Betrand Peto Kaget Video Viral Sarwendah, Konflik Ruben Onsu Memanas

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Betrand Peto mengaku kaget melihat video viral Sarwendah mengucapkan kata kasar saat live. Video Sarwendah itu menyeret konflik Ruben Onsu ke ruang publik, dari Threads hingga isu nafkah anak dan harta gono-gini.

Dalam pernyataannya di Senayan, Betrand menyebut dirinya menangis setelah melihat cuplikan yang beredar luas. Ia mempertanyakan mengapa Sarwendah bisa berkata “setega itu” di depan kamera.

Betrand menilai situasi semestinya bisa dicegah jika siaran langsung dihentikan ketika emosi tak terkendali. Ia menegaskan, mematikan live adalah rem paling sederhana untuk mencegah konflik membesar.

Namun ia menolak masuk terlalu jauh ke inti perseteruan Sarwendah dan Ruben Onsu. Ia menyebut keduanya sudah menempuh jalur hukum dengan kuasa hukum masing-masing.

Video viral Sarwendah memperlihatkan bagaimana satu momen emosional dapat berubah menjadi “bukti sosial” yang diperdebatkan massal. Di era algoritma, kemarahan yang terekam sering lebih cepat menyebar daripada klarifikasi.

Konflik ini tidak berdiri sendiri karena publik sudah lebih dulu mengikuti sindir-menyindir di Threads. Setelah isu nafkah anak, perhatian bergeser ke harta gono-gini dan rumah yang disebut dijadikan jaminan pinjaman.

Dalam kasus keluarga figur publik, tema “rumah” dan “nafkah” selalu memantik emosi kolektif karena menyentuh rasa aman anak. Itulah sebabnya narasi cepat berubah dari gosip menjadi penghakiman, meski rincian legal belum terang.

Pernyataan Betrand tentang “matikan live” adalah kritik teknis sekaligus etis. Ia mengingatkan bahwa fitur siaran langsung bukan ruang privat, melainkan panggung yang merekam setiap retakan relasi.

Secara psikologis, live memberi ilusi kedekatan yang mendorong orang bicara tanpa filter. Ketika emosi memuncak, penonton bukan lagi audiens, melainkan “juri” yang menafsirkan potongan adegan.

Kompas.com mengutip Betrand berkata, “Kaget, aku kaget. Aku nangis kemarin.” Kutipan ini menempatkan Betrand sebagai saksi internal yang terdampak, bukan sekadar komentator.

Di sisi lain, ia juga berkata, “Kalau aku untuk itu kan sudah jalur hukum.” Kalimat itu menandai batas yang jarang dipasang tegas di tengah ekonomi perhatian.

Kasus video viral Sarwendah menunjukkan bahwa konflik keluarga selebritas kini diproduksi ganda, oleh pihak yang berseteru dan oleh mekanisme platform. Ketika satu pihak terpancing emosi, platform mengubahnya menjadi komoditas yang sulit ditarik kembali.

Betrand tampak memilih posisi aman sebagai anak, mendukung dua pihak sekaligus. Sikap ini terdengar normatif, tetapi justru penting sebagai penyeimbang di tengah polarisasi warganet.

Namun publik juga perlu jujur bahwa “menonton” konflik adalah bagian dari masalah. Setiap klik dan unggahan ulang memperpanjang usia pertengkaran, sekaligus menekan pihak-pihak yang sedang rapuh.

Jika benar rumah menjadi jaminan pinjaman, isu itu semestinya diuji melalui dokumen dan proses hukum, bukan asumsi. Tanpa verifikasi, simpati berubah menjadi vonis, dan anak-anak menjadi korban kedua setelah orangtuanya.

Di titik ini, nasihat “matikan live” bukan sekadar saran teknis, melainkan disiplin emosional. Ia mengajak publik melihat bahwa keberanian paling sulit kadang bukan membalas, tetapi berhenti.

Video viral Sarwendah dan konflik Ruben Onsu memperlihatkan betapa cepat ruang digital mengubah emosi menjadi peristiwa nasional. Betrand Peto memilih menangis, menahan komentar, dan menyerahkan sengketa pada jalur hukum.

Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang benar, tetapi siapa yang diuntungkan dari keributan yang terus diputar ulang. Mungkin kita perlu belajar bahwa mematikan live, dan mematikan hasrat menghakimi, sama-sama bentuk perlindungan. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juni 2026)