Perombakan Eksekutif Puma dan Calvin Klein: Strategi Baru Global
ORBITINDONESIA.COM – Perombakan eksekutif Puma dan Calvin Klein kembali menegaskan satu hal: perebutan pangsa pasar global kini ditentukan oleh siapa yang memegang kendali komersial dan produk. Puma menunjuk Arne Arens sebagai chief commercial officer, sementara Calvin Klein merekrut Ayub Mohamed sebagai chief product officer.
Di Puma, penunjukan Arens terjadi bersamaan dengan perubahan struktur pengawasan setelah Anta Sports mengambil alih saham Artémis. Di Calvin Klein, penunjukan Mohamed memperlihatkan dorongan PVH untuk merapikan strategi desain dan merchandising lintas kategori.
Dua langkah ini tampak teknis, tetapi sebenarnya politis dan strategis. Kursi komersial dan kursi produk adalah dua tuas yang paling menentukan arah merek di tengah perlambatan konsumsi dan kompetisi yang makin padat.
Puma menyatakan Arne Arens akan bergabung 15 November dan memimpin organisasi komersial global serta strategi marketplace. Mandatnya mencakup penjualan di semua kanal dan pasar, sebuah sinyal bahwa Puma ingin mengunci eksekusi ritel, wholesale, dan digital dalam satu komando.
Puma CEO Arthur Hoeld menilai Arens punya kombinasi keahlian komersial, insight konsumen, dan kepemimpinan merek, serta akan membantu target menjadi tiga besar merek olahraga dunia. Rekam jejak Arens di Nike, The North Face, dan Boardriders memperkuat narasi bahwa Puma mengimpor disiplin eksekusi dari pemain mapan.
Perubahan di ruang dewan juga tidak kalah menentukan. Dennis Tao dipilih sebagai ketua supervisory board setelah pengangkatannya sebagai direktur efektif 21 Oktober, dan Jeanne Huang ikut masuk ke dewan.
Tao memimpin M&A dan capital markets di Anta Sports, serta pernah duduk di dewan Amer Sports pada 2019 hingga 2026 menurut laporan. Huang adalah CEO Pipa International dan pernah menjadi SVP Anta brand, serta menghabiskan lebih dari dua dekade di Nike.
Transisi itu menutup bab lama ketika Héloïse Temple-Boyer mengakhiri masa jabatan setelah penjualan saham Artémis ke ANTA rampung awal bulan ini. Jean-Marc Duplaix juga mundur sebagai wakil ketua dan ketua komite audit, mengisyaratkan pergeseran pusat gravitasi tata kelola.
Di Calvin Klein, Ayub Mohamed akan mulai 25 Januari dan memimpin organisasi global design dan merchandising, melapor kepada global brand president David Savman. Ia datang dari Lacoste sebagai EVP of product, posisi yang membawahi desain, merchandising, dan pengembangan produk global.
Karier Mohamed memperlihatkan spesialisasi yang jarang: ia menguasai luxury, contemporary, hingga sportswear. Ia pernah menjadi chief merchandising officer di Kenzo, bekerja di Tory Burch dan Tory Sport, serta memegang posisi senior di Donna Karan, DKNY, dan Givenchy.
Pengalaman hampir delapan tahun di Levi Strauss & Co. juga penting karena Levi kuat di disiplin kategori dan skala operasi. Kombinasi ini membuat Calvin Klein seperti sedang mencari figur yang bisa menyatukan estetika merek dengan ketepatan komersial, bukan sekadar membuat koleksi yang bagus di runway.
Perombakan eksekutif Puma dan Calvin Klein menunjukkan satu tren yang kian jelas: jabatan komersial dan produk menjadi pusat strategi, mengalahkan romantisme kreatif semata. Merek besar kini bertaruh pada integrasi end-to-end, dari insight konsumen sampai distribusi, karena kesalahan kecil di stok, harga, atau kanal bisa menggerus margin dengan cepat.
Di Puma, masuknya figur kunci Anta ke supervisory board bisa dibaca sebagai konsolidasi kendali setelah akuisisi saham, bukan sekadar formalitas. Tata kelola yang bergeser ke pemilik baru sering kali mempercepat keputusan, tetapi juga berisiko menyempitkan ruang independensi jika pengawasan terlalu dekat dengan agenda pemegang saham.
Di Calvin Klein, perekrutan dari Lacoste menandakan kebutuhan akan ketertiban produk dan konsistensi merchandising global. Tantangannya adalah menjaga DNA Calvin Klein tetap tajam, karena strategi produk yang terlalu aman bisa menghasilkan koleksi rapi namun kehilangan daya guncang budaya.
Jika perombakan eksekutif Puma dan Calvin Klein berhasil, publik mungkin tidak langsung melihatnya dalam bentuk slogan baru, tetapi dalam produk yang lebih tepat, distribusi yang lebih rapi, dan narasi merek yang lebih konsisten. Jika gagal, kursi baru hanya akan menjadi rotasi nama tanpa perubahan struktur yang nyata.
Pertanyaannya sederhana namun menentukan: ketika perusahaan makin dikelola seperti mesin efisiensi, apakah merek masih punya ruang untuk berani dan relevan secara kultural. Di titik itulah, keputusan HR berubah menjadi keputusan tentang masa depan identitas sebuah brand. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Oktober 2026)