Foto Terbaru Paus Leo XIV Usai Operasi Kanker Paru

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Foto terbaru Paus Leo XIV usai operasi kanker paru dirilis Vatikan, memperlihatkan ia memimpin Misa di Kapel kecil Rumah Sakit Gemelli, Roma. Di tengah pemulihan, Paus berusia 71 tahun itu tetap menyapa dunia lewat liturgi, telepon diplomatik, dan rencana kunjungan Amerika Selatan yang belum dicabut.

Vatikan merilis foto-foto baru pada Jumat yang menunjukkan Paus Leo XIV, kelahiran Amerika, berdiri di altar dengan busana hijau dan merayakan Misa di Gemelli Hospital. Ini adalah foto pertama sejak operasi, ketika sebagian paru kanan Paus diangkat dan ia didiagnosis kanker paru pada pekan yang sama.

Juru bicara Vatikan Matteo Bruni menyatakan Paus memimpin liturgi seorang diri, membagikan Komuni kepada tenaga medis dan gendarmerie Vatikan, serta menyampaikan homili. Dalam homilinya, Leo berterima kasih kepada tenaga medis atas pelayanan dan kedekatan mereka kepada orang-orang yang rapuh, termasuk cara mereka merawat dirinya.

Menurut keterangan Vatikan, Paus diperkirakan tetap dirawat di Gemelli hingga 20 Oktober. Pada Kamis, ia mulai kembali melakukan “sedikit aktivitas kerja,” termasuk membaca dokumen, ikut konselebrasi Misa, dan bertemu Uskup Agung Paolo Rudelli, wakil sekretaris negara.

Paket narasi yang dibangun Vatikan tampak jelas: pemulihan medis ditampilkan berdampingan dengan fungsi rohani dan fungsi kenegaraan. Foto Misa di rumah sakit bukan sekadar dokumentasi, melainkan sinyal stabilitas kepemimpinan di saat publik bertanya tentang daya tahan fisik seorang Paus dengan diagnosis kanker.

Pembaruan medis Jumat menyebut tes mengonfirmasi “perbaikan yang stabil,” dan pemulihan pascaoperasi memungkinkan Paus menjalankan aktivitas harian secara mandiri. Pernyataan itu ditandatangani dokter pribadi Paus, Dr. Luigi Carbone, dan kepala bedah toraks Gemelli, Dr. Stefano Margaritora, yang memperkuat bobot informasinya.

Namun, “mandiri” tidak otomatis berarti “siap beban global” yang melekat pada takhta Petrus. Agenda Paus mencakup ritme liturgi harian, pengambilan keputusan kurial, serta diplomasi krisis, dan masing-masing punya tuntutan berbeda terhadap stamina.

Di hari yang sama, Vatikan menyatakan Leo berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Paus menyampaikan “keprihatinan mendalam” atas situasi kemanusiaan di Oleshky, Ukraina, dan menyerukan gencatan senjata agar bantuan pangan dan medis bisa didistribusikan serta evakuasi warga sipil berlangsung aman.

Telepon itu mengirim pesan ganda: Paus tetap hadir dalam isu perang, sekaligus Vatikan mempertahankan jalur dialog. Kalimat resmi, “Takhta Suci menegaskan komitmen memajukan dialog dan perdamaian,” menandai pola diplomasi Vatikan yang memilih akses komunikasi ketimbang retorika yang memutus pintu.

Di internal gereja, Leo juga bertemu Kardinal Luis Antonio Tagle selaku dekan Dewan Kardinal, serta Kardinal Baldassare Reina, vikaris jenderal Keuskupan Roma. Pertemuan ini penting karena menunjukkan roda pemerintahan gereja tidak berhenti, dan koordinasi tetap berjalan meski pusatnya berada di kamar rumah sakit.

Vatikan menyebut Leo akan tampil pertama kali di depan publik pada Minggu untuk doa tengah hari tradisional. Preseden yang disebutkan adalah para Paus sebelumnya yang membacakan Angelus dari balkon lantai 10 Gemelli, sebuah panggung kecil yang sering menjadi barometer kondisi kesehatan pontifeks.

Isu paling sensitif adalah rencana perjalanan ke Amerika Selatan pada 6–17 November ke Uruguay, Argentina, dan Peru. Vatikan memang bisa mengubah rencana kapan saja, tetapi publikasi daftar jurnalis terakreditasi untuk terbang bersama Paus memberi sinyal organisatoris bahwa mesin kunjungan belum dimatikan.

Di ruang rawat, sisi manusiawi mengimbangi sisi institusional lewat surat-surat penyemangat dari pasien onkologi anak Gemelli. Angelo, 7 tahun, menulis bahwa ia sudah 36 hari di lantai 10, dan ia serta ibunya berdoa setiap malam agar Paus lekas sembuh.

Giorgia, mahasiswa, menulis dalam bahasa Inggris bahwa ia merasa “seribu kali lebih berat” mendengar kabar Paus karena mereka “dalam beberapa hal menjalani hal yang sama.” Ia meminta Paus turut mendoakannya, dan korespondensi ini memperlihatkan bagaimana sakit bisa memotong jarak antara figur global dan individu yang rapuh.

Rilis foto dan update medis memperlihatkan strategi komunikasi yang disiplin: cukup transparan untuk meredam spekulasi, namun tetap menjaga martabat lembaga. Dalam era informasi cepat, kekosongan kabar sering diisi rumor, sehingga satu foto Misa bisa lebih efektif daripada seribu bantahan.

Tetapi ada risiko ketika simbol keteguhan dipaksa menanggung beban ekspektasi. Publik cenderung membaca “Paus memimpin Misa” sebagai “Paus sudah pulih,” padahal pemulihan kanker dan pascaoperasi paru adalah proses bertahap yang tidak selalu linier.

Di sisi lain, keputusan tetap menelepon Putin menunjukkan Vatikan tidak menunggu “sembuh total” untuk menjalankan peran moralnya. Pertanyaannya, seberapa jauh diplomasi telepon dapat mengubah dinamika lapangan, dan kapan seruan gencatan senjata berubah dari kata-kata menjadi tekanan nyata.

Rencana perjalanan Amerika Selatan menjadi ujian berikutnya. Jika tetap berjalan, itu akan dibaca sebagai pernyataan ketahanan; jika dibatalkan, itu akan dibaca sebagai pengakuan keterbatasan, meski keputusan medis seharusnya tidak ditafsirkan politis.

Surat-surat pasien kanker justru memberi lensa paling jujur: Paus bukan hanya pemimpin, ia juga sesama pasien yang sedang berjuang. Dalam ruang perawatan, hierarki melembut, dan doa menjadi bahasa yang setara antara anak berusia tujuh tahun dan seorang kepala negara Vatikan.

Foto terbaru Paus Leo XIV usai operasi kanker paru menampilkan sebuah paradoks yang akrab bagi pemimpin spiritual: tubuh rapuh, tetapi peran menuntut tetap hadir. Dari altar kecil Gemelli hingga panggilan tentang Oleshky, Vatikan sedang mengelola pesan bahwa kepemimpinan masih berjalan, meski langkahnya lebih pelan.

Pada akhirnya, pertanyaan penting bukan hanya kapan Paus pulang dari rumah sakit, melainkan bagaimana Gereja membaca batas manusiawi seorang Paus tanpa kehilangan arah misi. Jika doa Angelus dari balkon Gemelli menjadi penanda, publik mungkin diingatkan bahwa kekuatan moral sering lahir justru ketika kelemahan diakui.

(Orbit dari berbagai sumber, 20 Oktober 2026)