Talkshow Hubungan Sehat dan Toxic di Yogyakarta, Anak Muda Diminta Peka

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Talkshow hubungan sehat dan toxic di Yogyakarta kembali menegaskan satu hal: banyak anak muda bertahan di relasi yang melukai karena tidak mengenali tandanya. Rumah Pembinaan Carolus Borromeus (RPCB) Syantikara bersama Dejavu Agency menggelar diskusi “Stay or Run? Kenali Tanda Hubungan Sehat & Toxic” pada Minggu, 7 Juni 2026, untuk membongkar pola yang sering dianggap “normal”.

Isu hubungan sehat dan toxic tidak lagi terbatas pada pacaran, tetapi merembet ke pertemanan, keluarga, hingga komunitas. Dalam ruang sosial yang serba cepat, batas antara kepedulian dan kontrol sering kabur, lalu dibenarkan sebagai bentuk cinta atau loyalitas.

RPCB Syantikara dan Dejavu Agency membaca kegelisahan itu sebagai fenomena yang dekat dengan keseharian generasi muda. “Kami menyusun tema ini, karena memang fenomena sosial di sekitar kita anak muda banyak yang berada dalam hubungan dan lingkungan yang toxic,” kata Elvira Beleza, Managing Director Dejavu Agency.

Talkshow ini menghadirkan Panca Satriadi, Youth Speaker dari ZEAL Community Jogja, sebagai pemantik refleksi. Ia mengajak peserta mengenali ciri relasi sehat, alasan orang bertahan, dan langkah membangun relasi yang lebih bertanggung jawab.

Format talkshow dan tanya jawab memperlihatkan bahwa masalah relasi bukan isu pinggiran, melainkan kebutuhan literasi emosional yang mendesak. Antusiasme peserta dalam diskusi menunjukkan banyak kasus yang selama ini hanya dipendam karena takut dinilai lemah atau “baper”.

Secara konsep, relasi sehat ditandai rasa aman, respek, dan batas yang disepakati bersama, sedangkan relasi toxic cenderung memelihara rasa bersalah, takut, dan ketergantungan. Dalam praktiknya, toxic sering tampil halus melalui gaslighting, silent treatment, atau kontrol yang dibungkus perhatian.

Data global menguatkan urgensi edukasi ini, meski konteks lokal tetap perlu dibaca kritis. WHO mencatat sekitar 1 dari 3 perempuan di dunia mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan intim atau non-pasangan sepanjang hidupnya, yang memperlihatkan relasi tidak sehat punya spektrum serius dari verbal hingga kekerasan.

Di ruang anak muda, persoalannya sering dimulai dari hal yang tampak sepele, seperti akses kata sandi, pelacakan lokasi, atau larangan berteman. Ketika pola itu dibiarkan, relasi berubah menjadi sistem pengawasan yang menggerus otonomi dan kesehatan mental.

Talkshow seperti di RPCB Syantikara bekerja sebagai “peta” untuk membaca tanda bahaya lebih dini. Namun peta saja tidak cukup bila lingkungan sosial masih memuliakan relasi posesif sebagai bukti cinta, atau menganggap putus hubungan sebagai kegagalan personal.

Yang paling mengkhawatirkan dari relasi toxic adalah kemampuannya menyamar sebagai kedekatan. Anak muda sering terjebak bukan karena kurang pintar, melainkan karena norma sosial menekan mereka untuk tetap bertahan demi citra, gengsi, atau rasa “sudah terlanjur”.

Di sinilah talkshow “Stay or Run?” menjadi lebih dari agenda edukasi, karena ia menggeser pertanyaan dari “siapa yang salah” menjadi “apa yang sehat”. Pertanyaan itu penting agar keputusan bertahan atau pergi tidak didikte rasa takut, tetapi dipandu kesadaran dan batas yang jelas.

Meski demikian, pendekatan edukasi perlu menolak simplifikasi yang mengubah semua konflik menjadi label toxic. Relasi sehat tetap bisa berkonflik, tetapi konflik tidak boleh berubah menjadi manipulasi, ancaman, atau kekerasan yang berulang.

RPCB Syantikara juga menawarkan diri sebagai ruang pembinaan bagi sekolah dan komunitas, dari seminar hingga retret, yang bisa memperluas dampak literasi relasi. Namun tantangan berikutnya adalah memastikan percakapan ini tidak berhenti di ruangan acara, melainkan masuk ke kurikulum hidup sehari-hari.

Talkshow hubungan sehat dan toxic di Yogyakarta ini menegaskan bahwa relasi adalah keterampilan, bukan sekadar perasaan. Anak muda perlu alat baca yang jernih untuk membedakan cinta yang menumbuhkan dari kedekatan yang mengikis diri.

Pada akhirnya, pertanyaan “stay or run” bukan soal dramatisasi, melainkan soal martabat dan keselamatan psikologis. Jika sebuah hubungan membuat seseorang terus mengecil, mungkin yang dibutuhkan bukan lebih banyak pembuktian, melainkan keberanian untuk memilih sehat. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)