Drakor Sageuk The Scandal Netflix 2026: Romansa, Kuasa, Manipulasi

Beautynesia

Beautynesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Drakor sageuk The Scandal Netflix 2026 datang dengan janji romansa yang tidak manis, melainkan licin dan politis. Serial ini menempatkan permainan rayuan sebagai mesin cerita, dengan Son Ye Jin, Ji Chang Wook, dan Nana sebagai porosnya.

Di tengah banjir konten Korea di platform global, The Scandal menonjol karena menjadikan manipulasi sebagai bahasa cinta. Pertanyaannya sederhana tetapi tajam: ketika cinta dipakai sebagai alat, siapa yang sebenarnya menang.

The Scandal digambarkan sebagai drama Korea sageuk bergenre romantis, tetapi premisnya lebih dekat ke intrik sosial ketimbang kisah takdir. Madam Cho, perempuan cerdas di era Joseon, merasa hidupnya tertahan oleh batasan yang menempel pada tubuh perempuan.

Ia lalu membuat kesepakatan dengan Cho Won, pria menawan yang tidak percaya cinta dan menikmati relasi tanpa komitmen. Target permainan mereka adalah Hui Yeon, perempuan yang menjalani hidup sendiri selama 20 tahun setelah ditinggal suami.

Netflix menjadwalkan penayangan perdana pada Jumat, 18 September 2026, dengan akses eksklusif seluruh episode di platform tersebut. Strategi rilis ini memperkuat pola “sekali habis” yang membuat diskusi publik meledak cepat, lalu cepat pula bergeser.

Secara naratif, The Scandal menjual ketegangan dari tiga pusat hasrat: ambisi Madam Cho, nihilisme romantik Cho Won, dan ketahanan batin Hui Yeon. Ini membuat konflik tidak sekadar “siapa bersama siapa”, tetapi “siapa menguasai siapa”.

Tokoh Madam Cho menarik karena ia tidak diposisikan sebagai korban pasif, melainkan aktor yang merancang permainan rahasia. Namun, di titik ini pula jebakan muncul: emansipasi bisa direduksi menjadi kecerdikan memanipulasi, bukan perubahan struktur yang menindas.

Cho Won dipresentasikan sebagai playboy karismatik yang menganggap cinta sekadar hiburan. Karakter seperti ini lazim dalam romansa modern, tetapi di latar Joseon ia menjadi metafora kelas dan gender, karena kebebasan seksual dan sosial sering kali lebih mudah diakses laki-laki.

Hui Yeon adalah medan paling rawan, karena ia dijadikan “target” dan sekaligus kemungkinan titik balik moral cerita. Ketika ia mulai goyah, penonton akan dipaksa menilai: apakah itu kebangkitan hasrat yang sah, atau hasil rekayasa yang menyamar sebagai kehangatan.

Secara industri, Netflix memanfaatkan daya tarik bintang untuk mengunci perhatian global, terutama dengan kembalinya Son Ye Jin ke proyek sageuk setelah jeda panjang yang ramai diperbincangkan media hiburan. Kombinasi star power dan premise “permainan rayuan” adalah formula yang mudah diklip, diperdebatkan, dan dipasarkan.

Tren ini sejalan dengan pola konten streaming yang mengutamakan hook cepat dan konflik relasi yang intens. Dalam ekosistem semacam itu, romansa sering diperlakukan seperti thriller psikologis, karena ketegangan emosional lebih mudah memicu binge-watching.

The Scandal berpotensi menjadi cermin tentang bagaimana patriarki bekerja bukan hanya lewat larangan, tetapi lewat negosiasi dan kompromi yang tampak elegan. Madam Cho tampak berkuasa, tetapi ia tetap bermain di papan yang aturannya dibuat untuk menguntungkan laki-laki dan status.

Kesepakatan “rayuan demi keuntungan” juga menguji batas etika penonton. Banyak drama meminta kita memaafkan manipulasi karena pelakunya cantik, karismatik, atau terluka, padahal tipu daya tetaplah tipu daya.

Di sisi lain, drama ini bisa dibaca sebagai kritik terhadap romantisasi kontrol dalam kisah cinta. Jika penonton dibuat ikut bersorak saat strategi berhasil, itu mengungkap selera zaman yang semakin terbiasa melihat relasi sebagai transaksi.

Kekuatan The Scandal akan ditentukan oleh keberaniannya memberi konsekuensi, bukan sekadar twist. Jika semua diakhiri dengan “cinta menyembuhkan segalanya”, maka intriknya berubah menjadi kosmetik yang menutupi kekerasan psikologis.

Namun bila Hui Yeon diberi agensi penuh untuk menamai luka, menolak permainan, atau membalikkan situasi, drama ini bisa melampaui label romansa. Ia dapat menjadi komentar tentang harga diri, kesepian, dan cara perempuan dipaksa memilih antara reputasi dan kebahagiaan.

Drakor sageuk The Scandal Netflix 2026 menjanjikan romansa yang menggoda sekaligus mengganggu, karena cinta diperlakukan sebagai strategi. Di balik kostum era Joseon, ia berbicara tentang sesuatu yang sangat modern: relasi yang sering dibangun di atas kuasa.

Penonton akhirnya akan berhadapan dengan pertanyaan yang tidak nyaman tetapi penting. Jika sebuah hubungan dimulai dari manipulasi, apakah akhir yang indah cukup untuk membenarkannya.

(Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)