RSUD Bogor Hadirkan DSA Stroke, Kurangi Rujukan ke Jakarta

ANTARA News Megapolitan

ANTARA News Megapolitan

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – RSUD Bakti Pajajaran Kabupaten Bogor kini menyediakan Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk penanganan stroke dan gangguan pembuluh darah otak. Langkah ini menargetkan satu hal konkret: warga Bogor tidak lagi “terdampar” dalam antrean rujukan ke Jakarta saat waktu emas penyelamatan otak terus berjalan.

Stroke adalah perlombaan melawan menit, bukan sekadar urusan ranjang perawatan. RSUD Bakti Pajajaran menegaskan golden period pada kasus tertentu bisa kurang dari enam jam, sehingga akses layanan dekat rumah menjadi penentu nasib pasien.

Selama ini, banyak pasien daerah penyangga Jakarta harus berpindah rumah sakit karena keterbatasan alat dan kompetensi layanan intervensi. Ajeng Normala, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Bakti Pajajaran, menyebut kondisi itu “kasihan masyarakat Kabupaten Bogor jika harus berpindah-pindah rumah sakit,” sambil menegaskan rumah sakit berupaya memberi layanan sesuai indikasi medis.

Di titik ini, DSA bukan sekadar perangkat baru, melainkan jawaban atas kesenjangan layanan. DSA digunakan untuk mendeteksi penyempitan, penyumbatan, atau gangguan aliran darah, terutama di pembuluh darah otak, yang menjadi dasar tindakan medis berikutnya.

Teknologi DSA yang ditopang Cath Lab Biplane membuat visualisasi pembuluh darah lebih rinci dan lebih cepat dibaca klinisi. Dalam kasus stroke iskemik tertentu, kecepatan memastikan lokasi sumbatan dapat menentukan apakah pasien masih layak mendapat tindakan yang menyelamatkan fungsi otak.

Secara klinis, DSA kerap menjadi “peta jalan” untuk terapi endovaskular, sekaligus alat konfirmasi ketika CT atau MRI belum memberi kepastian yang dibutuhkan. Karena itu, kehadiran Cath Lab Biplane juga berarti rumah sakit daerah mulai masuk ke arena layanan yang sebelumnya identik dengan pusat rujukan besar.

Namun, alat tidak otomatis mengubah hasil tanpa sistem yang rapi. RSUD menyebut pendekatan multidisiplin antarspesialis sebagai kunci, karena keputusan tindakan pada stroke dan pembuluh darah otak jarang bisa dipikul satu disiplin saja.

Penguatan layanan ini terhubung dengan program KJSU-KIA Kementerian Kesehatan, yang menargetkan kanker, jantung, pembuluh darah, stroke, uronefrologi, serta kesehatan ibu dan anak. Ajeng menyatakan dukungan program ini membuat layanan kanker, jantung, dan neurologi di RSUD Bakti Pajajaran mendapat penguatan yang bisa dimanfaatkan warga yang benar-benar membutuhkan.

Di tingkat epidemiologi, RSUD memetakan beban penyakit yang sering ditangani: gangguan saraf, diabetes melitus, hipertensi, dan tuberkulosis. Pola itu selaras dengan tren nasional bahwa faktor risiko kardiometabolik—terutama hipertensi dan diabetes—menjadi “pabrik” stroke dan penyakit jantung yang bekerja diam-diam selama bertahun-tahun.

Data global dari WHO menyebut stroke termasuk penyebab kematian dan disabilitas utama di dunia, dengan beban besar di negara berpendapatan menengah seperti Indonesia. Karena itu, investasi pada layanan akut harus dibarengi pencegahan agresif, agar rumah sakit tidak menjadi “pabrik antrean” baru ketika angka kasus terus naik.

Kehadiran DSA di RSUD Bogor patut dibaca sebagai koreksi atas sentralisasi layanan kesehatan yang terlalu lama bertumpu pada Jakarta. Ketika pasien harus menempuh perjalanan jauh atau berpindah fasilitas, yang hilang bukan hanya waktu, tetapi juga peluang pulih dan kualitas hidup.

Meski demikian, narasi “alat canggih” sering menipu publik bila tidak disertai transparansi kapasitas layanan. Pertanyaan kritisnya sederhana: berapa jam layanan Cath Lab benar-benar siap, bagaimana alur triase stroke, dan apakah ambulans rujukan internal sudah terintegrasi dengan protokol waktu emas.

Ajeng mengingatkan banyak orang merasa sehat padahal tekanan darah dan gula darah sudah tinggi, lalu baru datang ketika pembuluh darah jantung atau otak sudah “pecah masalah.” Ini menegaskan paradoks layanan: teknologi menyelamatkan di hilir, tetapi pencegahan menentukan apakah banjir pasien akan terus datang di hulu.

Karena itu, dampak terbesar DSA justru akan terlihat bila RSUD dan pemda membangun ekosistem lengkap, dari skrining rutin usia 40 tahun ke atas hingga edukasi hipertensi dan diabetes di level puskesmas. Tanpa itu, DSA berisiko menjadi mercusuar yang terang, tetapi dikelilingi pantai yang tetap penuh karam.

DSA dan Cath Lab Biplane di RSUD Bakti Pajajaran memberi harapan baru bagi layanan stroke di Kabupaten Bogor, sekaligus mengurangi ketergantungan rujukan ke Jakarta. Tetapi harapan itu hanya menjadi hasil bila kecepatan layanan, kompetensi tim, dan alur rujukan bekerja tanpa jeda.

Di sisi lain, pesan paling keras justru datang dari pencegahan: stroke dan jantung sering dibangun pelan-pelan oleh hipertensi dan gula darah tinggi yang tak disadari. Jika masyarakat mau rutin memeriksa diri, dan negara konsisten memperkuat layanan primer, maka teknologi di rumah sakit tidak sekadar menyelamatkan, tetapi juga mengurangi jumlah yang perlu diselamatkan. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Oktober 2026)