Eksoplanet LHS 1140b: Atmosfer Helium di Planet Layak Huni
ORBITINDONESIA.COM – Eksoplanet LHS 1140b kembali menggeser batas harapan pencarian planet layak huni, setelah astronom melaporkan indikasi kuat adanya atmosfer kaya helium. Temuan ini penting karena atmosfer adalah syarat kunci agar air cair dan iklim stabil bisa bertahan di sebuah planet berbatu.
Dalam definisi paling praktis, planet yang ramah bagi kehidupan—setidaknya seperti yang dipahami manusia—harus berbatu, bersuhu pas untuk air cair, dan memiliki atmosfer. Pada Kamis, tim astronom mengumumkan dunia yang memenuhi tiga ciri itu: LHS 1140b, beberapa puluh tahun cahaya dari Tata Surya.
Collin Cherubim, ilmuwan planet yang baru meraih doktor dari Harvard, menegaskan batasnya: “Saat ini, kami sama sekali tidak punya bukti adanya kehidupan di planet itu.” Namun ia menambahkan, “kami pikir semua bahan penting dan esensialnya ada.”
LHS 1140b pertama kali ditemukan pada 2017 dan berada di zona laik huni bintangnya, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin untuk air cair di permukaan. Planet ini lebih dingin dari Bumi, tetapi lebih besar dalam ukuran dan massa.
Data baru yang dipublikasikan di jurnal Science menyiratkan LHS 1140b memiliki atmosfer kaya helium. Ini disebut sebagai bukti paling jelas sejauh ini bahwa planet berbatu yang berpotensi laik huni dapat memiliki atmosfer, bukan hanya raksasa gas.
Atmosfer berperan menahan air, mengatur iklim, dan melindungi permukaan dari radiasi antariksa. Selama ini, atmosfer pada planet raksasa relatif mudah dideteksi, sementara pada planet berbatu lebih sulit sehingga statusnya sering menggantung.
Cherubim menyebut temuan ini sebagai “ya” yang tegas untuk pertanyaan besar itu. Ia membangun model teoretis bertahun-tahun tentang bagaimana atmosfer planet berbatu bekerja, termasuk bagaimana unsur ringan seperti helium bisa lebih mudah lolos ke angkasa.
Menariknya, LHS 1140b mengorbit bintang katai merah, tipe bintang paling umum di galaksi. Katai merah memudahkan deteksi planet berbatu karena ukurannya kecil dan lebih redup, tetapi sering memancarkan flare radiasi yang dapat mengikis atmosfer planet terdekat.
Bintang induk LHS 1140b dinilai lebih tenang dibanding katai merah tipikal, sehingga disebut “unggulan” untuk menguji kelayakhunian. Pada 2024, tim mengamati transit LHS 1140b dari Observatorium Las Campanas di Chile dan menemukan spesies helium pada ketinggian tinggi, tanda helium sedang lolos dari atmosfer yang sulit dilihat.
Sara Seager, astrofisikawan MIT yang tidak terlibat studi, menyebut deteksi itu “indah” dan menegaskan “tidak ada penjelasan lain.” Ia juga memberi konteks yang menggugah: “Ketika ada satu, ada lebih banyak di eksoplanet,” seraya berharap ini menjadi awal fase baru.
Namun pada 2025, saat pengamatan transit diulang, tim justru gagal menemukan tanda helium yang lolos. Shreyas Vissapragada dari Carnegie Observatories, salah satu penulis studi, menyebutnya “kejutan besar” tetapi “tidak sepenuhnya tak terduga,” karena variasi helium juga pernah terlihat pada atmosfer raksasa gas.
Di sini letak dramanya: untuk pertama kalinya, fenomena perubahan sinyal helium terjadi pada eksoplanet berbatu. Vissapragada merangkum sensasinya, “Kami sedang menyaksikan atmosfer planet yang dalam banyak hal mirip Bumi berubah secara real time.”
Meski sering dicap “mirip Bumi,” LHS 1140b berbeda secara fundamental. Ia mengitari bintangnya kurang dari 25 hari, terkunci pasang surut sehingga selalu memperlihatkan sisi yang sama, dan atmosfernya kemungkinan didominasi helium alih-alih nitrogen seperti Bumi.
Perbedaan itu memaksa publik mengoreksi imajinasi populer tentang “Bumi kedua.” Bahkan jika air cair mungkin ada, ritme iklim dan distribusi panasnya bisa ekstrem, sehingga konsep “layak huni” menjadi spektrum, bukan label hitam-putih.
Soal kemungkinan hidup, bukti langsung belum ada, tetapi eksperimen memberi petunjuk. Pada 2020, tim peneliti yang dipimpin Seager melaporkan ragi dan E. coli dapat bertahan dalam atmosfer helium murni, mengisyaratkan bahwa helium tidak otomatis mematikan bagi mikroba tertentu.
Temuan atmosfer pada LHS 1140b menunjukkan sains bergerak dari sekadar “menemukan titik” menjadi “membaca karakter” sebuah dunia. Perburuan kehidupan kini bukan hanya soal jarak dan ukuran, melainkan soal kimia atmosfer, radiasi bintang, dan stabilitas jangka panjang.
Namun ada risiko narasi: setiap kabar “planet laik huni” mudah berubah menjadi euforia yang melampaui datanya. Cherubim sendiri sudah memberi pagar, bahwa belum ada bukti kehidupan, dan itulah disiplin yang harus dijaga media dan pembaca.
Di sisi lain, variabilitas helium antara 2024 dan 2025 justru menguatkan pentingnya observasi berulang. Jika atmosfer bisa tampak “bernapas” secara periodik, maka satu kali deteksi tidak cukup untuk menyimpulkan kondisi iklim, apalagi kelayakhunian biologis.
Yang paling tajam dari kisah ini adalah perubahan fokus: kita tidak hanya mencari “planet yang mirip Bumi,” tetapi juga belajar apa yang membuat Bumi tetap stabil. LHS 1140b menjadi cermin asing yang memaksa kita mengukur ulang betapa rapuhnya keseimbangan atmosfer di planet rumah.
LHS 1140b kini masuk katalog kecil dunia berbatu yang menggoda, tempat para ilmuwan suatu hari mungkin menemukan tanda kehidupan. Vissapragada menyebut deteksi atmosfer ini sebagai “batu loncatan” menuju kemampuan mengkarakterisasi eksoplanet yang benar-benar mirip Bumi.
Pada akhirnya, pencarian ini bukan sekadar kompetisi menemukan alamat baru, melainkan upaya memahami mengapa Bumi bisa menjadi rumah. Jika atmosfer sebuah planet bisa berubah di depan mata kita, pertanyaannya menjadi lebih manusiawi: seberapa lama rumah kita sendiri akan tetap ramah jika keseimbangannya terganggu? (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)