Game Kartu TB Papua: Edukasi Tuberkulosis Tembus Bahasa

The Conversation

The Conversation

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Edukasi tuberkulosis (TB) di Papua kerap kalah oleh bahasa, jarak, dan rendahnya literasi kesehatan. Di tengah 40 ribu kasus TB nasional yang disebut berasal dari Tanah Papua, sebuah game kartu TB dicoba untuk membuat pesan pencegahan dan pengobatan lebih mudah dipahami.

Tanah Papua menyumbang sekitar 40 ribu kasus TB dari total nasional, tetapi deteksi pada 2025 baru sekitar 40%. Artinya, target nasional 90% masih jauh, dan diperkirakan 24 ribu orang dengan TB belum terdiagnosis serta berisiko menularkan.

Masalahnya bukan sekadar layanan, tetapi juga kemiskinan dan kondisi sosio-geografis yang membuat akses kesehatan mahal dan melelahkan. Rendahnya literasi kesehatan ikut membuat warga enggan berobat, lalu lebih mudah putus obat.

Di titik inilah edukasi menjadi medan paling menentukan, sekaligus paling rapuh. Hambatan bahasa dan pendidikan disebut sebagai tantangan terbesar dalam edukasi TB di Papua.

Metode pembelajaran berbasis permainan atau game-based learning punya landasan riset yang tidak bisa diabaikan. Studi 2024 di Eropa menunjukkan pendekatan ini lebih efektif mendorong rasa ingin tahu, keterlibatan emosional, dan pengambilan keputusan peserta.

Meta-analisis atas 54 studi juga menemukan edukasi kesehatan berbasis permainan berdampak signifikan pada perilaku sehat, pengetahuan, sikap, dan kesehatan lintas gender. Bahkan, efektivitasnya bisa setara program penyuluhan, asalkan aturan sederhana dan desain sesuai kebutuhan pemain.

Permainan kartu TB yang diuji coba di Bandung dan Manokwari dirancang dengan bahasa sederhana serta minim teks dan ikon. Formatnya mirip kartu kwartet, dimainkan beregu 4–16 orang, dengan misi “menyelamatkan karakter” dari TB lewat kartu gejala, risiko, pemeriksaan, pengobatan, dan pencegahan.

Jika pemain memegang kartu “gejala” atau “risiko”, karakter harus “diperiksa” dan menjalani pengobatan beberapa ronde. Tim dinyatakan aman jika mengumpulkan empat kartu “pencegahan”, dan pemenang adalah tim yang menyembuhkan semua karakter.

Studi pendahuluan berlangsung enam bulan pada Februari–Mei 2025, termasuk desain gim dan tiga kali uji coba di Bandung. Peserta di Bandung meliputi 31 siswa SMP, 12 mahasiswa kedokteran, dan 7 mahasiswa umum.

Permainan lalu dipraktikkan di satu puskesmas dan satu SMP di Manokwari. Pesertanya 20 siswa SMP, 5 petugas kesehatan, dan 11 kader TB.

Temuannya disebut menjanjikan, karena pengetahuan sebagian besar peserta meningkat lintas kelompok. Mereka lebih memahami gejala TB, faktor risiko, pencegahan penularan, dan pentingnya dukungan pengobatan.

Seorang siswa SMP di Manokwari, Edo, mengaku baru paham perokok aktif maupun pasif sama-sama berisiko TB. Ia menangkap pesan kunci bahwa rokok mengganggu kekebalan sel paru sehingga lebih rentan terinfeksi.

Siswa lain, Leoni, mengaku baru menyadari dampak TB pada berat badan yang bisa turun drastis. Detail seperti ini penting karena gejala yang “terlihat” sering menjadi pintu masuk warga untuk mau memeriksakan diri.

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah efek sosialnya, karena peserta terdorong berbagi informasi dan berdiskusi dengan teman. Dari sisi pendidik, mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan merasa lebih percaya diri memakai permainan sebagai media edukasi.

Pengalaman ini sejalan dengan contoh lain di Indonesia, seperti papan permainan Gastronot yang meningkatkan pengetahuan gizi anak di Bandung pada riset 2021. Contoh lain datang dari Kupang, ketika gim Carpe Diem meningkatkan kesadaran kesehatan mental dan menurunkan stigma remaja.

Game kartu TB bukan sekadar “cara kreatif” untuk penyuluhan, tetapi strategi komunikasi yang realistis di wilayah dengan tenaga kesehatan terbatas. Saat bahasa dan pendidikan menjadi penghalang, pesan kesehatan harus berubah bentuk agar bisa menyeberang.

Namun, ada risiko jika permainan diperlakukan sebagai solusi tunggal, sementara deteksi dan pengobatan tetap tersendat. Edukasi yang berhasil justru bisa memunculkan lonjakan permintaan pemeriksaan, dan sistem layanan harus siap menampungnya.

Karena itu, integrasi permainan ke program TB harus dibaca sebagai kebijakan lintas rantai, bukan proyek sesaat. Pemerintah perlu menautkannya dengan pelacakan kasus, akses diagnosis, ketersediaan obat, serta pendampingan agar pasien tidak putus obat.

Desain yang minim teks memang cocok untuk literasi beragam, tetapi fasilitator tetap menentukan kualitas pesan. Pelibatan tenaga kesehatan, guru, dan pemimpin masyarakat perlu distandardisasi agar pesan yang disampaikan konsisten dan tidak melahirkan tafsir keliru.

Jika pemerintah serius mengejar target deteksi 90%, maka Papua tidak boleh diperlakukan sebagai catatan kaki statistik. Wilayah ini harus menjadi pusat inovasi kebijakan, karena beban TB dan hambatan lapangannya sama-sama ekstrem.

Permainan kartu TB menunjukkan bahwa edukasi tuberkulosis bisa dibuat lebih dekat, lebih ringan, dan lebih dipahami di Tanah Papua. Ia membantu warga mengenali gejala, risiko, pencegahan, dan logika pengobatan tanpa harus bergantung pada ceramah panjang.

Tetapi pertanyaan akhirnya bukan apakah gim itu seru, melainkan apakah ia diikuti tindakan nyata di layanan kesehatan. Ketika pengetahuan meningkat, negara harus memastikan jalan menuju diagnosis dan pengobatan juga terbuka, supaya edukasi tidak berhenti sebagai permainan. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Juni 2026)