Self-Care Active Lifestyle: Lavojoy Run dan Tren Personal Care
ORBITINDONESIA.COM – Self-care active lifestyle kini bukan sekadar me time, melainkan strategi menjaga tubuh tetap nyaman di tengah tren lari dan wellness yang kian massal. Lavojoy Run di GBK Jakarta, yang melibatkan sekitar 500 peserta, menandai bagaimana personal care dipaketkan sebagai bagian dari rutinitas olahraga dan aktivitas luar ruang.
Gaya hidup perkotaan bergerak cepat, dan olahraga seperti running, gym, serta pilates makin menjadi identitas sosial. Aktivitas fisik tidak lagi hanya soal kebugaran, tetapi juga soal komunitas, eksistensi, dan koneksi.
Perubahan ini menggeser makna personal care dari “perawatan setelah capek” menjadi “perlindungan sebelum dan selama aktivitas.” Sunscreen, perawatan rambut, dan kenyamanan kulit kepala masuk ke daftar kebutuhan yang terasa mendesak ketika mobilitas meningkat.
Lavojoy membaca pergeseran itu setelah empat tahun hadir di Indonesia, lalu memosisikan diri sebagai active lifestyle self-care brand. Brand Director lavojoy Indonesia, Dickson Leo, menyebut ekspansi dari body dan hair care ke sunscreen wajah sebagai respons atas tren tersebut.
Acara lavojoy Run: A Celebration of Fun to Lifestyle di Plaza Sudirman, GBK, meramu fun run 5K dengan pengalaman personal care. Setelah finis, peserta diarahkan ke Pit Stop of Joy yang berisi express hair wash, styling station, dan product trial.
Strateginya jelas: mengunci momen ketika orang paling sadar akan tubuhnya, yaitu saat berkeringat dan selesai berolahraga. Dalam bahasa pemasaran, ini mengubah personal care dari produk “di rumah” menjadi layanan “di titik aktivitas.”
Fenomena ini sejalan dengan meledaknya ekonomi wellness global yang diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Global Wellness Institute pernah menempatkan wellness economy bernilai triliunan dolar AS, dan segmen personal care menjadi salah satu penopangnya karena bersinggungan langsung dengan kebiasaan harian.
Namun ada detail yang lebih penting daripada angka, yaitu perubahan psikologi konsumen. Ketika olahraga menjadi gaya hidup, produk perawatan ikut naik kelas menjadi “perlengkapan wajib,” setara botol minum atau sepatu lari.
Lavojoy memanfaatkan logika itu dengan memperluas lini dari rambut dan tubuh ke perlindungan wajah. Sunscreen diposisikan bukan sebagai kosmetik, melainkan perangkat proteksi untuk aktivitas luar ruang yang intens.
Rangkaian acara sore seperti Zumba bersama Fithub dan Sunset Mat Pilates bersama Re Bar Pilates memperkuat narasi “self-care sebagai ekosistem.” Personal care tidak berdiri sendiri, tetapi ditautkan ke olahraga, komunitas, dan pengalaman bersama.
Di sisi lain, tren ini juga memunculkan pertanyaan tentang batas antara kebutuhan dan dorongan konsumsi. Ketika self-care dipentaskan dalam event, ia berpotensi bergeser dari praktik merawat diri menjadi ritual sosial yang menuntut partisipasi.
Gagasan self-care active lifestyle terdengar progresif karena menempatkan perawatan diri sebagai bagian dari kesehatan preventif. Leo bahkan menegaskan bahwa personal care dapat membantu orang tetap nyaman dan percaya diri dalam aktivitas harian.
Namun, ada risiko ketika self-care terlalu dekat dengan logika performance, yaitu tubuh diperlakukan seperti proyek yang harus selalu “siap tampil.” Dalam konteks ini, rasa percaya diri bisa berubah menjadi ketergantungan pada produk, bukan pada kebiasaan sehat yang paling dasar.
Event seperti lavojoy Run menunjukkan kecerdasan brand dalam membaca budaya komunitas. Tetapi masyarakat juga perlu cermat membedakan mana kebutuhan fungsional, mana yang sekadar simbol status gaya hidup.
Self-care yang sehat seharusnya menambah otonomi, bukan menambah tekanan sosial. Jika perawatan diri membuat orang merasa tertinggal ketika tidak membeli atau tidak ikut tren, maka maknanya sudah bergeser.
Di titik terbaiknya, personal care memang bisa menjadi “jembatan” agar orang konsisten berolahraga dan menjaga diri. Di titik terburuknya, ia bisa menjadi pintu masuk konsumsi berulang yang dibungkus narasi wellness.
Perayaan empat tahun lavojoy memperlihatkan satu hal yang tak terbantahkan: self-care kini dikonstruksi sebagai bagian dari gaya hidup aktif, bukan sesi memanjakan diri sesekali. Lari, pilates, dan sunscreen berada dalam satu panggung yang sama, yaitu panggung kebiasaan baru.
Pertanyaannya bukan apakah tren ini baik atau buruk, melainkan siapa yang mengendalikan maknanya. Apakah self-care kita lahir dari kebutuhan tubuh, atau dari tuntutan untuk selalu terlihat “siap” di mata komunitas?
Jika self-care benar-benar cinta diri, maka ukurannya sederhana: membuat hidup lebih sehat, lebih tenang, dan lebih manusiawi. Selebihnya, biarkan kita jujur menimbang, apakah yang kita kejar adalah kesehatan, atau sekadar citra sehat. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)