Rekor Perjalanan Libur AS Meski Harga BBM dan Tiket Naik

ORBITINDONESIA.COM – Rekor perjalanan libur di Amerika Serikat terjadi saat harga BBM dan tiket pesawat melonjak, namun jalan tol dan bandara tetap penuh. AAA memproyeksikan 45 juta orang bepergian akhir pekan ini, naik dari rekor tahun lalu 44,8 juta.

Di Interstate 80, El Cerrito, California, arus kendaraan pada 21 Mei 2026 menjadi potret kepadatan yang lebih luas. Orang Amerika tetap mengemudi atau terbang setidaknya 50 mil dari rumah, meski biaya perjalanan lebih mahal dibanding tahun lalu.

Kenaikan harga terasa di dua titik paling sensitif, yakni tiket pesawat dan bensin. Menurut estimasi situs pemesanan Kayak dan data maskapai besar, tarif pesawat naik lebih dari 20% dibanding tahun lalu.

Harga bensin rata-rata nasional mencapai US$4,55 per galon pada Jumat menjelang akhir pekan libur. Angka itu naik US$1,38 dari tahun lalu, dan melonjak 53% sejak awal perang Iran.

Namun, dorongan untuk “tetap berangkat” tampaknya lebih kuat dari rasa sakit di dompet. James Smith, misalnya, membayar US$550 untuk terbang dari New Mexico ke Newark, New Jersey, demi liburan bersama teman di Jersey shore.

“Kalau soal perjalanan, itu salah satu hal yang akan saya jadikan hadiah untuk diri sendiri,” kata Smith kepada CNN. Kalimat sederhana itu menjelaskan mengapa rekor bisa tercipta di tengah inflasi perjalanan.

Fenomena ini bukan anomali tunggal, melainkan pola yang berulang saat harga energi naik. Adam Sacks, Presiden Tourism Economics (Oxford Economics), menyebut ada jurang antara perasaan dan tindakan konsumen.

“Data survei menunjukkan ada banyak kekhawatiran tentang harga bensin,” katanya kepada CNN. “Tapi ada keterputusan antara bagaimana orang merasa dan bagaimana mereka bertindak.”

Secara historis, lonjakan harga bensin seperti pada 2022 tidak otomatis menurunkan perjalanan wisata atau bisnis tanpa faktor lain yang ikut menekan. Ini mengisyaratkan bahwa permintaan perjalanan bersifat “lengket” karena terkait identitas, relasi sosial, dan ritus keluarga.

Di sisi lain, siapa yang paling terpukul sering kali memang bukan kelompok yang rutin bepergian. Sacks menegaskan lebih dari setengah belanja hotel untuk wisata berasal dari orang berpenghasilan US$150.000 atau lebih.

Artinya, agregat angka perjalanan bisa tetap naik walau banyak rumah tangga menengah ke bawah menahan diri. Rekor 45 juta pelancong tidak otomatis berarti semua orang “baik-baik saja,” melainkan bisa mencerminkan dominasi konsumsi kelompok mapan.

Meski demikian, ada sinyal pelemahan pada sektor tertentu, terutama hotel. Laura Lee Blake, CEO Asian American Hotel Owners Association yang menaungi 20.000 anggota pemilik sekitar 60% hotel di AS, melihat potensi perubahan perilaku menginap.

“Pelancong mungkin melewati menginap semalam untuk menghemat uang,” katanya kepada CNN. Mereka bisa memilih mampir ke keluarga di perjalanan, atau tinggal di rumah teman alih-alih memesan hotel.

Di level mikro, strategi penghematan terlihat jelas pada keluarga Frantz Simon. Mereka mengemudi 12 jam dari Long Island ke Georgia untuk kelulusan SMA cucunya, tetapi memilih tancap gas satu hari dan menginap di rumah keluarga.

Di kawasan wisata pun, pemangkasan terjadi tanpa membatalkan perjalanan. Connie Lear, pengelola reservasi 42 unit sewa dekat pintu masuk Yosemite, mengatakan penyewa rutin tetap datang, tetapi durasinya dipendekkan.

“Alih-alih tujuh hari, mereka melakukan lima atau empat,” kata Lear. Ini menunjukkan penyesuaian bukan pada keputusan berangkat, melainkan pada lama tinggal dan komponen belanja.

Kelompok lain beradaptasi lewat “substitusi destinasi” agar biaya tetap masuk akal. John Mercagliano membatalkan rencana liburan ke London karena mahal, lalu memakai miles American Airlines untuk terbang ke Arizona menemui teman yang sama.

“Saya mempertimbangkannya (tidak bepergian sama sekali), tapi saya ingin bertemu mereka, dan saya tidak mau tidak melakukan apa-apa,” ujarnya. Kalimat ini menegaskan bahwa perjalanan kini diperlakukan sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar konsumsi rekreasi.

Rekor perjalanan libur AS di tengah mahalnya BBM dan tiket pesawat memantulkan ketimpangan yang bekerja secara senyap. Ketika kelompok berpendapatan tinggi tetap melaju, statistik nasional bisa tampak optimistis, padahal banyak orang lain memilih absen atau menekan pengeluaran.

Di sinilah angka 45 juta perlu dibaca sebagai indikator daya tahan segmen tertentu, bukan kesehatan ekonomi yang merata. Jika harga bensin naik 53% sejak awal perang Iran, maka biaya mobilitas berubah menjadi “pajak tak kasat mata” yang paling berat bagi pekerja bergaji pas-pasan.

Namun, cerita Smith dan Mercagliano juga memperlihatkan sesuatu yang sulit diukur oleh inflasi, yakni nilai sosial dari perjalanan. Orang rela memangkas hotel, memendekkan durasi, atau mengubah destinasi, asalkan hubungan dan momen penting tetap terjaga.

Pasar pun tampaknya menyesuaikan ke arah perjalanan yang lebih hemat, lebih singkat, dan lebih bergantung pada jaringan keluarga atau teman. Konsekuensinya, sektor hotel kelas menengah bisa merasakan tekanan lebih dulu dibanding maskapai atau tol yang diuntungkan oleh volume.

Pertanyaannya, sampai kapan “keterputusan” antara keluhan dan perilaku ini bertahan. Jika biaya terus meningkat, adaptasi kecil bisa berubah menjadi pembatalan massal, terutama ketika tabungan menipis dan utang kartu kredit meningkat.

Amerika sedang menunjukkan paradoks perjalanan, yakni rekor mobilitas di tengah biaya yang makin menggigit. Orang tetap berangkat, tetapi dengan cara yang lebih taktis, lebih singkat, dan lebih banyak mengandalkan solidaritas sosial.

Rekor bukan hanya soal angka, melainkan cermin siapa yang mampu bergerak dan siapa yang tertahan. Pada akhirnya, ketika perjalanan menjadi “hadiah untuk diri sendiri,” kita perlu bertanya, apakah hadiah itu akan tetap terjangkau bagi semakin banyak orang, atau hanya bagi mereka yang memang sejak awal punya ruang bernapas lebih luas.

(Orbit dari berbagai sumber, 26 Mei 2026)