Backrooms dan Obsession Guncang Box Office, Era YouTuber Dimulai
ORBITINDONESIA.COM – Backrooms memimpin box office dan mencetak pembukaan terbesar sepanjang sejarah A24, sementara Obsession justru naik di pekan kedua dan ketiga saat film lain biasanya turun. Dua film dari kreator YouTube ini menyalip gaung waralaba mapan seperti Star Wars, dan Hollywood terlihat sedang memasuki babak baru.
Kane Parsons menjadi raja baru box office lewat Backrooms, adaptasi senilai US$10 juta dari seri film pendek viral YouTube miliknya. Film itu meraih pembukaan US$81,4 juta, sekaligus menjadi pembukaan terbesar dalam sejarah A24.
Pencapaian itu juga membuat Parsons, 20 tahun, menjadi sineas termuda yang pernah memuncaki box office domestik. Ia memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang Josh Trank, yang berusia 27 ketika Chronicle debut di posisi No. 1 pada 2012.
Backrooms diproduksi dan dibiayai bersama Chernin Entertainment, dengan Chiwetel Ejiofor memerankan arsitek gagal yang menemukan rangkaian ruangan tanpa ujung di toko furnitur yang ia kelola. Sekitar 86 persen penonton berusia di bawah 35 tahun, dan lebih dari separuhnya di bawah 25 tahun.
Di saat yang hampir bersamaan, YouTuber lain, Curry Barker, mencuri perhatian lewat Obsession yang menjadi hit kejutan. Film berbiaya US$750 ribu itu kini memasuki pekan ketiga, dan mencetak pola kenaikan yang jarang terjadi di box office modern.
Obsession diperkirakan meraup US$26,4 juta akhir pekan ini, naik 10 persen dari pekan lalu. Pekan sebelumnya, film itu bahkan melompat 39 persen pada pekan kedua dibanding pekan pertama, sebuah anomali yang menantang “gravitasi” box office.
Secara domestik, Obsession diproyeksikan mencapai US$104,7 juta dan berpotensi menjadi film terlaris Focus Features sepanjang masa di Amerika Utara. Secara global, totalnya sudah mencapai US$148 juta.
Gelombang ini terjadi ketika Star Wars: The Mandalorian and Grogu justru terpukul pada pekan kedua. Film itu diperkirakan meraih sekitar US$24 juta, turun sekitar 70 persen, dan finis di posisi ketiga.
Disney mencatat film Star Wars tersebut sudah mengumpulkan US$171 juta secara global, dari anggaran bersih US$165 juta. Namun, pihak internal menekankan efek “pinwheel” terhadap merchandise, taman hiburan, dan Disney+ sebagai kalkulasi di luar box office.
Di jajaran pendatang baru lain, The Breadwinner dari komika Nate Bargatze mengincar posisi kelima dengan US$7,5 juta. Film itu hanya mendapat 32 persen di Rotten Tomatoes, tetapi skor penonton 88 persen dan A- Cinemascore memberi harapan “kaki panjang” lewat word of mouth.
Sementara itu, drama Perang Dunia II Pressure dari Focus, dibintangi Brendan Fraser dan Andrew Scott, mengincar US$5,7 juta untuk posisi ketujuh. Film ini berada di belakang film bertahan The Devil Wears Prada 2.
Catatan redaksi menyebut artikel diperbarui pada 31 Mei pukul 08.14 dengan pendapatan hari Minggu. Koreksi juga dibuat terkait E.T. yang ternyata pekan ketiganya naik dibanding pekan kedua.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)
Backrooms menunjukkan bahwa IP digital bisa melompat dari layar ponsel ke layar bioskop tanpa kehilangan daya tarik massal. Angka pembukaan US$81,4 juta untuk film A24 menandai pergeseran, karena studio yang identik dengan film “prestise” kini memimpin lewat horor-viral.
Komposisi penonton Backrooms memperjelas peta baru pasar. Ketika 86 persen penontonnya di bawah 35 tahun dan mayoritas di bawah 25 tahun, bioskop sebenarnya sedang “dibeli kembali” oleh generasi yang tumbuh bersama YouTube.
