suhu laut yang didorong perubahan iklim. Jika laju pemanasan terus naik, pemulihan yang cepat pun bisa kalah oleh frekuensi gelombang panas laut yang makin rapat.

Studi di Science Advances memberi sinyal bahwa coral bleaching tidak selalu akhir cerita, karena kontak singkat dengan karang sehat dapat memindahkan zooxanthellae dan mempercepat pemulihan. Ini bukan “obat ajaib”, tetapi petunjuk mekanisme yang bisa menginspirasi intervensi baru di masa depan.

Pertanyaannya kini bukan hanya apakah karang bisa pulih, melainkan seberapa cepat manusia mau mengurangi pemicu utamanya. Jika terumbu adalah barometer kesehatan laut, maka setiap sentuhan pemulihan harus dibarengi keputusan besar untuk mendinginkan planet ini.

(Orbit dari berbagai sumber, 23 Oktober 2026)