Merger SpaceX-Tesla: Musk Bilang “Ide Bagus”, Pasar Bergejolak
ORBITINDONESIA.COM – Merger SpaceX-Tesla kembali menguat setelah Elon Musk menyebut penggabungan dua raksasa yang ia pimpin sebagai “ide bagus”. Di tengah lonjakan saham SpaceX di perdagangan setelah jam bursa, Musk juga mengungkap adanya komite khusus independen yang membahas skenario merger SpaceX dan Tesla.
Dalam panggilan kinerja kuartal III SpaceX pada 20 Oktober 2026, seorang analis menanyakan “gorila 800 pon” di ruangan: kemungkinan merger SpaceX dan Tesla. Musk merespons dengan candaan bahwa ia seperti “menari di ladang ranjau”, tetapi tetap memberi detail baru yang selama ini tidak pernah disampaikan seterang itu.
Musk mengatakan SpaceX dan Tesla telah membentuk komite khusus untuk mendiskusikan ide merger, atas permintaan pemegang saham. Komite itu terdiri dari direktur independen, dan Musk menyebut dirinya “pihak yang berkonflik” sehingga tidak ikut dalam pembahasan komite.
Namun, ia tetap memberi sinyal kuat soal preferensinya. “Apakah menurut saya itu ide bagus? Ya,” kata Musk, sambil menekankan bahwa merger bukan kepastian dan menganggap asumsi kepastian itu “berlebihan”. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Reaksi pasar langsung terasa, dengan saham SpaceX naik sekitar 4% di sesi setelah jam bursa. Kenaikan ini terjadi setelah SpaceX melaporkan kinerja kuartal III yang melampaui ekspektasi, sekaligus membukukan belanja modal yang sedikit lebih rendah dari perkiraan.
SpaceX mencatat capex $19,59 miliar dibanding estimasi $19,6 miliar, sementara capex AI $16,44 miliar dibanding estimasi $16,9 miliar. Di saat yang sama, segmen konektivitas Starlink mencetak pendapatan $5,2 miliar, dengan pelanggan naik menjadi 13,6 juta.
Dalam pembaruan lain, presiden SpaceX Gwynne Shotwell menyebut perusahaan kini aktif di 174 pasar, termasuk peluncuran baru di Vietnam dan Uganda. Ia juga mengatakan SpaceX menambah 1,6 juta pelanggan konsumen dalam satu kuartal, sehingga total pelanggan broadband konsumen global mendekati 14 juta.
Di sisi peluncuran, Musk menyatakan Starship Mission 15 akan mencoba menangkap Starship sekaligus boosternya. Ia mengingatkan “kesuksesan tidak dijamin” pada penerbangan awal, tetapi tetap menampilkan simulasi misi sebagai penegasan ambisi teknis SpaceX.
Faktor lain yang menjadi pusat perhatian adalah bisnis komputasi AI SpaceX, yang diposisikan sebagai mesin pertumbuhan baru. CFO SpaceX Bret Johnsen menyebut pendapatan unit SI solutions and infrastructure sebesar $7 miliar, termasuk $608 juta dari akuisisi Cursor yang ditutup pertengahan kuartal.
Johnsen menambahkan bahwa tanpa Cursor pun, pendapatan SI tumbuh 192% secara berurutan, didorong aktivasi perjanjian layanan cloud baru. Ia menyebut permintaan komputasi dari laboratorium AI dan perusahaan lain “luar biasa”, sementara SpaceX membangun pasokan untuk memenuhi kebutuhan internal dan eksternal.
Yang paling menggigit bagi investor adalah ekonomi unit bisnis compute itu sendiri. Johnsen mengatakan pada harga saat ini, deployment compute baru menghasilkan payback kurang dari satu tahun, dengan harga “sedikit di atas” kisaran atas $30–$50 per watt.
Di luar panggilan kinerja, analis Deutsche Bank Edison Yu menyebut “swing factor” terbesar proyeksi 2027 adalah deployment compute. Ia menulis manajemen menargetkan lebih dari 2 GW pada akhir kuartal IV 2026 dan 5–10 GW pada akhir 2027, sementara model Deutsche Bank condong ke kisaran bawah sekitar 6 GW.
