Trump Desak Zelensky Damai dengan Rusia, Hubungan AS-Ukraina Memanas
ORBITINDONESIA.COM – Trump desak Zelensky membuat kesepakatan dengan Rusia, sambil mengklaim Ukraina seharusnya bisa berdamai sejak dua tahun lalu. Pernyataan di Ruang Oval itu menandai babak baru ketegangan AS-Ukraina, ketika Washington terlihat semakin memberi ruang bagi Moskow.
Di Ruang Oval, Donald Trump menyatakan Zelensky “harus memiliki keinginan untuk membuat kesepakatan” karena rakyat Ukraina “tidak akan tahan lagi” dengan perang. Ia bahkan menegaskan Zelensky seharusnya dapat membuat kesepakatan “dua tahun lalu” saat mereka berbincang singkat.
Pernyataan itu muncul setelah hubungan Kyiv-Washington memburuk, terutama sejak Trump mencabut sebagian sanksi kepada Rusia demi kesepakatan pasokan diesel. Ketegangan juga dipicu kritik Trump yang menyebut Zelensky sebagai “penghasut perang” setelah serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia.
Konfrontasi terbuka sebelumnya sempat terjadi pada Februari 2025, ketika Trump, JD Vance, dan Zelensky terlibat adu argumen sengit di Ruang Oval. Adegan yang disiarkan televisi itu menjadi simbol retaknya kepercayaan politik di antara sekutu yang dulu tampak solid.
Dalam diplomasi perang, desakan “segera berunding” sering terdengar masuk akal, tetapi detailnya menentukan apakah itu jalan damai atau jalan menyerah. Trump tidak menjelaskan parameter kesepakatan, sementara Rusia selama ini menuntut konsesi wilayah dan penataan keamanan yang dapat mengunci masa depan Ukraina.
Trump juga mengaitkan pendekatan barunya dengan isu sandera, dengan menyebut telah meminta Vladimir Putin membebaskan Stephen Hubbard, warga Amerika yang ditawan pasukan Moskow. Ia berkata kepada wartawan, “Saya telah berbicara panjang lebar dengannya” dan meminta pembebasan itu, sembari menambahkan klaim, “Saya melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain.”
Langkah ini memperlihatkan pola negosiasi transaksional, yaitu menukar tekanan geopolitik dengan capaian yang bisa dijual sebagai kemenangan domestik. Dalam politik AS, isu warga negara yang ditahan memang punya daya emosional tinggi dan kerap menjadi amunisi kampanye.
Di sisi lain, Zelensky mencoba meredakan ketegangan melalui jalur komunikasi dengan utusan Trump, Steve Witkoff, di Oslo. Kyiv menyambut dimulainya kembali pertukaran intelijen AS terkait ancaman serangan Rusia, tetapi menegaskan Ukraina harus dilibatkan dalam setiap pembicaraan tentang nasibnya.
Di titik ini, kata kunci “perundingan” menjadi arena perebutan makna, bukan sekadar proses diplomatik. Jika pembicaraan dilakukan tanpa posisi tawar Ukraina, maka itu lebih dekat ke diktat, bukan kesepakatan.
Secara historis, perang jarang berhenti hanya karena satu pihak diminta “lebih ingin damai.” Perang berhenti ketika biaya perang melampaui manfaat, atau ketika struktur jaminan keamanan pascaperang dianggap kredibel oleh semua pihak.
Trump tampak ingin menggeser narasi: dari “membantu Ukraina bertahan” menjadi “memaksa Ukraina berkompromi.” Pergeseran ini bukan hanya soal strategi luar negeri, tetapi juga soal siapa yang dipersalahkan ketika perang tak kunjung usai.
Dengan menyiratkan bahwa Zelensky “bisa membuat kesepakatan dua tahun lalu,” Trump menempatkan beban moral pada Kyiv, bukan pada agresi Moskow. Ini tajam secara retorika, namun berisiko mengaburkan fakta bahwa invasi Rusia adalah pemicu utama perang.
Di saat yang sama, sikap hangat terhadap Putin memberi sinyal bahwa Washington mungkin sedang menegosiasikan ulang prioritasnya. Bagi Rusia, sinyal seperti ini bisa dibaca sebagai peluang untuk mengunci keuntungan di medan perang lewat meja perundingan.
Bagi Ukraina, dilema itu brutal: bertahan dengan dukungan yang makin bersyarat, atau menerima “kesepakatan” yang mungkin mengorbankan kedaulatan jangka panjang. Dalam kondisi seperti ini, permintaan Kyiv agar dilibatkan dalam setiap pembicaraan bukan sekadar formalitas, melainkan garis pertahanan terakhir.
Trump desak Zelensky damai dengan Rusia terdengar seperti solusi cepat, tetapi damai yang dipaksakan sering melahirkan perang berikutnya. Jika perdamaian tidak dibangun di atas jaminan keamanan dan keadilan minimum, maka ia hanya jeda sebelum krisis baru.
Pertanyaan yang tersisa sederhana namun menentukan: apakah Washington sedang mencari akhir perang, atau sekadar akhir keterlibatan. Dan jika yang dicari hanya jalan keluar politik, siapa yang harus membayar harga paling mahal untuk “kesepakatan” itu.
(Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)