Takbir Keliling Bali di Tibubeneng, Wisatawan Bule Ikut Menggema

detikTravel

detikTravel

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Takbir keliling Bali di Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, mendadak terasa lintas negara menjelang Iduladha 2026. Seorang warga Jerman bernama Melany alias Sakina ikut mengumandangkan takbir bersama ribuan jamaah di Masjid Al-Hasanah.

Masjid Al-Hasanah berdiri di titik yang unik, dekat kawasan wisata yang ramai oleh turis asing. Karena itu, tradisi takbiran yang biasanya intim di kampung berubah menjadi peristiwa publik yang disaksikan banyak mata.

Rukun Warga Muslim (RWM) Al-Hasanah menyebut takbir keliling dilakukan rutin setiap tahun dengan format sederhana. Namun pada 2026, kerumunan dinilai paling padat, sekaligus paling beragam dari sisi kebangsaan.

Sakina mengaku baru pertama kali mengikuti takbir keliling di Bali, meski sudah empat kali berkunjung ke pulau ini. Ia sedang menempuh gelar master Pendidikan Islam di Malaysia, sehingga pengalaman religius itu baginya bukan sekadar wisata.

Ketua RWM Al-Hasanah, Nur Hasim, menilai lonjakan keramaian tahun ini dipicu antusiasme warga dan kehadiran wisatawan asing yang ikut menikmati suasana. Ia bahkan menyebut Al-Hasanah kerap dijuluki “masjid bule” karena banyaknya orang asing yang datang.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana ruang ibadah di destinasi wisata tidak hanya menjadi tempat ritual, tetapi juga panggung perjumpaan budaya. Takbir keliling yang berakar pada tradisi lokal bergerak menjadi pengalaman bersama, tanpa harus mengubah inti ibadahnya.

Di Bali, pariwisata sering dipahami sebagai industri yang mengubah wajah kampung dan ritme hidup warga. Namun peristiwa di Tibubeneng menunjukkan sisi lain, yakni pariwisata juga membuka peluang “diplomasi sosial” yang berlangsung spontan dan tanpa protokol.

Meski demikian, keramaian semacam ini membawa konsekuensi pengelolaan, dari keamanan arus massa hingga sensitivitas dokumentasi. Tradisi religius mudah tergelincir menjadi tontonan jika komunitas tidak memiliki batas yang jelas.

Data global dari UNWTO menunjukkan pariwisata internasional terus pulih pascapandemi dan kembali mendekati level pra-2020, yang berarti arus turis ke destinasi populer seperti Bali cenderung stabil naik. Di titik ini, komunitas lokal akan semakin sering berhadapan dengan dilema antara keterbukaan dan kekhusyukan.

Kehadiran “bule ikut takbiran” seharusnya tidak dibaca semata sebagai hal unik untuk konten media sosial. Ini adalah sinyal bahwa identitas keagamaan di ruang wisata bisa tampil percaya diri, ramah, dan tetap berdaulat.

Yang perlu dijaga adalah posisi warga sebagai tuan rumah tradisi, bukan objek eksotisasi. Ketika masjid dijuluki “masjid bule”, label itu bisa hangat, tetapi juga berisiko menggeser fokus dari jamaah setempat ke sensasi turis.

Jika perjumpaan ini dikelola dengan etika, ia dapat menjadi pendidikan publik tentang keberagaman Indonesia yang nyata, bukan slogan. Namun jika dibiarkan tanpa rambu, ia bisa melahirkan komersialisasi simbol dan mengikis rasa sakral yang justru menjadi inti Iduladha.

Takbir keliling di Tibubeneng memperlihatkan Bali yang lebih kompleks daripada kartu pos pariwisata, yakni Bali yang juga memiliki denyut komunitas muslim yang hidup dan terbuka. Di tengah gema takbir, ada pelajaran bahwa toleransi sering lahir dari peristiwa sederhana yang dijalani bersama.

Pertanyaannya, apakah kita mampu menjaga agar tradisi tetap menjadi ibadah, sekaligus ruang perjumpaan yang bermartabat. Jika jawabannya iya, maka malam takbiran bukan hanya penanda hari raya, tetapi juga penanda kedewasaan sosial kita.

(Orbit dari berbagai sumber, 3 Juni 2026)