Biaya Perang AS-Iran Tembus US$38 Miliar, Inflasi Mengintai
ORBITINDONESIA.COM – Biaya perang AS-Iran mencapai sekitar US$ 38 miliar hingga 1 Agustus 2026, menurut Congressional Budget Office (CBO). Di saat Washington bicara “terbuka untuk negosiasi”, Teheran menjawab tegas: tak ada pembicaraan sebelum syarat Iran dipenuhi.
Konflik bersenjata AS dengan Iran dipicu serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026. Iran merespons dengan tekanan strategis, termasuk blokade Selat Hormuz yang mengguncang pasar energi.
Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran “ingin membuat kesepakatan” dan AS akan memilih terlibat atau tidak. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menolak sinyal campur-aduk itu dan menutup pintu dialog.
Iran menempatkan ganti rugi perang dan pencabutan sanksi sebagai prasyarat penghentian perang. Posisi itu membuat perang AS-Iran bergerak dari arena militer ke arena biaya, pasokan energi, dan legitimasi politik.
CBO melaporkan biaya perang AS-Iran sekitar US$ 38 miliar bagi Departemen Pertahanan AS per 1 Agustus 2026. Angka ini berpotensi bertambah US$ 2–3 miliar per bulan, bergantung pada intensitas konflik.
Komponen terbesar adalah penggantian amunisi yang sudah dipakai, diperkirakan US$ 21,7 miliar. Biaya lain datang dari penggantian peralatan yang hilang dan kenaikan biaya bahan bakar operasi militer.
CBO juga menyorot “biaya peluang” yang jarang dibahas dalam pidato politik, yakni menipisnya stok rudal pencegat pertahanan. Lembaga itu memperingatkan AS kemungkinan sudah menggunakan separuh hingga dua pertiga persediaan amunisi pencegat sejak Juni 2025.
Di titik ini, perang tidak hanya menghabiskan uang, tetapi juga menggerus cadangan strategis yang dibutuhkan untuk skenario krisis lain. Ketika stok menipis, negara dipaksa memilih: mempercepat produksi, mengurangi komitmen, atau menaikkan risiko.
Dari sisi domestik, laporan CBO menyebut dampak utama konflik terhadap ekonomi AS adalah tekanan inflasi. Gangguan pasokan minyak dan gas akibat blokade Selat Hormuz mendorong lonjakan biaya energi, lalu merembet ke harga barang.
Permintaan laporan CBO datang dari anggota senior Komite Anggaran DPR AS, Brendan Boyle, bersama legislator Demokrat lain. Pada Juli 2026, Menhan Pete Hegseth bahkan sudah memperkirakan biaya perang sekitar US$ 37,5 miliar, selaras dengan temuan CBO.
Namun angka-angka ini hanya menghitung sisi Pentagon, bukan keseluruhan biaya nasional. Biaya bunga utang, kompensasi veteran, dan efek jangka panjang pada rantai pasok global biasanya muncul belakangan dan sering lebih mahal.
Perang AS-Iran memperlihatkan paradoks klasik kebijakan luar negeri: kemenangan tak selalu berarti keuntungan. Ketika biaya bulanan stabil di kisaran US$ 2–3 miliar, perang berubah menjadi mesin pembakar anggaran yang sulit dimatikan tanpa harga politik.
Trump menawarkan “konsep yang terbuka” untuk terlibat dalam pembicaraan, tetapi Teheran membaca itu sebagai taktik, bukan jaminan. Rezaei menyebut pertaruhan minyak dan selat telah berubah, dan “pengendalian kerusakan” tak akan menghentikan yang akan datang.
Kalimat itu menyiratkan strategi Iran yang menekan titik paling sensitif ekonomi dunia: energi dan jalur pelayaran. Jika Selat Hormuz menjadi alat tawar permanen, maka setiap hari perang adalah pajak tambahan bagi konsumen global.
Di sisi AS, pengeluaran amunisi besar-besaran mengungkap logika perang modern yang mahal dan cepat menguras stok. Ketika pencegat pertahanan menipis, keamanan dalam negeri dan aliansi justru ikut dipertaruhkan.
Di ruang publik, perang sering dijual sebagai soal “ketegasan” atau “pencegahan”. Tetapi CBO memaksa publik melihat perang sebagai neraca: berapa biaya, berapa stok tersisa, dan siapa yang membayar inflasi.
Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi angka, seolah puluhan miliar dolar hanyalah catatan teknis. Padahal setiap miliar yang terbakar adalah pilihan kebijakan yang menyingkirkan belanja sosial, infrastruktur, atau stabilisasi harga.
Perang AS-Iran kini bukan hanya duel senjata, tetapi duel ketahanan fiskal dan ketahanan energi. Selama syarat Iran tak dipenuhi dan Washington tak menemukan jalan keluar, biaya akan terus bertambah dan inflasi tetap mengintai.
Pertanyaan besarnya sederhana, tetapi menohok: sampai kapan sebuah negara bisa membayar perang sambil meminta warganya sabar menghadapi kenaikan harga. Jika perang adalah pesan politik, maka tagihannya adalah pelajaran ekonomi yang tak bisa dinegosiasikan.
(Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)