Silaturahmi di Era Digital: Makna, Dalil, dan Krisis Empati

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Silaturahmi di era digital kerap dipuji sebagai jalan menjaga persaudaraan, tetapi praktiknya sering tereduksi menjadi sekadar klik dan reaksi cepat. Di tengah banjir notifikasi, banyak orang merasa “terhubung” namun makin sulit benar-benar hadir untuk keluarga, sahabat, dan tetangga.

Silaturahmi adalah nilai penting dalam Islam yang menekankan menjaga hubungan baik antarmanusia, terutama keluarga dan kerabat. Dalam bahasa Arab, ia berasal dari shilah (sambungan) dan rahim (kekerabatan), yang menegaskan tugas merawat ikatan, bukan sekadar mengaku memilikinya.

Masalahnya, pola interaksi modern mengubah cara orang memaknai kedekatan. Pertemuan fisik berkurang, percakapan mendalam menipis, dan relasi sering dipertukarkan dengan pembaruan status atau pesan singkat.

Di ruang sosial yang makin kompleks, silaturahmi juga diuji oleh polarisasi dan kelelahan informasi. Hubungan yang dulu dipererat oleh kunjungan kini mudah retak oleh salah paham di grup percakapan.

Al-Qur’an mengingatkan agar manusia menjaga hubungan kekeluargaan, salah satunya dalam Surah An-Nisa ayat 1. Pesan ini menempatkan silaturahmi sebagai fondasi etika sosial, bukan ritual musiman.

Surah Muhammad ayat 22–23 memberi peringatan keras tentang dampak memutus tali silaturahmi karena memicu kerusakan sosial. Ini menegaskan bahwa keretakan relasi bukan sekadar urusan pribadi, tetapi berpotensi menjadi masalah publik.

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyebut silaturahmi berkaitan dengan kelapangan rezeki dan panjang umur. Dalam pembacaan modern, “rezeki” bisa dimaknai sebagai akses, dukungan, dan peluang yang lahir dari jaringan sosial yang sehat.

Data global menunjukkan komunikasi digital meningkat, tetapi kualitas relasi tidak otomatis ikut membaik. Laporan “Digital 2024” dari We Are Social dan Meltwater mencatat pengguna internet dunia menghabiskan rata-rata lebih dari 6 jam per hari online, namun waktu itu banyak terserap untuk konsumsi konten, bukan percakapan bermakna.

Di titik ini, silaturahmi menghadapi paradoks besar: kanal komunikasi makin banyak, tetapi kesabaran untuk mendengar makin sedikit. Akibatnya, hubungan berubah menjadi transaksi atensi, bukan pertukaran kepedulian.

Silaturahmi juga memiliki dimensi sosial yang konkret, yaitu membangun kepercayaan dan kerja sama di keluarga, kampus, dan masyarakat. Ketika kepercayaan runtuh, yang tersisa hanyalah formalitas: datang saat perlu, menghilang saat diminta hadir.

Media digital sebenarnya bisa menjadi jembatan, bukan pengganti. Namun ia menuntut adab baru, seperti klarifikasi sebelum menghakimi dan empati sebelum menyebarkan.

Silaturahmi sering dipersempit menjadi agenda seremonial, padahal intinya adalah merawat sambungan yang rapuh. Ukurannya bukan seberapa sering menyapa, tetapi seberapa sungguh menjaga kehormatan, menolong saat sempit, dan memaafkan saat terluka.

Di era digital, tantangan terbesarnya adalah ilusi kedekatan. Kita merasa sudah “menunaikan” silaturahmi dengan emoji dan komentar, padahal yang dibutuhkan orang terdekat sering kali adalah waktu dan perhatian.

Silaturahmi juga menuntut keberanian moral untuk menahan diri dari pemutusan hubungan yang impulsif. Memblokir mungkin menyelesaikan konflik di layar, tetapi tidak selalu menyembuhkan luka di dunia nyata.

Kritiknya sederhana: banyak orang merayakan dalil silaturahmi, tetapi enggan membayar biayanya. Biaya itu bernama kerendahan hati, kesediaan meminta maaf, dan kesanggupan datang ketika tidak nyaman.

Jika silaturahmi dipahami sebagai ibadah, maka ia tidak boleh tunduk pada suasana hati atau kepentingan sesaat. Ia harus menjadi disiplin sosial yang melatih empati, bukan sekadar identitas religius.

Silaturahmi di era digital tetap relevan karena ia mengikat dimensi spiritual dan sosial sekaligus. Al-Qur’an dan hadits menempatkannya sebagai jalan menjaga persatuan, mencegah kerusakan, dan menghadirkan keberkahan dalam hidup.

Namun relevansi itu hanya hidup bila silaturahmi dipraktikkan sebagai tindakan nyata, bukan simbol komunikasi. Pertanyaannya, kapan terakhir kali kita benar-benar hadir untuk seseorang tanpa tergesa dan tanpa layar di antara kita.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)