Namun, film itu tidak berdiri sendirian sebagai proyek amatir yang kebetulan meledak. Parsons menggandeng tangan-tangan mapan seperti Blumhouse–Atomic Monster dan 21 Laps, yang berarti industri tetap memasang pagar kualitas produksi dan distribusi.
Di sisi lain, Obsession menawarkan pelajaran yang lebih mengganggu bagi logika lama box office. Kenaikan 39 persen di pekan kedua lalu naik lagi 10 persen di pekan ketiga menunjukkan film bisa menjadi “produk sosial” yang tumbuh lewat percakapan, bukan sekadar iklan.
Jika proyeksi US$104,7 juta domestik tercapai, maka film US$750 ribu itu menjadi bukti ekstrem bahwa efisiensi biaya bisa mengalahkan skala. Secara ekonomi, model ini membuat investor lebih berani mengambil risiko pada ide orisinal, karena titik impasnya rendah.
Perbandingan dengan Star Wars memperlihatkan kontras yang tajam. Waralaba raksasa masih mampu mengumpulkan US$171 juta global, tetapi penurunan 70 persen di pekan kedua mengisyaratkan rapuhnya “event status” jika tidak disertai cerita yang memicu urgensi menonton.
Disney benar ketika menyebut film Star Wars punya dampak lintas lini, dari merchandise hingga Disney+. Namun argumen itu juga mengungkap kenyataan: film menjadi bagian dari mesin monetisasi, sehingga kualitas pengalaman bioskop tidak selalu menjadi prioritas tunggal.
Kasus The Breadwinner menambah lapisan lain pada tren ini. Skor kritikus 32 persen berlawanan dengan 88 persen dari penonton, menandakan jurang selera yang makin lebar, dan pemasaran berbasis komunitas bisa menutupi luka ulasan.
Di belakang layar, perhatian Hollywood kepada Curry Barker untuk proyek berikutnya memperlihatkan pola rekrutmen baru. Industri tidak hanya mencari lulusan sekolah film atau asisten sutradara, tetapi juga kreator yang sudah teruji membangun audiens.
Namun, pola ini juga mengandung risiko homogenisasi. Jika semua studio mengejar “viral berikutnya”, maka ruang untuk film yang tumbuh pelan, sunyi, dan tidak mudah diringkas dalam satu premis bisa makin sempit.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)
Kebangkitan Parsons dan Barker terasa seperti momen pergantian penjaga gerbang budaya populer. Mereka tidak sekadar membuat film, tetapi membawa logika internet ke bioskop: cepat, terukur, dan sangat peka terhadap respons audiens.
Yang menarik, kemenangan ini bukan kemenangan “anti-Hollywood” sepenuhnya. Backrooms dan Obsession justru memperlihatkan simbiosis, karena kreator muda memberi energi baru, sementara rumah produksi besar memberi disiplin produksi, jaringan distribusi, dan perlindungan risiko.
Meski begitu, euforia “YouTuber jadi sutradara” sebaiknya tidak dibaca sebagai jaminan kualitas otomatis. Viralitas adalah bahan bakar awal, tetapi daya tahan film tetap ditentukan oleh naskah, ritme, dan keberanian menyusun pengalaman emosional yang utuh.
Star Wars menjadi cermin tentang batas kekuatan merek. Ketika penonton muda punya banyak pilihan yang terasa lebih dekat dengan bahasa mereka, merek sebesar apa pun bisa terdorong ke pinggir jika tidak menawarkan sesuatu yang terasa baru.
Jika tren ini berlanjut, tantangan terbesar industri adalah menjaga keberagaman bentuk, bukan sekadar mengejar angka pembukaan. Bioskop akan hidup bukan karena satu jenis film, melainkan karena penonton percaya selalu ada kejutan yang layak keluar rumah.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)
Backrooms dan Obsession menegaskan bahwa pusat gravitasi box office sedang bergeser ke generasi kreator yang lahir dari platform digital. Angka-angkanya keras, tetapi pesan yang lebih keras adalah ini: audiens muda kini memilih cerita yang terasa “milik mereka”.
Pertanyaannya, apakah Hollywood akan belajar merawat orisinalitas, atau hanya menambang viralitas sampai habis. Jika bioskop ingin bertahan sebagai ruang bersama, ia perlu lebih sering memberi alasan yang jujur untuk datang, bukan sekadar mengandalkan nama besar.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)