Travis Knight dan Film Stop-Motion Wildwood: Laika Melawan Arus AI

The Hollywood Reporter

The Hollywood Reporter

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Travis Knight menutup 231 minggu produksi film stop-motion Wildwood dengan perasaan yang tidak romantis: depresi kecil setelah perang panjang. Sutradara sekaligus bos studio Laika itu menyebut proyek ini “bagian dari hidup saya selama lebih dari setengah karier,” dan kini harus beralih ke tugas yang paling ia tidak nyaman: menjual filmnya.

Knight datang dari London ke Beverly Hills setelah merampungkan pascaproduksi Wildwood, proyek yang digarap sekitar lima tahun dengan lebih dari 1.000 pekerja. Film ini dijadwalkan rilis bioskop pada 23 Oktober melalui Fathom, sementara Laika menanggung pemasaran sendiri.

Laika dikenal lewat stop-motion buatan tangan seperti Coraline dan Kubo and the Two Strings, dengan biaya lebih kecil dibanding Pixar atau Illumination namun tetap meraih nominasi Oscar. Knight menyebut Wildwood sebagai film termahal Laika, tetapi menolak mengungkap angka anggarannya.

Wildwood diadaptasi dari novel fantasi Colin Meloy (2011) oleh penulis tetap Laika, Chris Butler. Ceritanya mengikuti Prue, remaja di Portland, Oregon, yang masuk hutan terkutuk untuk menyelamatkan adik bayinya yang diculik.

Skalanya dibuat nyaris berlebihan untuk ukuran stop-motion. Produksi melibatkan 233 boneka buatan tangan, ratusan ribu wajah pengganti, 132 set praktis, serta 728 pohon mini dari 10 spesies khas Pacific Northwest.

Keputusan Laika memilih rilis teater penuh adalah taruhan yang makin langka di era streaming. Knight menolak arah “segalanya berakhir di streaming,” karena menurutnya film ini butuh perlakuan berbeda agar bernapas sebagai pengalaman layar lebar.

Secara bisnis, risikonya nyata karena proyeksi pendapatan akhir pekan pembuka disebut berada “di kisaran belasan juta dolar,” tipikal film Laika yang mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Knight menyebut strategi ini “eksperimen besar” dan mengakui, “kami bisa jatuh tersungkur.”

Secara artistik, Wildwood menjual sesuatu yang sulit diduplikasi cepat: kerja tangan yang terlihat. Knight menegaskan, “Anda benar-benar melihat seseorang membujuk hidup keluar dari sesuatu dengan tangan mereka,” dan itu menjadi identitas filmnya.

Detail teknisnya juga menegaskan ambisi sinematik, bukan sekadar kerajinan. Adegan klimaks saja memuat lebih dari 400 shot, sementara sinematografer Caleb Deschanel—enam kali nominasi Oscar—menyebut ia bisa berpindah dari adegan pertama ke adegan perang terakhir dalam satu hari, tergantung kesiapan set dan boneka.

Namun kontrol penuh selalu punya sisi gelap, yakni beban kerja yang memanjang dan biaya yang membengkak. Laika memproduksi selama 16 tahun “banyak pertempuran fiksi” untuk sampai ke titik ini, dan angka 231 minggu produksi menjadi simbol bahwa stop-motion adalah industri yang sengaja melawan efisiensi.

Di tengah gelombang AI, posisi Knight lebih keras daripada sekadar preferensi estetika. Ia menyebut AI “bertentangan dengan semua yang saya perjuangkan,” sebuah pernyataan yang sekaligus menempatkan Laika sebagai oposisi budaya terhadap arus “solusi cepat” Hollywood.

Faktor eksternal pun ikut memengaruhi nasib film. Rating PG-13 dari MPA—tidak lazim untuk animasi—disebut dipicu antara lain oleh kadar darah, dan Knight mengaku “tidak suka” dengan keputusan itu meski tidak terkejut.

Kisah Travis Knight adalah paradoks Amerika modern: anak pendiri Nike, tetapi memilih jalur seni yang lambat dan mahal. Ia tidak menampik label “nepo baby,” namun menolak label sebagai alat untuk mengurangi kemanusiaan orang lain, dan mengklaim pekerjaannya tetap didorong cinta pada medium.

Kontroversi asal-usul Laika dari Will Vinton Studios juga meninggalkan bayang-bayang etika. Knight menyebut narasi yang menuduh ayahnya “memanipulasi” pengambilalihan sebagai tidak akurat, tetapi ia juga enggan membuka detail, sehingga ruang abu-abu publik tidak pernah benar-benar tertutup.

Di sisi lain, argumen “menyelamatkan komunitas” punya bobot historis. Vinton Studios memang kolaps secara finansial menurut pengakuan Knight, dan tanpa suntikan modal, ekosistem animator stop-motion Oregon bisa lenyap sebelum sempat beregenerasi.

Yang menarik, Knight bukan hanya ideolog seni, ia juga operator yang membaca pasar. Ia pernah membuktikan diri di live-action lewat Bumblebee yang meraup lebih dari empat kali lipat anggaran, lalu memimpin Masters of the Universe berbiaya sekitar 170 juta dolar untuk Amazon MGM.

Kasus Masters of the Universe memperlihatkan pergeseran metrik sukses. Film itu hanya meraih 113 juta dolar box office global, tetapi kemudian melonjak di Prime Video dengan lebih dari 1 miliar menit ditonton pada pekan pertama, dan Knight mengaku pahit karena teater terasa bukan prioritas.

Dari sini, Wildwood bisa dibaca sebagai perlawanan yang terukur, bukan nostalgia kosong. Knight ingin membuktikan masih ada ruang bagi karya buatan tangan yang rumit, bahkan ketika industri memuja kecepatan, otomatisasi, dan konten yang mudah diproduksi ulang.

Dalam kalimat paling sinis sekaligus puitis, Knight membayangkan dunia ketika “Skynet terbentuk” dan manusia tersisa, namun Laika tetap “mengaduk mentega dan membuat film dari jendela pembuat jam.” Itu bukan sekadar lelucon, melainkan manifesto bahwa seni yang dibuat lambat adalah bentuk keberanian.

Pertanyaannya bukan hanya apakah Wildwood menang di box office, melainkan apakah penonton masih mau memberi waktu pada karya yang menuntut perhatian. Jika film ini berhasil, ia bisa menjadi bukti bahwa masa depan animasi tidak harus sepenuhnya diserahkan pada mesin. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)