Di sisi narasi merger, Ark Invest milik Cathie Wood bahkan sudah menghitung dampak finansial ekstrem. Ark memperkirakan entitas gabungan SpaceX dan Tesla dapat menghasilkan $3,8 triliun penjualan dan $2,7 triliun laba operasi pada 2031, dengan kontribusi SpaceX sekitar 62% penjualan dan 69% laba operasi.
Angka itu kontras dengan ekspektasi konsensus yang lebih “membumi” untuk tahun ini. Data Yahoo Finance yang dikutip dalam artikel menyebut analis Wall Street memperkirakan SpaceX mencetak $43 miliar penjualan tahun ini, sedangkan Tesla sekitar $107 miliar.
Sementara itu, waktu rilis kinerja SpaceX yang mendadak juga memantik spekulasi. Evercore ISI menilai percepatan jadwal bisa terkait kebutuhan menaruh pembaruan finansial menjelang pembiayaan, atau untuk memberi pasar waktu mencerna implikasi jelang pelepasan lock-up besar dalam beberapa hari setelah kinerja. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Merger SpaceX-Tesla bukan sekadar soal “sinergi” yang lazim dijual dalam slide presentasi. Ini adalah pertaruhan tata kelola, karena dua perusahaan publik besar dengan CEO yang sama berpotensi masuk ke transaksi pihak berelasi yang sensitif.
Fakta bahwa Musk menyatakan dirinya tidak ikut pembahasan komite khusus adalah pengakuan implisit bahwa konflik kepentingan nyata. Namun, pasar juga tahu satu hal: ketika Musk mengatakan “ide bagus”, gravitasi narasi sering kali menarik harga saham dan ekspektasi investor ke arah yang sama.
Secara bisnis, logika penggabungan memang bisa dibangun, terutama jika SpaceX benar-benar menjadikan compute AI sebagai pilar baru. Tesla punya arus kas dan ekosistem perangkat keras, sementara SpaceX membawa Starlink, data orbit, serta ambisi pusat data orbital yang bisa menjadi “infrastruktur masa depan”.
Namun, ada sisi gelap dari logika itu, yakni risiko konsentrasi modal dan risiko eksekusi. Capex AI SpaceX yang mencapai belasan miliar dolar per kuartal menunjukkan perlombaan infrastruktur yang mahal, dan merger bisa membuat tekanan investasi itu menular ke neraca gabungan.
Lebih penting lagi, merger dapat mengubah cara investor menilai kedua entitas. Tesla selama ini dinilai sebagai kombinasi otomotif, energi, dan AI robotika, sementara SpaceX dinilai sebagai roket, konektivitas, dan kini compute; penggabungan dapat menciptakan konglomerat yang sulit dipricing, sehingga volatilitas justru meningkat.
Di titik ini, komite independen menjadi pagar minimal, bukan jaminan. Jika merger benar terjadi, pertanyaan publik bukan hanya “berapa valuasinya”, tetapi “siapa yang paling diuntungkan” dan “bagaimana pemegang saham minoritas dilindungi”. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Elon Musk telah melempar batu besar ke kolam pasar: merger SpaceX-Tesla ia sebut bukan kepastian, tetapi ia akui sebagai ide yang baik. Sinyal itu datang bersamaan dengan laporan Starlink yang terus membesar, Starship yang kian agresif, dan bisnis compute AI yang disebut menghasilkan payback kurang dari setahun.
Di balik euforia, merger semacam ini adalah ujian kedewasaan tata kelola di era CEO-superstar. Jika komite independen benar-benar bekerja, publik akan melihat apakah “ide bagus” itu juga “proses yang benar”.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun menentukan: ketika teknologi, modal, dan kekuasaan korporasi dipusatkan dalam satu entitas, apakah inovasi akan melesat lebih cepat, atau justru risiko akan ikut mengorbit tanpa kendali. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)